Minggu, 24 Januari 2010

Alexander Solzhenitsyn, Ikon Perlawanan di Era Uni Soviet


SELURUH Rusia berkabung, Senin (4/8), setelah Stepan Solzhenitsyn mengumumkan kematian ayahnya, Alexander Isayevich Solzhenitsyn, pada usia 89 tahun. ”Dia masih bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Namun, saat malam, kematian datang sangat cepat. Saya bersedih. Saya akan sangat menghargai siapa pun yang mengenang momen ini, mengenang Solzhenitsyn,” ujar Stepan di televisi Vesti-24, Minggu malam.

Tak kurang, pemimpin Uni Soviet terakhir, Mikhail Gorbachev, berkomentar. Solzhenitsyn telah membantu mengenyahkan Stalinisme dengan mengubah pandangan jutaan orang lewat tulisan-tulisannya soal rezim yang tidak manusiawi. ”Dia berjuang sampai akhir dan membuahkan sebuah demokrasi di Rusia,” ujar Gorbachev.

”Sebuah kehilangan besar bagi Rusia. Kita mengenang dia sebagai orang yang kuat, berani, dengan martabat luar biasa,” ujar Perdana Menteri Vladimir Putin dalam ucapan dukanya. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy juga menghormati Solzhenitsyn sebagai seorang tokoh terbesar Rusia abad XX.

Solzhenitsyn menjadi ikon perlawanan pada era Uni Soviet. Lahir tahun 1918 di Kislovodsk, Kaukasus, setahun setelah Revolusi Komunis, Solzhenitsyn aslinya sangat komunis. Namun, dia dipenjara selama delapan tahun di kamp kerja tahun 1945 karena mengkritik Joseph Stalin lewat ”surat kepada teman”.

Dia baru dibebaskan Februari 1953, sepekan sebelum Stalin meninggal. Selanjutnya, lebih dari tiga tahun dia lewati pengasingan di Kazakhstan (masih wilayah Uni Soviet) sebelum balik lagi ke Rusia sebagai guru.

Namanya mulai dikenal tahun 1962 saat diterbitkan buku Solzhenitsyn, One Day in the Life of Ivan Denisovich atas izin Nikita Khrushchev, pengganti Stalin. Novel pendek yang mendeskripsikan kehidupan seorang tahanan dalam kamp kerja paksa Gulag ini membawa perubahan besar di Soviet. Tetapi, Leonid Brezhnev yang muncul di Kremlin melarang semua tulisan Solzhenitsyn. Warga Rusia hanya bisa membaca sembunyi-sembunyi.

Tahun 1968, muncul buku lainnya, Cancer Ward dan The First Circle. Buku-buku ini muncul di Barat. Tak boleh beredar di Soviet. Risiko berat jika ada yang memilikinya.

Nama Solzhenitsyn melejit saat menerima Nobel Kesusastraan 1970. Tapi, dia menolak ke Swedia menerima hadiah karena takut dilarang balik lagi ke Soviet. Solzhenitsyn lantas merampungkan buku soal potret kamp kerja paksa, The Gulag Archipelago, yang menyajikan informasi dari 227 mantan tahanan di sana.

Manuskrip buku ini diketahui Kremlin. Bos dinas rahasia KGB, Yury Andropov, tahun 1974 mengusir Solzhenitsyn. Dia melewatkan waktu sebentar di Swiss sebelum ke Vermont, AS. Di sebuah dusun yang terpencil, dia menghasilkan Red Wheel, sebuah fiksi sejarah yang memunculkan revolusi Soviet. Buku Gulag Archipelago baru terbit tahun 1989 di bawah Gorbachev.

Runtuhnya Soviet tahun 1991 memungkinkan Solzhenitsyn pulang ke Rusia tahun 1994. Acara yang spektakuler. Dia menemukan Rusia yang tak ubahnya di AS, sorotan kamera televisi praktis di mana-mana. Rusia yang sudah berubah. Dan, tahun lalu di Kremlin, Presiden Rusia Vladimir Putin menganugerahi Solzhenitsyn Bintang Negara. Penghargaan tertinggi Rusia bagi warganya yang penuh pengabdian kepada tanah airnya.

Bagi Gorbachev dan banyak warga usia lanjut Rusia, Solzhenitsyn sebuah contoh, ikon perlawanan. ”Seperti jutaan lainnya, Solzhenitsyn hidup pada waktu-waktu yang keras. Dia bicara soal orang-orang yang punya pengalaman berat itu, tetapi tidak putus asa,” ujar Gorbachev.

Tetapi, tidak bagi kebanyakan anak muda Rusia. ”Orang lahir dan mati. Maaf saja soal berita kematian ini,” ujar Andrei Dryomov (24), warga Moskwa, saat ditanya apakah dia memahami soal kematian Solzhenitsyn. ”Saya tak kenal siapa dia,” ujar Masha, seorang remaja putri. Warga Rusia separuh baya masih paham soal Solzhenitsyn.

Nasib Solzhenitsyn tidak ubahnya para tokoh di negara lain. Lenyap bersama berlalunya waktu.

Tidak ada komentar: