Senin, 25 Januari 2010

ASOV OVER MIG ALLEY








Perang Korea (1950-1953) masih menyisakan pertanyaan mengenai keterlibatan Red Airforce dalam perang tiga tahun ini. Meskipun eksistensinya sering disangkal, Uni Soviet menempatkan resimen tempur yang berisi personil udara jagoan, bergabung satu poros dengan Cina dan Korea Utara. Dan mereka ini menambah hingar-bingarnya perang udara dalam usaha mendominasi "The MiG Alley".

MiG15vsSabre

Kecurigaan para pilot PBB dimulai ketika mereka merasakan sendiri bagaimana pilot-pilot MiG-15 itu bertempur. Berbeda dengan lainnya (baca: pilot Cina atau Korea Utara) yang lebih mementingkan kuantitas, MiG-15 ini bertempur dengan manuver dan taktik yang sangat baik.
Salah satu pertemuan mengesankan adalah tanggal 24 Juni 1951 yang sekaligus menimbulkan tanda tanya besar bagi Kolonel Bruce Hinton. Saat itu ia tengah berusaha menolong pilot Sabre lainnya yang sedang diburu sebuah MiG-15 di ketinggian 30,000 feet. Hinton bahkan sempat melihat beberapa kepingan besar pecah akibat kanon 37 mm yang berhasil mengenai Sabre yang dipiloti Kolonel Glen Eagleston. Tanpa berpikir lama, ia segera terbang menolong.
Biasanya ia berhasil mengejutkan musuh dengan manuver dadakannya tetapi entah kenapa kali ini tidak. Pilot MiG-15 melihat Hinton, langsung melepaskan buruannya dan secara tidak terduga melakukan head on pass. MiG itu berhadapan dengan Sabre dengan kecepatan tinggi dan sampai sekarang Hinton masih mengingat bahwa mereka nyaris bertubrukan hanya dengan selisih 15 yards ! Kaget karena keberanian yang tidak diduga-duga itu, Hinton segera mengarahkan segala daya upaya untuk menembaknya.
Berdua mereka melakukan manuver tempur yang nyaris seimbang. Setelah melakukan sebuah manuver melingkar disertai dua kali low yo-yo Hinton akhirnya berhasil menyerempetkan peluru 12.7 mm ke arah MiG. Ternyata selain memiliki skill tinggi, pilot MiG itu pintar karena tahu kapan harus berhenti bertempur. MiG segera melarikan diri dengan melewati sungai Yalu sebelum Hinton berhasil menembaknya jatuh.
Hinton mendarat bersama Eagleston di pangkalan udara Suwon, Korea Selatan. Eagleston melakukan belly landing dan Sabre-nya tidak bisa terselamatkan karena rusak sangat parah. Padahal Eagleston saat itu merupakan komandan elite 4th Fighter Wing dan ace perang dunia II dengan 18.5 angka kemenangan / kills plus dua MiG-15 yang didapatnya enam bulan yang lalu. Berarti musuhnya itu berhasil menjatuhkan salah satu pilot jagoan. Hinton sendiri dikenal sebagai pilot Sabre pertama yang berhasil menembak MiG-15 dan untuk pertama kali pula sebuah mangsa berhasil lolos. Artinya dua pilot papan atas Amerika dipecundangi pada hari itu !

Sutyagin
Kehebatan dogfight Capt. Nikolai V. Sutyagin (kiri) menimbulkan pertanyaan besar bagi Kolonel Bruce Hinton apakah benar pilot AU Soviet terlibat dalam perang udara Korea. Deretan MiG-15 (kanan) dengan personil asal Soviet tapi beridentitas Korea Utara di Andung.

Dalam kesaksiannya Hinton menyebut pilot MiG itu benar-benar luar biasa dan tanpa ragu-ragu ia menyebut taktik dan manuver hebat yang dilakukan pilot MiG itu setara dengan apa yang pernah dilakukan The Red Baron, Manfred von Richthofen ! Hinton sangat yakin bahwa identitasnya bukan orang Oriental. Dan dia benar. Pilot itu bernama Kapten Nikolai Vasilievich Sutyagin anggota resimen tempur 17 IAP dari divisi tempur 303 IAD, Voyenno Vozdushnye Sily / VVS, Angkatan Udara Uni Soviet. Eagleston merupakan korban keempat dari pilot berumur 28 tahun ini. Dua hari berikutnya Sutyagin memperoleh gelar "Asov" (bahasa Rusia untuk Ace) setelah menembak jatuh F-80C Shooting Star sekaligus menewaskan pilot Bob Lauterbach. Ini merupakan awal karir yang gemilang bagi Sutyagin karena sebagai pilot veteran perang Korea, ia memperoleh angka kemenangan 21 kills, sementara ace Amerika paling top, Joseph McConnell Jr. "hanya" memperoleh 16 kills saja.
Jadi apakah sejarah harus direvisi ulang karena McConnell telah gagal menjadi Ace of Ace Korea ?

Pedang dan Perisai
Keikutsertaan AU Soviet secara rahasia dimulai dengan menempatkan sebuah korps tempur 64 IAK yang membawahi divisi tempur 324 IAD, masing-masing berisi dua resimen /skuadron 176 IAP dan 196 IAP di pangkalan udara Andung, Manchuria yang total berjumlah 36 unit MiG-15 bulan April-Mei 1951. Kuantitas yang kecil jika dibandingkan PBB yang telah menempatkan 700 pesawat combat dari berbagai jenis. Meski kecil tapi jangan salah, semuanya veteran dan banyak diantaranya telah menjadi Asov Perang Dunia II, bahkan komandan divisi tempur 324 IAD adalah Kolonel Ivan "The Terrible" Kozhedub peraih 3 kali medali keberanian tertinggi Hero of Soviet Union, Asov terbesar Uni Soviet dengan 62 kills atas pesawat Jerman.
Pemburu MiG-15 bertahap bertambah menjadi 200 unit bulan Oktober seiring bergabungnya divisi tempur baru 303 IAD dan menjelang berakhirnya perang Juli 1953 menjadi 300 unit MiG-15 (Cina memiliki jumlah yang hampir sama) melawan 1000 pesawat tempur PBB (600 diantaranya F-86 Sabre dan F-84 Thunderjet). Secara mengejutkan pilot-pilot Rusia ini berhasil merebut dominasi "The MiG Alley" April 1951-Januari 1952 dan karena itu dijuluki "Honcho" (bahasa slang yang berasal dari bahasa Jepang yang artinya si bos, nomor satu, atau paling top) oleh pilot-pilot Sabre Amerika. Dan memang si Honcho benar-benar top sehingga periode itu juga dijuluki "The Honcho Period" dengan mengklaim 532 pesawat tempur PBB (!) berhasil ditembak jatuh.
Jauh berbeda dengan pilot Cina dan Korea Utara yang miskin pengalaman, pihak Rusia telah memiliki hal-hal yang sama seperti dimiliki saingannya. Mulai dari penerbang terlatih, pesawat tempur lincah, perangkat radar darat yang sangat menunjang keberhasilan operasi udara, dan taktik udara brilian. Untuk terakhir ini para pilot Sabre Amerika mengakui kagum dan tidak ada bandingannya.
Menimba pengalaman panjang sewaktu Perang Dunia II, mereka menerapkan taktik dengan apa yang disebut "pedang" dan "perisai". Ketika beroperasi, skuaron tempur menggunakan komposisi 6 pesawat yang terbagi atas 3 flight sepasang, satu leader dan satu wingman.
Sehingga komposisinya adalah :

1. Flight pertama merupakan pedang, menyerang pesawat musuh.
2. Flight kedua merupakan perisai, melindungi pedang.
3. Flight ketiga tidak terlibat dalam pertempuran tetapi harus tetap waspada melihat dari atas jalannya pertempuran. Meski berkesan sebagai flight cadangan dan lebih bebas, flight ini memiliki tugas sama berat dengan flight lainnya. Mereka siap melindungi pedang atau perisai tergantung situasi dan kondisi. Tugas sekunder seperti menyerang pemburu musuh yang lengah juga merupakan tugas flight ini pula.

Lalu apa pendapat pilot Rusia ini terhadap pilot PBB khususnya pilot Sabre Amerika ? Sebagai manusia umumnya mereka sangat sedih karena melawan rekannya sendiri yang dulu telah bahu membahu melawan Hitler dan sebagai brotherhood of air-arm, mereka saling menghormati, tanpa ada perasaan benci ataupun dengki. Sama seperti pendapat salah satu Asov, Letkol Aleksandr Pavlovich Smorchkov. Ia mengatakan keadaannya dilematis, saat perang dunia II mereka bersatu, ketika pecah perang Korea mereka saling bertempur. Dan ia menambahkan lagi bahwa ketika melawan pilot Sekutu, mereka tidak pernah menggangapnya musuh melainkan "saingan dari sebuah kompetisi." Kedua belah pihak sama-sama berusaha melakukan prestasi sebaik-baiknya. Smorchkov sendiri telah mencoba memenangkan kompetisi dengan memperoleh 8 kills diantaranya tiga B-29 Superfortress.

Smorchkov&B-29
Dengan tangan besi, Smorchkov (kiri) memimpin skuadron anti bomber untuk mengalahkan B-29 Superfortress (kanan) pembom raksasa bermesin empat dan sekaligus membuat malu USAF.

Awal Oktober 1951, Amerika Serikat mulai mengirim pembom berat B-29 untuk menghancurkan landasan baru Korea Utara di Taechon, Saamchamhad, dan Namsi. Tujuannya ingin mengulang sukses sejarah bomber-raid sewaktu melawan Jerman dan Jepang tetapi mereka keliru. Pembom bermesin piston kecepatannya lambat di era jet apalagi ukuran badan yang tambun bisa menjadi sasaran empuk kanon perusak Nudelmann Suranov 37 mm dan Nudelmann Richter 23 mm milik MiG-15. Uni Soviet menjawabnya dengan operasi anti-bomber dengan mengerahkan tiga resimen tempur dari divisi 303 IAD, satu resimen melawan pembom sementara lainnya menyerang pemburu pengawal. Dan hasilnya terbukti pada tanggal 12 April 1951.
Pagi hari empat MiG-15bis dipimpin oleh Smorchkov sebagai flight anti-bomber menyerang 12 unit B-29 dari 19th Bomber Wing sementara 11 MiG lain diperintahkan menyerang 20 Thunderjet pengawal. Sukses besar ! Smorchkov memuntahkan ketiga kanon ke arah B-29 dan langsung terbakar, dilain pihak MiG-15 lainnya berhasil menembak jatuh dua B-29 lainnya, selain 5 Thunderjet. Dan ini adalah awal dari pembantaian pembom berat Superfortress.
Tanggal 22 Oktober 1951, operator radar Soviet menangkap kehadiran puluhan pesawat Amerika yang hendak meratakan landasan Namsi. Jumlahnya tidak main-main, 21 pembom B-29 dari 307th Bomber Wing dikawal 34 Sabre dan 55 Thunderjet ! Soviet hanya sanggup mengerahkan 44 unit MiG-15 tetapi Smorchkov menunjukan kehebatan kepemimpinannya. Ia bersama 11 MiG menyerang pembom sementara sisanya menyerang pesawat pengawal. Lagi-lagi sukses besar, sebanyak sebuah Thunderjet dan tiga pembom B-29 berhasil ditembak jatuh dengan sebuah B-29 diantaranya milik Smorchkov, empat pembom melakukan crash landing, dan tiga lainnya rusak sangat parah sekembalinya ke pangkalan.
Begitu efektif pilot-pilot Soviet mengacaukan formasi armada musuh sehingga hanya satu pembom berhasil lolos dan menimbulkan kerusakan kecil di landasan Namsi. Rencana penghancuran besar-besaran ternyata gagal total, pilot-pilot pembom Amerika mengenang kekalahan besar-besaran tanggal 22 Oktober sebagai Black Tuesday, Selasa Kelabu.
Black Tuesday tidak menyurutkan Amerika mengirimkan pembom B-29 meskipun dalam formasi kecil dua hari kemudian. Lagi-lagi merupakan tugas Smorchkov memberikan sambutan hangat kepada penyerang. Dalam pertempuran ini Smorchkov mengklaim menjatuhkan sebuah B-29 sebelum akhirnya meninggalkan arena perang akibat tembakan gunner B-29 yang berhasil merusakkan pesawatnya. Dari keseluruhan pertempuran anti-bomber ini, korban dari Soviet hanya tiga MiG-15 saja ! Jenderal Otto Weyland sebagai pimpinan terpaksa menghentikan operasi B-29 karena korban dirasa terlalu besar dibandingkan manfaatnya.
Letkol Aleksandr Pavlovich Smorchkov sebagai seorang pelaku Selasa kelabu sekaligus pimpinan anti-bomber menerima penghargaan setimpal atas prestasinya berupa kenaikan pangkat serta medali militer tertinggi Uni Soviet Hero of The Soviet Union atau yang terkenal dengan nama The Gold Star.
Memang selain memperoleh kenaikan pangkat dan medali, pilot-pilot Rusia dalam kancah perang Korea mendapatkan insentif atau uang sebesar 1,500 rubel untuk setiap pesawat musuh yang berhasil ditembak jatuh. Mirip dengan apa yang pernah dilakukan skuadron bayaran The American Volenteer Group, yang terkenal dengan nama The Flying Tiger saat Perang Dunia II. Tapi dengan adanya "kebijakan" ini menyebabkan kekacauan dalam penghitungan angka kemenangan. Banyak pilot "Russian Volenteer Group" ini menambahi klaim kemenangan secara tidak wajar meskipun kemungkinan besar hal ini dilakukan pula oleh pilot Sekutu, semata-mata demi uang serta kenaikan jabatan.
Sebagai contoh : Smorchkov mengklaim memperoleh 8 kills, tapi setelah dilakukan penyelidikan membandingkan dengan data Sekutu diperoleh hasil hanya 4 diakui ! Klaim luar biasa sebanyak 532 kills saat "The Honcho Period" menurun menjadi sekitar 140 saja. Meski sangat jauh menurun, para Asov berhasil membukukan ratio kill yang bagus yaitu 2:1 dengan korban 68 unit MiG-15.
Lalu bagaimana dengan Nikolai Sutyagin, apakah dia sah menjadi Ace of Ace Korea mengusur James McConnell Jr.? Ternyata McConnel masih dapat bernafas lega karena penyelidikan menunjukan hasil 13 angka kemenangan, berselisih 3 kills dengan McConnell. Walau ada cacat tapi prestasi hebat Sutyagin diakui pemerintah Uni Soviet dengan memperoleh kenaikan pangkat mayor (pensiun dengan pangkat Mayor Jenderal tahun 1978) dan tentu saja mendapatkan medali The Gold Star.

Singa Rusia
Salah satu Asov lainnya yang bertanggung jawab atas kegemilangan "Honcho Period" adalah Lev Kirilovich Shchukin. Para kameradnya menjulukinya singa karena Shchukin memang bertempur layaknya singa. Korban pertama sebuah P-51D Mustang yang dipiloti Harry Moore membuka awal bulan Juni 1951, diikuti 5 hari kemudian tanggal 6 Juni menghancurkan sebuah F-80 Shootingstar. Tanggal 17 Juni, ia terlibat dalam pertempuran besar 30 MiG-15 vs. 25 F-86 Sabre. Shchukin mengklaim menembak jatuh sebuah Sabre yang jatuh di laut Cina Timur dekat Sonchon. Tetapi nahas menimpanya saat kembali, ia kepergok 4 unit Sabre yang langsung menembaknya jatuh, Shchukin terpaksa eject dengan luka parah. Ia terbang kembali pada tanggal 29 Agustus dan ia berhasil menembak jatuh sebuah Gloster Meteor dari skuadron 77 AU Australia.

Shchukin&Gabreski
Singa Rusia Lev Kirilovich Shchukin (kiri) bertempur sampai dua kali melawan Kolonel Frances Gabreski (kanan), veteran dan ace Perang Dunia II.

Tapi semua itu bukan apa-apa sampai Oktober 1951, Sang singa berhasil memperoleh buruan sebanyak 5 pesawat tempur PBB dalam satu bulan. Salah satu buruannya adalah Kolonel Francis Gabreski (lagi-lagi) merupakan pilot ace PD II. Ketika itu dalam pertempuran sengit tanggal 2, Shchukin berusaha menolong kameradnya, Capt. Morozov. Walaupun gagal melindunginya--karena Morozov eject dari MiG--ia berhasil mengejutkan sekaligus menyarangkan sejumlah peluru kanon kearah Gabreski. Sabre-nya bernama "Lady Frances" terpaksa crash landing di pangkalan Suwon.
Atas suratan nasib, mereka bertemu kembali tanggal 11 Januari 1952 ! Tetapi kali ini Gabreski-lah yang mengejutkan dan berhasil menembak singa Rusia ini. Shchukin eject untuk kedua kalinya tapi sekaligus menamatkan karir terbangnya karena tulang punggung patah sewaktu eject. Meskipun demikian Shchukin memperoleh kenaikan pangkat menjadi Kolonel dan meraih The Gold Star.

Jagoan Tua
Pesaing nomor dua dari Sutyagin dalam perolehan angka kemenangan adalah Kolonel Yevgeni Pepelyayev komandan resimen 196 IAP. Umurnya yang cukup tua 33 tahun sempat dikhawatirkan mengurangi kemampuan refleks mengemudikan MiG, tetapi ia dapat mengkompensasinya dengan kematangan pengalaman tempur. Tanggal 1 April 1951 merupakan pertama kalinya resimen Rusia terlibat pertempuran melawan pemburu PBB, hasilnya ternyata mengecewakan, tiga unit MiG-15 ditembak jatuh dengan mudah. Bukan karena kemampuan mereka kalah tetapi akibat memaksa penggunaan bahasa Cina dan Korea saat bertempur guna merahasiakan kehadiran flight Rusia !
Pepelyayev bersama Letkol Sergei Vishnyakov komandan resimen 176 IAP mengeluhkan dan mengkritik persoalan ini kepada Kolonel Kozhedub dan pimpinan korps 64 IAK Letjen Belov. Mereka berdua yakin secara psikologis apalagi ditengah pertempuran memuncak sulit mengkoordinasikan taktik dan manuver dengan bahasa asing lewat radio. Ternyata ditanggapi positif, Komandan Tertinggi VVS membolehkan berbahasa Rusia ketika bertempur. Hasilnya : peningkatan efisiensi yang mencapai klimaksnya tanggal 12 April 1951 menembak jatuh tiga pembom B-29 yang hendak menghancurkan jembatan di Sungai Yalu dengan korban sebuah MiG-15 saja.

Pepelyayev
Kolonel Yevgeni Georgievich Pepelyayev (kiri) dengan MiG-15 "Red 325" (kanan atas) berhasil menembak jatuh F-86A. Sang pilot, Gill Garret mendarat darurat dengan kondisi Sabre masih utuh (kanan bawah) dan tentu saja tidak disia-siakan oleh engineer Soviet untuk direbut guna mengetahui keunggulan dan kelemahannya.

Pepelyayev mengklaim sebuah Sabre sebagai angka kemenangan pertamanya tanggal 20 Mei 1951 diikuti sebuah Sabre lainnya tanggal 11 Juli. Ia menambah angka kemenangan atas sepasang Shootingstar sepuluh hari kemudian. Tapi yang paling unik adalah tanggal 6 Oktober sewaktu 10 unit MiG-15 pimpinannya melawan 16 unit Sabre. Pepelyayev berhasil merusakkan Sabre yang dipiloti Kapten Gill Garrett dan memaksa melakukan ditching di perairan dangkal Teluk Sokhoson. Garrett meninggalkan pesawatnya utuh dengan sedikit kerusakan dan bagai mendapat durian runtuh para engineer Soviet menderek Sabre dari tipe F-86A ini dikirim ke Soviet untuk dipelajari.
Itulah hadiah dari Pepelyayev bagi AU Soviet selain angka kemenangan sebanyak 19 kills-nya (atau 12 kills versi Amerika).

McConnell vs. Fedorets
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan penting dalam pertempuran udara rahasia VVS vs. USAF, sebagai Ace of Ace apakah McConnell pernah bertemu dengan salah satu Asov ini ? Ya ia pernah melakukannya.
Setelah Februari 1952, pilot-pilot veteran Rusia digantikan dengan pilot baru sedangkan pilot veteran Sekutu tetap bertempur sampai berakhirnya perang Korea bulan Juli 1953. Ini yang menjadi alasan mengapa prestasi ace Sekutu termasuk Joseph McConnel Jr., James Jabara, dan Manuel Fernandez Jr. meningkat pesat pasca "Honcho Period". Layaknya pemula mereka mengalami masa sulit saat pertama kali bertempur, beberapa diantaranya ditembak jatuh oleh penerbang Sekutu. Toh, mereka secara bertahap berhasil mengatasi dan menjadi pilot veteran sekaligus Asov baru, diantaranya mereka itu bernama Kapten Semen Alexeivich Fedorets.

Fedorets&MiG15
Semen Alexeivich Fedorets (kiri) peraih medali Order of Lenin pernah bertempur melawan Ace of Ace Joseph McConnel Jr. MiG-15 "Red 16" (kanan) penganti MiG-15 "Red 93" yang dirontokan McConnel. Dengan MiG baru ini, Fedorets berhasil menembak jatuh dua Sabre lagi tanggal 10 Juni dan 19 Juli 1953.

Sebagai "anak baru", Fedorets tidak boleh dianggap enteng. Dengan MiG-15bis, ia meraih angka pertama sebuah Sabre pada 17 Desember 1952 diikuti bulan Februari dan Maret 1953 dimana Fedorets mengklaim menembak jatuh tiga Sabre dan secara bersamaan ia diangkat menjadi flight leader dari resimen 913 IAP. Untuk meraih gelar Asov ia mendapatkannya tanggal 12 April, saat menghadang selusin pembom-tempur Thunderjet dikawal Sabre yang hendak mengebom waduk Suiho, Korea Utara. Dua resimen (20 unit MiG) diutus sebagai penyerang. Sementara resimen Fedorets take off belakangan karena ditugaskan sebagai pelindung.
Dari atas, Fedorets menyaksikan duel udara dan akhirnya terjun langsung menuju medan pertempuran setelah lewat radio salah satu kamerad-nya diserang sebuah Sabre. Dan ia melihat sebuah MiG-15 terbakar akibat tembakan pesawat Amerika di ketinggian 2,000 m dibawahnya. Fedorets langsung menukik, mendekati Sabre dan menembaknya dua kali dari jarak 100 m. Setelah tembakan kedua, pesawat Amerika itu jatuh menukik ke darat. Pilot F-86E itu bernama Norman Green menjadi korbannya kelima.
Ketika sedang menyerang, Fedorets tidak menyadari kehadiran empat Sabre lain yang diam-diam mendekatinya. Ternyata leader Sabre itu adalah Joseph McConnell Jr yang saat itu telah memperoleh 7 kills. Ia diperingatkan oleh wingman-nya sesaat sebelum peluru-peluru McConnell menghujami Fedorets. MiG-15 segera melakukan manuver tajam ke kanan. Sadar bahwa buruannya ada di sebelah kanannya, McConnell membuka flap, menurunkan kecepatan bersiap menyambut seandainya Fedorets terbang terlanjur ke depan akibat manuver dadakannya itu.
Sayang ternyata buruannya lebih pintar dari yang diperkirakan, Fedorets kembali bermanuver tajam tapi ke arah kiri sambil melepaskan rentetan kanon. Peluru-peluru 37 mm tanpa dibidik itu berhasil merobek sayap kanan McConnell dan menyebabkan oleng ke kanan. Meski demikian McConnell dengan kemampuan luar biasa melakukan barrel roll dan berhasil menembak balik Fedorets ! Fedorets terkejut tapi terlambat, MiG-nya terbakar. Dengan kontrol trim ia berusaha menstabilkan pesawat lalu eject dengan selamat. Tapi hal ini tidak berlangsung lama karena McConnell juga melakukan eject diatas Laut Cina Timur karena pesawatnya sulit dikendalikan. Ia secepatnya diangkut oleh helikopter SAR.
Benar-benar unik, McConnell menjadi korban keenam dari Fedorets sementara Fedorets menjadi korban kedelapan dari McConnell. Ternyata pertarungan antara dua pilot jagoan dari blok Barat dan Timur ini hasilnya seri ! (Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2003)

Sumber Pustaka :

1. Angkasa, Edisi Koleksi,"Pesawat Tempur Sepanjang Masa", No.1
2. Angkasa, Majalah Bulanan,"Perang-Perang Di Dunia", No.7 April 1996
3. Angkasa, Majalah Bulanan,"Perang Udara Korea : Duel Di Celah MiG", No.11 Agustus 2000
4. William Green and Gordon Swanborough,The Complete Book Of Fighters, London : Greenwich Editions, 2004

Sumber Internet :

1. Hunt of Sabre
2. Russian Aces over Korea

Tidak ada komentar: