Minggu, 24 Januari 2010


Bagi Amerika, “senjata musuh”, namun bagi yang lain, “simbol perlawanan”.

AK-47 bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 250.000 manusia di seluruh dunia tiap tahunnya

The Man with the Golden Gun sudah mati di tiang gantung. Julukan yang diberikan kepada mantan Presiden Irak Saddam Hussein itu, selain menggambarkan gaya kepemimpinannya yang mengandalkan kekuatan militer, juga karena Saddam benar-benar memiliki senjata berlapiskan emas. Senjata yang disebut Tabuk Rifle - istilah Irak untuk senjata AK-47 - diyakini seharga dua juta dolar AS atau Rp 18 miliar (kurs Rp 9.000 per dolar AS). Amerika sengaja memberikan senjata yang kini disimpan di Australian War Memorial (AWM) di Canberra itu kepada Australia sebagai hadiah atas dukungan mutlak Negeri Kangguru saat invasi Sekutu ke Irak, 2003 silam. Begitu tingginya reputasi senjata AK-47 ini di Irak, para tentara koalisi Irak yang dilatih oleh tentara Amerika menolak dipersenjatai dengan senjata buatan Amerika seperti M-16 dan M-4. Para prajurit Irak ngotot bahwa mereka hanya mau menggunakan senjata buatan Uni Soviet (kini Rusia) Kalashnikov ini.

Tentara Amerika saat perang Vietnam pun lebih suka menggunakan AK-47 meski mereka sudah memiliki senjata otomatisnya yang canggih M-16. Alasannya, saat itu, mereka tidak mempercayai lagi kemampuan M-16 yang dilaporkan sering “jamming” atau tidak lancar dalam mengeluarkan peluru. Banyak pasukan Amerika yang ditemukan meninggal dengan senjata mereka dalam kondisi tidak berfungsi. Itulah sebabnya, banyak tentara Amerika selalu mengambil AK-47 dari tentara Vietnam yang tertembak dan menggantikan M-16 mereka.

Amerika juga secara intensif menggunakan AK-47 pada perang Afghanistan di pertengahan tahun 80-an. Di sinilah AK-47 mulai menyebar ke seluruh dunia ketika Uni Soviet mulai jatuh. Amerika melalui CIA menyalurkan ratusan ribu senjata AK-47 yang kebanyakan datang dari Cina kepada pasukan Afghanistan.

Sebagaimana CIA mengirim AK-47 ke Afghanistan, CIA juga melakukan hal yang sama di Nicaragua pada awal tahun 1980-an untuk melawan pemberontak Sandinista yang didukung oleh Uni Soviet. Setelah kehancuran Uni Soviet, penyebaran AK-47 benar-benar di luar kendali. Di beberapa belahan dunia seperti Afghanistan, Pakistan, Liberia, Rwanda, dan negara-negara sangat miskin di benua Afrika dimana perang antar suku terjadi di mana-mana, AK-47 menjadi semacam simbol kebudayaan. AK-47 bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Afrika bahkan di beberapa wilayah, AK-47 dinamakan sebagai “African credit card” dimana “you could not leave home without it.” Di Amerika Latin, AK-47 banyak digunakan para pengedar obat terlarang dan pemberontak anti pemerintah.

Indonesia pun tidak ketinggalan memanfaatkan senjata yang kini sudah banyak mengalami modifikasi dan varian ini. Pada tahun 60-an beberapa pasukan elit Indonesia seperti Kopasgat (kini, Paskhas), KKO (Marinir), dan RPKAD (Kopassus) juga memakainya dalam ajang konfrontasi dengan Malaysia, penumpasan G30S/PKI, penumpasan PGRS/Paraku, dan di awal operasi Timor Timur. Bahkan pernah tersiar cerita, pasukan yang diterjunkan dalam Operasi Seroja pernah menolak M16 dan tetap menggunakan AK-47. Selain TNI, Polri juga pengguna setia. Mereka memakainya sejak tahun 70-an.

Sejarah penciptaan AK-47 bermula pada tahun 1941. Seorang prajurit lokal bernama Mikhail Timofeyevich Kalashnikov yang ketika itu berusia 21 tahun harus dirawat di rumah sakit karena tank-nya terkena tembakan artileri dari pasukan Jerman. Selama dirawat di rumah sakit, Mikhail Kalashnikov terobsesi untuk membuat sebuah senjata yang dapat mengusir pasukan Jerman dari kampung halamannya. Akhirnya pada tahun 1947, Avtomat Kalashnikov (AK-47) diperbolehkan untuk pertama kalinya diproduksi secara massal.

Akhir tahun ‘50-an Uni Soviet mulai menggunakan AK-47 untuk menyebarkan pengaruh komunisme ke seluruh dunia. Dibandingkan dengan senjata buatan Amerika M-1 dan M-14, AK-47 terbukti lebih superior. AK-47 terbukti lebih tahan banting dan mampu bekerja dengan sangat baik di berbagai kondisi. Hal ini sangat menguntungkan bagi daerah-daerah yang tidak memiliki fasilitas perbaikan senjata. Uni Soviet memberikan lisensi gratis kepada negara-negara kiri seperti Bulgaria, Cina, Jerman Timur, Honggaria, Korea Utara, Polandia, dan Yugoslavia.

Tahun ini genap 60 tahun, AK-47 digunakan di atas muka bumi ini. Untuk menghormati Mikhail Kalashnikov yang masih terlihat segar bugar pada usia 87 tahun, pemerintah Rusia menyelenggarakan perayaan istimewa di Museum Pusat Pasukan Bersenjata Rusia di Moskow 6 Juli lalu. Hingga kini, senjata tersebut telah diproduksi lebih dari 100 juta pucuk dalam berbagai model di seluruh dunia. Berkat senjata kreasi Kalashnikov, Rusia memperoleh pendapatan EUR 1,47 miliar (sekitar Rp 18 triliun) setiap tahun. MLP (Berita Indonesia 43)

Tidak ada komentar: