Minggu, 17 Januari 2010

Detik-detik Menjelang "Battle of Baghdad"

KETIKA pasukan Jerman gagal merebut Kota Stalingrad pada bulan Februari 1943, Adolf Hitler dengan menyesal mengakui bahwa "Dewa Perang akhirnya lebih berpihak kepada musuh". Kekalahan Jerman di tangan Tentara Merah Uni Soviet ini menjadi titik balik yang penting, yang membuat raksasa militer Jerman praktis melemah, tatkala menghadapi sekutu pada Perang Dunia II.

Sejak Agustus 1942, pasukan Jerman pimpinan Jenderal Friedrich Paulus benar-benar frustrasi menghadapi strategi perang kota (urban warfare) yang dilancarkan Uni Soviet. Atas perintah Joseph Stalin, Tentara Merah yang dibantu warga Stalingrad, dengan cerdik dan fanatik memanfaatkan apa pun-gedung, gudang, rumah, pabrik, sampai gorong-gorong -untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah mereka.

Tercatat sekitar 250.000 serdadu Jerman tewas terjebak dalam perang kota itu. Padahal, mereka didukung supremasi angkatan darat dan udara.

Perang di Stalingrad itu mengungkapkan keganasan dan ekstremitas perlawanan sebuah bangsa yang tidak mengenal "mental kalahan" (defeatism). Kegagalan Hitler ini membuktikan pula bahwa senjata dan strategi militer belum tentu bisa mengalahkan nasionalisme yang fanatik dari sebuah bangsa yang besar.

Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS) Jenderal Richard Myers hari Kamis (3/4) lalu kepada pers di Washington mengatakan bahwa apa yang terjadi di Stalingrad 60 tahun yang lalu itu, tidak akan terulang di Baghdad. "Itu gambaran yang salah. Kami hanya akan mengepung Baghdad. Separuh dari penduduk Baghdad merupakan penganut Syiah yang menjadi korban politik Saddam Hussein. Mereka akan membantu kita," kata Myers.

George Friedman yang menulis pada The Stratfor Weekly Kamis lalu menilai, Myers sebaiknya belajar dari pengalaman AS mengambil alih Kota Paris-dengan korban yang relatif kecil-dari tangan Jerman tahun 1944. Meskipun Hitler memerintahkan pembumihangusan Paris, para komandan di lapangan menolak perintah itu dan justru segera menyerah.

Namun, penyelesaian ala Paris tersebut tampaknya terlalu sukar diterapkan di Baghdad. Meskipun pasukan Irak kurang berkompeten dalam menjalankan tugasnya, Saddam masih memiliki ribuan personel Pengawal Republik-dan juga sebagian rakyat-yang siap mempertahankan Baghdad sampai titik darah penghabisan.

"Ada lagi strategi lain untuk menaklukkan kota-kota besar. Tahun 1944-1945, Tentara Merah mengepung Budapest (Hongaria) selama enam minggu, menghantam kota itu dengan serangan artileri dan pengeboman, sebelum memasuki kota. Ketika Tentara Merah tiba di pusat kota, tidak ada perlawanan dari Jerman. Pengepungan ini membutuhkan waktu yang lama dan memakan banyak korban, rakyat. Namun, kerugian Uni Soviet termasuk kecil," tulis Friedman.

Ada juga "strategi Berlin", merujuk pada jatuhnya korban 80.000 serdadu Uni Soviet ketika masuk ke ibu kota Jerman itu tahun 1945. Tanpa tujuan politik yang jelas, Tentara Merah terlalu bernafsu untuk menaklukkan Berlin dengan pengeboman udara serta serangan artileri besar-besaran.

Di kala itu, pasukan Jerman dibantu oleh milisi sejenis dengan Fedayeen Saddam atau Partai Baath di Baghdad. "Baghdad merupakan kota modern dengan penduduk lebih dari lima juta jiwa. Pasukan AS tidak pernah menguasai kota sebesar ini, sambil menghadapi perlawanan yang cukup keras," demikian Friedman.

Jika bentrok melawan Pengawal Republik dan rakyat Baghdad tidak bisa dihindari lagi, korban yang jatuh di kalangan AS dan Inggris akan besar jumlahnya. "Skenario Paris merupakan model yang tepat bagi AS. Namun, terdapat marabahaya model Budapest yang justru lebih mungkin terjadi," tulis Friedman lagi.

SEMUA ahli milter mengetahui persis bagaimana cara pasukan AS melancarkan perang kota, yakni jangan pernah melakukannya. Pasalnya, mereka tidak pernah mengenal Baghdad. Sebaliknya, Pengawal Republik akan dengan mudah bersembunyi di mana-mana untuk menyiapkan jebakan.

Keunggulan teknologi juga tidak begitu bermanfaat pada perang gerilya jenis ini. "Perang kota mengandalkan tenaga manusia dan mengurangi nilai teknologi. Ini merupakan kebalikan dari struktur militer AS yang disiapkan dalam peperangan," kata Andrew Krepinevich, dari Centre for Strategic and Budgetary Assessments di Inggris, kepada The Economist edisi 22-28 Maret 2003.

Pada wilayah terbuka, pasukan AS dan Inggris pasti menembak lebih tepat dibandingkan lawannya. Namun, pada wilayah perkotaan yang disesaki gedung-gedung tinggi, pengintaian dan komunikasi pasti akan terganggu.

Menerbangkan helikopter juga riskan, seperti dialami AS yang kehilangan begitu banyak Black Hawk di Mogadishu (Somalia) tahun 1993. Pada perang kota, pengambilan keputusan harus diambil secepat mungkin, yang otomatis mengundang pula terjadinya kesalahan- kesalahan yang tak perlu.

Itulah yang terjadi di Hue (Vietnam) tahun 1968 atau di Manila (Filipina) tahun 1945. Sekarang ini sudah banyak keluhan yang dilontarkan oleh pasukan Inggris terhadap rules of engangement pasukan AS di Irak yang serba kurang matang.

Pasukan gabungan AS dan Inggris memang menguasai wilayah pertempuran, tetapi belum memenangi perang. Myers hari Jumat kemarin mengakui bahwa pasukan Anglo-Amerika bisa dengan leluasa menarik napas barang sebentar untuk mengatur siasat kapan memulai "Battle of Baghdad".

Memang Myers, seperti halnya Friedman, mengakui bahwa pihaknya diuntungkan oleh faktor waktu. "Kami terbantu faktor waktu dan sebenarnya penguasaan atas Baghdad semakin hari semakin kurang penting," kata Myers.

Mulai takut? Harian Washington Post kemarin memberitakan bahwa Pemerintah AS berencana akan mengumumkan kemenangan perang tanpa harus menunggu tertangkapnya Presiden Irak Saddam Hussein dan orang-orang di sekitarnya.

"Tujuan kami bukanlah menguasai gedung-gedung atau menduduki wilayah. Tujuan kami adalah agar rakyat Irak bisa menerima kenyataan bahwa rezim Saddam sudah tidak berkuasa lagi," kata seorang pejabat militer senior yang terlibat dalam perencanaan perang.

Barangkali rasa takut itulah yang menimbulkan keretakan antara kelompok Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld melawan pusat komando di Qatar maupun pasukan di lapangan. Ketakutan AS itu pasti semakin besar menyusul keluarnya pernyataan dari Irak semalam. Irak mengancam akan melancarkan serangan "nonkonvensional", yang bisa ditafsirkan sebagai serangan senjata pemusnah massal.

Namun, para penggila perang di Gedung Putih menyatakan rasa gembira setelah Kongres menyetujui dana 80 milyar dollar AS untuk membiayai perang. Meskipun mungkin sudah mulai agak gentar, sulit mengharapkan George W Bush membuang rasa gengsinya dengan memerintahkan gencatan senjata.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi belakangan ini mencerminkan semakin hilangnya akal sehat pada kalangan pemimpin kedua pihak yang berseteru. Detik-detik menjelang "Battle of Baghdad" memang sudah semakin mendekat.

Siapa yang menang? Kata Hitler, itu tergantung dari Dewa Perang.*

Tidak ada komentar: