Senin, 25 Januari 2010

GERILYAWAN UDARA VIETNAM UTARA










Sejarah AU Vietnam Utara- Quan Chung Khong Quan (Vietnamese People's Air Force/VPAF) -memang tidak dapat dilepaskan dari Perang Vietnam. Dengan peralatan jauh dari memadai dari segi kualitas maupun kuantitas, sebuah AU dari negara miskin mampu mengalahkan sang raksasa adidaya Amerika Serikat yang berteknologi tinggi dan serta merta mengangkat nama VPAF di mata dunia.

MiG21vsThunderchief

Seperti juga Perang Korea (1951-1953), Perang Vietnam (1964-1975) juga memberikan perkembangan baru dalam teknologi militer dirgantara. Saat perang Korea dominasi pesawat tempur jet menggantikan pemburu bermesin piston sedangkan perang Vietnam adalah radar pembidik akurat dan rudal fire and forget mulai menggantikan meriam serta semakin meninggalkan seni dogfight era Perang Dunia II. Musuh belum tampak secara visual tapi telah tertangkap radar dapat segera dihancurkan dari jarak jauh tapi sayang seluruh teknologi modern ini hanya ada di gengaman Amerika Serikat. VPAF seolah bagai mau bunuh diri menghadapi armada udara yang didominasi puluhan pesawat tempur mutakhir.
Bila dibandingkan dengan Korea Utara maka pemerintah komunis Vietnam Utara merupakan kebalikannya. Uni Soviet dan Cina era 1950-an tidak banyak membantu pertumbuhan " bayi" VPAF dengan menyuplai pesawat tempur karena terikat Perjanjian Jenewa 1954 dan (mungkin) trauma atas keterlibatan dalam Perang Korea yang sempat mengancam perdamaian dunia, tetapi sebagai gantinya mereka mengirim sejumlah penasihat dan pesawat militer non-combat. Oleh karena itu menjelang akhir 1950 dan awal 1960 hanya terbentuk satu resimen udara angkut 919 berkekuatan Li-2 (DC-3 versi Soviet), An-2, Il-14, helikopter Mi-4 dan satu resimen latih 910 berkekuatan latih primer Yakovlev Yak-11 dan Yak-18. Tetapi jangan salah, armada angkut ini telah membantu perjuangan (operasi bawah tanah dan penyusupan) penyatuan Vietnam dengan menyuplai gerakan perlawanan anti pemerintahan Presiden Ngo Ding Diem dukungan Amerika. Sejak Maret 1959 selain di darat lewat "Ho Chi Minh Trail", Li-2 mulai beroperasi memberikan bantuan udara bagi Front Nasionalis Kemerdekaan Vietnam dan An-2 terbang rendah membawa dukungan logistik bagi tentara Vietnam Utara "The Second Battalion" di Laos.

MiG17_DaoDinhLuyen
MiG-17/J-5(kiri) merupakan fighter pertama VPAF sebanyak 25 unit memperkuat resimen tempur 921 pada tahun 1965 yang dipimpin Letkol Dao Dinh Luyen(kanan).

Ketika permusuhan semakin meningkat antara Hanoi dan Saigon akibat gerakan perlawanan yang oleh pers Barat disebut VietCong, tidak bisa tidak VPAF harus memiliki resimen pesawat tempur untuk mengantisipasi perang yang akan pecah kemudian hari. Dimulai tahun 1962 Letjen Hoang Van Thai yang menjabat sebagai pejabat tinggi kementerian pertahanan Vietnam Utara memerintahkan pembentukan resimen tempur 921 Sao Dao dipimpin Letkol Dao Dinh Luyen yang berkekuatan MiG-17F Fresco. Menurut sumber Vietnam Utara, MiG-17F ini buatan pabrik Shenyang asal Cina dengan registrasi J-5 karena Uni Soviet masih memegang prinsip untuk tidak terlibat mensuplai peralatan tempur tingkat tinggi. Tidak heran bila awaknya dilatih khusus di pangkalan Mong Tu, Cina dan tanggal 3 Februari 1964, 25 unit MiG-17 plus 31 pilot telah memperkuat resimen 921. Hanya sejumlah itulah yang dimiliki VPAF untuk membendung agresi udara Amerika Serikat yang akhirnya pecah awal Agustus di tahun yang sama.

Operasi Rolling Thunder
Setelah bertahun-tahun konflik tersembunyi yang dimulai sejak pemerintahan Kennedy akhirnya pada 3 Agustus 1964, dua kapal Amerika diserang kapal meriam Vietnam Utara di Teluk Tonkin merupakan konfrontasi resmi mereka. Didukung kongres, Presiden Lyndon Johnson secara resmi menyatakan perang terhadap Vietnam Utara tanggal 10 Agustus. Operasi Rolling Thunder merupakan operasi udara pertama sistematis yang dimulai bulan Februari 1965. Tanggal 2 Maret 1965 puluhan pembom tempur Amerika bergerak menghancurkan sasaran militer dan secara sistematis pula menghancurkan gudang amunisi di dekat kota Xom Bong, Vietnam Utara.
Esoknya baru dimulai konfrontasi pertama VPAF menghadapi armada udara Amerika. Sebanyak 40-an F-105 Thunderchief dikawal oleh puluhan F-100 Super Sabre dan F-8 Crusader mencoba menghancurkan jembatan Ham Rung dekat Tranh Hoa. Dua flight yang terdiri atas empat MiG-17 terbang dari pangkalan Noi Bai pukul 9:48 melakukan uji tempur untuk pertama kali. Dipimpin oleh Pham Ngoc Lan, mereka terbang secara diam-diam dan penuh kesabaran karena kalah jumlah. Pukul 10.08 kesempatan itu pun akhirnya tiba, Lan melihat sekelompok US Navy F-8 pengawal yang tidak waspada atas kehadiran flight-nya. Lan mulai menukik dan menyemburkan kanon kearah salah satu Crusader. Boom peluru-peluru 37 mm dan 23 mm mulai merobek dan membakar mangsanya. Berbeda dari versi VPAF, US Navy mengklaim Crusader tersebut masih dapat mendarat ke kapal induk meskipun akhirnya pesawat itu terpaksa disingkirkan karena kerusakan yang sangat parah.
Pham Ngoc Lan dengan MiG-17 merupakan pilot pertama yang berhasil menjatuhkan pesawat Amerika lewat dog-fight dan ini juga merupakan kemenangan udara pertama perang udara Vietnam.

Hanh_Day_Huan_Nam
Pilot VPAF Tranh Hanh, Day, Le Minh Huan, dan Nam (kiri) tetap bergembira karena kembali dengan selamat dari misi penyergapan tanggal 4 April 1965 meski kehilangan tiga MiG-17 setelah merontokan dua F-105 Thunderchief (kanan) yang menyerang jembatan Ham Rung "The Dragon Jaws".

Esoknya USAF kembali mengirim puluhan Thunderchief dan Super Sabre untuk menghancurkan jembatan Ham Rong dan lagi-lagi VPAF mencoba hadang dengan dua flight MiG-17. Didukung oleh GCI yang cekatan, mereka segera mengambil strategi penyerangan klasik, menyerang dengan membelakangi matahari. Benar saja kehadiran mereka segera mengejutkan pilot USAF. Kanon Nudelmann Richter NR-37 kembali memakan korban, menghancurkan sepasang F-105 yang masing-masing dipiloti Alan Magnusson (MIA) dan Carlyle Harris (POW). Tranh Hanh dan Le Minh Huan mengukir skor masing-masing atas mereka. Sangat disayangkan tiga MiG-17 menjadi korban (semua pilot berhasil eject dengan selamat) serangan balik pengawal Super Sabre dan hanya Hanh yang berhasil lolos. Dengan susah payah, ia mendarat di Ke Tham akibat kehabisan bahan bakar. Sekembalinya ke Noi Bai, kedua pilot jagoan ini dielu-elukan menjadi pahlawan udara mereka.

Gerilya Udara
Walau diatas kertas MiG-17 kalah kualitas, tetapi toh mereka setidaknya mampu memberikan perlawanan terhadap armada udara Amerika Serikat yang super kuat itu. Bagaimana tidak, MiG-17 bukanlah pesawat secanggih pemburu Amerika macam F-105, F-100, F-8E, apalagi F-4 Phantom, mereka semua memiliki kemampuan terbang supersonik, dilengkapi perangkat elektronik dan memiliki rudal baik berpemandu radar (AIM-7 Sparrow) maupun infra-red (AIM-9 Sidewinder). Belum lagi soal jumlah VPAF harus berhadapan dengan 8th ,35th ,dan 366th TFW yang dilengkapi F-4 Phantom, puluhan F-105 berasal dari wing tempur 355th dan 388th TFW, 100-an pemburu US Navy dari kapal induk di Teluk Tonkin, ditambah ratusan pesawat COIN, pembom strategis B-52, dan juga helikopter.
Sadar kalah kuantitas dan kualitas, para pilot VPAF menerapkan strategi "gerilya udara". Karena Amerika memutuskan tidak menghancurkan instalasi radar dan pos komando--beresiko membunuh penasihat / operator radar asal Soviet dan Cina yang dapat menimbulkan ketegangan baru antar negara adidaya--pilot Vietnam dapat menempatkan mereka pada posisi terbaik, contohnya seperti menyerang dengan membelakangi matahari. Bisanya mereka menyerang dan mendekati secara cepat dari dua arah serta secara mengejutkan. Efek kejutan ini sangat membantu karena mereka masih mengandalkan perangkat meriam otomatik dan manuver lincah dari MiG. Setelah menghancurkan beberapa musuh (biasanya pembom-tempur yang kurang lincah), pilot-pilot Vietnam langsung kabur secepat mungkin meninggalkan medan pertempuran guna menghindari serangan balik dari pemburu pengawal.
Bagaimana dengan latihan tempur ? Pada pertengahan 1960-an, pilot-pilot Amerika lebih fokus pada teknologi canggih rudal udara ke udara, mereka melupakan bahwa skill pilot /kemampuan dogfight sama pentingnya. VPAF mengetahui itu semua meskipun kecepatan terbang kurang unggul tapi bila MiG memburu pada jarak dekat, pesawat Amerika tidak berdaya. Dengan kedua taktik buatan VPAF ini yaitu "gerilya udara" dan teknik "dogfight" yang tidak ada duanya ini terbukti cukup ampuh melawan sang agresor .

"MiG-17 Ace" Pertama
Ace merupakan sebutan terhormat bagi pilot jagoan yang mampu menjatuhkan minimal 5 pesawat lawan atau 5 kills. Menurut keterangan resmi VPAF berhasil mencetak 16 ace suatu jumlah yang menimbulkan keunikan sekaligus kontroversi tersendiri. Seiring dengan ekskalasi pertempuran udara yang semakin tinggi VPAF memutuskan menambah MiG-17F untuk membentuk resimen tempur 923 Yen The tanggal 7 September 1965. Dari resimen baru inilah menghasilkan ace pertama VPAF, Lt. Nguyen Van Bay.
Meskipun latihan simulasi tempurnya telah selesai Januari 1966 baru tanggal 21 Juni, Bay beraksi untuk pertama kali dalam pertempuran sesungguhnya. Berperan sebagai leader flight pertama, Bay mengincar salah satu dari empat F-8 Crusader yang mengawal sebuah pengintai RF-8 di atas Kep. Pesawat Cole Black (POW) terbakar dan jatuh terkena hantaman kanon, sementara itu beberapa menit kemudian leader flight kedua Phan Thanh Trung berhasil menghancurkan sasaran utama RF-8 yang diawaki Leonard Eastman (POW). Meskipun demikian mereka harus merelakan dua MiG menjadi korban. Sekitar seminggu kemudian tepatnya tanggal 29 Juni. Bay bersama tiga lainnya mengejutkan sekelompok Thunderchief yang berniat menghancurkan depot bahan bakar dekat Hanoi. Sebuah Thunderchief kembali menjadi korban dan lebih mengejutkan lagi setelah diketahui bahwa yang mengawakinya merupakan leader sekaligus ace Perang Korea (6 kills), Mayor James H. Kasler (POW). Tetapi ini belum apa-apa sampai tanggal 24 April 1967 ketika Bay memimpin pencegatan atas pembom tempur Amerika yang sedang menggempur Haipong.

Nguyen_van_Bay
Pilot jagoan VPAF Nguyen Van Bay (kiri) dielu-elukan setelah misi tanggal 24 April 1967,The Big Day karena berhasil merontokan dua pesawat Amerika : F-8 Crusader dan F-4B Phantom (kanan).

Haipong merupakan kota pelabuhan dan salah satu tempat distribusi laut terpenting Vietnam Utara. Disana tempat lalu lalang pasokan perangkat perang dari kapal Cina dan Uni Soviet. Tidak heran untuk melindunginya ditempatkan puluhan meriam anti pesawat, situs radar, baterai rudal SAM, dan tentu saja resimen udara 923 di pangkalan Kien An. Siang itu GCI melaporkan bahwa ada puluhan pesawat pembom Amerika bergerak ke Haipong. Bay bersama tiga rekannya diperintah agar segera take off. Setelah sampai di atas Haipong, Bay dengan berhati-hati mendekati sebuah US Navy F-8 dari VF-24 lalu kemudian menghajarnya dengan telak. Benar-benar spektakuler, mangsanya pecah berantakan. Pilot E.J.Tucker (POW) menjadi korban ketiga dari Bay. Melihat kawannya ditembak, F-4B Phantom pengawal dari VF-114 segera membalas dengan menembakan sebuah AIM-9B Sidewinder kearah Bay. Beruntung ia dapat menghindar segera setelah diperingatkan oleh Nguyen The Hon, wingman-nya. Secepat kilat ia bermanuver tajam menghindari sergapan Sidewinder. Rudal gagal mengimbangi dan meledak diluar jangkauan mematikan. Mengira lawannya telah jatuh Phantom mulai mengincar MiG lainnya. Bagaikan siluman, Bay tiba-tiba muncul kembali dari arah belakang armada Phantom dan dengan kecepatan penuh berhasil menembak jatuh sebuah diantaranya. C.E. Southwick dan RIO J.W. Land yang mengawaki pesawat malang itu berhasil diselamatkan setelah tercebur di laut. Mereka masih menganggap bukan Bay yang menembaknya melainkan dari tembakan meriam anti-pesawat. Sementara Bay sendiri mengklaim menembak jatuh tiga pesawat, sebuah Crusader dan dua Phantom. US Navy mengatakan hanya dua korban jatuh pada hari itu, sebuah hari tak terlupakan bagi Nguyen Van Bay. Sehari kemudian ia mengecap hasil bersih dua A-4 Skyhawk diantara korbannya bernama C.D. Stackhouse (POW).
Walaupun pihak VPAF mengakui angka kemenangan Bay sebanyak 7 kills tetapi hanya 5 diantaranya diakui pihak Amerika. Tetapi dengan meraih angka keramat ini Nguyen Van Bay telah mengukuhkan namanya sebagai ace pertama Vietnam Utara. Ia juga mendapat penghargaan tertinggi Medal of Hero of Vietnamese People's Army atas kemampuan, keberanian heroik, dan kepemimpinannya sebagai leader flight.

Top Scorer
Selama konflik Vietnam periode 1967-1969, Nguyen Van Coc memegang top scorer dengan 9 angka kemenangan. Ia mulai latihan terbang konversi dengan all-weather fighter MiG-21PF buatan Uni Soviet yang berdatangan akhir 1965 untuk memperkuat dan sekaligus menggantikan MiG-17 pada resimen 921. Juni 1966, Let. Coc bersama-sama pilot lainnya telah siap terbang dengan MiG-21. Meskipun awal Juli dan November resimen ini berhasil merontokan 10 pesawat Amerika, tidak ada satupun angka diperolehnya. Tetapi ia telah memperoleh pengalaman berharga. Kesabaran untuk menuai kemenangan kembali diuji saat pihak VPAF memutuskan untuk sementara tidak menerbangkan MiG-21 karena F-4C Phantom (8th TFW USAF) pimpinan Kolonel Robin Olds berhasil mempecundangi tujuh MiG-21 tanpa korban satu pun saat Tahun Baru 1967 awal Operasi Bolo (5 korban tanggal 2 Januari diikuti 2 korban lagi empat hari kemudian). Kerugian yang tidak bisa ditoleransi dan untuk itu VPAF perlu mempelajari taktik baru dalam kurun waktu Januari-Maret sekaligus menunggu untuk memperoleh MiG pengganti karena telah kehilangan lebih dari separuh armada MiG-21-nya.

Nguyen_Van_Coc
Top Scorer Perang Vietnam Nguyen Van Coc (kiri) dengan dua medali penghargaan Medal of Hero of Vietnamese People's Army tersemat didada kirinya, satu untuk dirinya dan satu untuk resimen 921. Van Coc diantara para comrade-nya, dengan latar belakang MiG-21PF "Red 4326" yang legendaris berhiaskan 13 bintang merah / victory kills(kanan).

Tanggal 30 April, penantian letnan muda berumur 26 tahun ini berakhir. Sebagai wingman dari Letnan Nguyen Ngoc Do, mereka (dua flight MiG-21) berhasil mendekati segerombolan F-105D Thunderchief dan dual seater F-105F Wild Weasel versi pengacau radar tanpa ketahuan. Terlalu percaya diri karena sebelumnya berhasil mempecundangi lawan, pilot Thunderchief terbang dengan tenang mulai menyerang pembangkit listrik dekat Hanoi. Saat yang sama leader Do membidikan sebuah rudal infra red K-13 Atoll mengincar Wild Weasel yang diawaki Leonard K. Thorness dan Harold E. Johnson. Rudal melejit meninggalkan rel pylon dengan kecepatan Mach 2+ dan blam merontokannya dengan segera. Robert Abbott yang sempat mendengarkan peringatan lewat radio berusaha mencari dimana letak MiG tersebut untuk menghindar tetapi terlambat, K-13 lainnya memangsa pesawatnya sedetik kemudian. Blam-blam ledakan kedua membahana diatas Hanoi. Rudal itu ternyata diluncurkan dari pesawat Coc yang seolah-olah muncul dari balik matahari. Abbott meskipun sempat eject dan menjadi POW merupakan korban pertama dari Coc. Lagi-lagi ledakan ketiga mengelegar merontokan sebuah Thunderchief yang ditembak oleh Le Trong Huyen beberapa menit kemudian. Hari itu tiga angka diperoleh tanpa kehilangan satupun MiG menjadi hari pembalasan VPAF.
Bulan Mei meskipun VPAF meraih sukses besar tetapi meminta korban juga besar. Lagi-lagi operasi MiG-21 dihentikan sementara pada bulan Juni-Juli guna merampungkan taktik baru dengan melibatkan resimen lain yang menggunakan MiG-17. Rencananya MiG-17 memancing pemburu Amerika bertempur berhadapan sementara dari arah belakang MiG-21 akan mengejutkan mereka. Taktik ini diuji pada 23 Agustus 1967, siang hari 40 penyerang Amerika terbang diatas Hanoi disergap empat MiG-17 dari resimen 923 serta sepasang MiG-21 dengan leader Nguyen Nhat Chieu dan wingman Nguyen Van Coc. Taktik tersebut berhasil, armada Amerika tidak menyadari kehadiran MiG-21 di belakang mereka. Chieu dengan segera meluncurkan rudal dan mengenai sebuah Thunderchief yang diawaki Elmo Baker (POW). Sasaran kedua dilaksanakan dengan baik oleh Coc, meluncurkan rudal dan mengubah F-4D Phantom yang diawaki Larry Carrigan (POW) dan C.Lane (KIA)menjadi bola api raksasa. Tetapi nasib sial mulai tampak ketika Cheiu gagal menembak F-4 lainnya dengan rudal terakhir. Mencoba menempatkan pada posisi yang baik untuk menyerang dengan meriam 30 mm, ia naik dan sembunyi dengan masuk awan, sementara itu Coc-yang tidak mengetahui keberadaan leadernya-mulai menyerang sasaran yang sama. Tiba-tiba saja Cheiu muncul sambil memuntahkan peluru 30 mm dan saat yang bersamaan Coc secara tidak sengaja terbang berada di garis tembakan Chieu, tak ayal lagi Coc tertembak telak dibagian mesin. Melihat itu Cheiu segera mengarahkan Coc meninggalkan medan pertempuran. Beruntung ia berhasil mendarat di Noi Bai walaupun dengan mesin terbakar.
Hari itu merupakan satu hari sukses dan juga sial bagi VPAF : dua angka diraih oleh MiG-21 dan tiga angka (2 Thunderchief dan sebuah Phantom) oleh MiG-17, dengan korban satu MiG-21 akibat tembakan teman (friendly fire).
Kemenangan ketiga Coc adalah sebuah Phantom yang diawaki Moore dan Gulbrandson (berhasil diselamatkan) dalam misi pengawalan pengintai RF-4C pada 3 Oktober 1967.pada pukul 13:54. Layaknya misi pemotretan udara, Phantom tersebut berada di ketinggian tinggi 7 km. Sebagai leader Coc berhasil terbang 500 m diatasnya serta menembak Phantom malang ini yang sebelumnya "terluka" akibat terkena meriam anti pesawat di atas Hai Duong. Enam hari kemudian Coc kembali memangsa sebuah Thunderchief dengan pilot James A. Clemens (POW). William W. Butler menjadi POW ketika Thunderchief-nya dirontokan Coc yang mengukuhkan namanya sebagai Ace pada 20 November 1967. Sebulan kemudian ia mengklaim sebuah Thunderchief berhasil dihancurkan dengan rudalnya pada tanggal 19 Desember tetapi kemenangan keenamnya ini tidak diakui USAF.
Coc harus menunggu 5 bulan lamanya untuk memperoleh kemenangan berikutnya. Take off dari pangkalan Tho Xuan tanggal 7 Mei 1968 sebagai wingman dari leader Dang Ngoc Ngu, diikuti kemudian dua MiG-21 oleh Nguyen Danh Kinh dan Nguyen Van Lung sebagai flight kedua. Misi ini nyaris berakhir buruk. Cuaca yang tiba-tiba berawan tebal ditambah masalah komunikasi antar penerbang dan artileri udara menyebabkan flight kedua ditembak dari darat. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan, leader Ngu mengira flight kedua itu adalah musuh dan serta merta mereka melepas tangki cadangan. Walaupun mereka segera diperingatkan bahwa itu bukan pesawat musuh tapi jelas mengurangi waktu patroli flight pertama. Rencananya mereka berempat akan menyerang sebuah pesawat elektronik EKA-3B Skywarrior yang sangat menganggu radar Do Luong. US Navy menangkap kehadiran mereka dan segera melepas lima F-4B Phantom dari VF-92. Meskipun didukung radar, kondisi cuaca menyulitkan kedua pihak menemukan sasaran. MiG-21 dari flight pertama melakukan tiga kali terbang berputar sampai indikator bahan bakar menyala menandakan bahan bakar hampir habis. Tanpa disadari beberapa menit kemudian Coc terpisah dari leader dan pada saat yang sama ia melihat sepasang Phantom dan memutuskan untuk mengejar. Tiba-tiba ia melihat sebuah Phantom lain didepannya dengan jarak lebih dekat di ketinggian 2500 m. Coc yang diketinggian lebih rendah 1000 m dari sasaran segera mengunci dan melepas K-13 yang langsung mengenai bagian perut Phantom. Blam buruannya langsung jatuh dan crash di laut. Korban ketujuh Coc yaitu pilot Christiansen dan RIO Kramer dapat diselamatkan dan keempat MiG-21 akhirnya memutuskan untuk pulang dengan bahan bakar kritis.
Sejak tanggal 31 Oktober, Presiden Lyndon Johnson menghentikan pemboman atas Vietnam Utara dan serta merta menyebabkan angka kemenangan Coc (dan pilot lainnya) tidak bertambah. Sebagai gantinya USAF melakukan misi mata-mata wahana udara tanpa awak atau UAV. VPAF menjawabnya dengan mengirim MiG-17 dan MiG-21. Suatu operasi yang sulit karena wahana ini terbang sangat rendah (tree top). Tidak mengherankan pula dua kemenangan terakhir Coc merupakan UAV tipe AQM-34 Firebee pada bulan Desember 1969. Menarik untuk dicatat bahwa kemenangan terakhir Coc bukan UAV melainkan OV-1 yang diawaki Carl Long menurut laporan US Marine pada tanggal 20 Desember. Tetapi itu tidak mengapa, satu hal yang pasti bahwa dengan 9 kills (7 pesawat tempur berawak dengan dua UAV) menurut versi VPAF atau 7 kills (6 pesawat plus satu UAV) menurut versi Amerika telah membuktikan Nguyen Van Coc sebagai Ace of Ace Vietnam. Untuk meraihnya ia mengawaki MiG-21PF dan seluruh angka kemenangan diperoleh lewat dogfight dengan memakai rudal K-13 Atoll.
Setelah periode tempur yang luar biasa, VPAF memutuskan untuk menggunakan kemampuan Coc sebagai instruktur untuk melatih pilot-pilot baru yang telah dijalaninya sejak 1969. Sekarang murid-muridnya yang maju perang pada pertempuran udara besar-besaran tiga tahun kemudian.

"MiG-21 Ace" lainnya
Tahun 1972 mulai lagi konfrontasi serius diudara setelah beberapa lamanya vakum. Tanggal 6 April, Amerika mulai mengadakan kampanye pemboman atas Vietnam Utara dengan nama Operasi Freedom Train. Bulan Mei awal Operasi Linebacker I adalah pertempuran paling seram dan merupakan bulan kekalahan VPAF, menurut versi Amerika 27 MiG berhasil dihancurkan dengan 7 diantaranya tanggal 10 Mei yang terkenal itu.
Melihat kesuksesan bulan Mei maka diikuti operasi berikutnya bernama Operasi Linebacker II serta mengklaim 17 angka kemenangan. Pilot USAF dan US Navy ternyata jauh lebih baik kualitasnya baik pesawat maupun teknik bertempur bila dibandingkan tahun-tahun terdahulu. Dengan adanya sekolah Top Gun (US Navy) dan Agressor (USAF) mereka mengenal teknik dogfight jauh lebih baik dan sebagai implikasinya peningkatan air-superiority di udara Vietnam.
Apalagi pesawat VPAF yang dulu berjuang seperti MiG-17 sudah menurun kesaktiannya bila melawan F-4J versi terbaru Phantom, oleh karena itu mau tidak mau VPAF hanya mengandalkan tipe MiG-21PFM yang baru diterima sejak tahun 1971. Dari sinilah nama Nguyen Doc Soat dikenal.

Doc_Soat
Nguyen Doc Soat (kiri) salah satu Ace VPAF dengan memakai MiG-21PFM "Red 5020" (kanan) berhasil merontokan beberapa F-4 Phantom saat operasi Linebacker II digelar Amerika Serikat tahun 1972.

Letnan Nguyen Doc Soat aslinya pilot resimen 921 dan mendapat pelatihan khusus dari sang top scorer Nguyen Van Coc dan pilot jagoan lainnya Pham Thanh Ngan. Awal Mei 1972, Soat ditransfer ke resimen baru yaitu resimen 927. Tanggal 23 Mei, ia meraih kemenangan pertama menembak jatuh sebuah A-7 Corsair dengan kanon 30 mm. Korbannya pilot Charles Barnett terbunuh (KIA). Pada 24 Juni 1972 pukul 15:00 sepasang MiG-21 menyergap beberapa F-4E Phantom yang mau menyerang pabrik senjata di Thai Nguyen. Dua belas menit kemudian pilot Amerika bereaksi sangat cepat, mereka segera memasang full-afterburner ke arah sepasang MiG itu. Tanpa diketahui ternyata sepasang MiG itu hanya pancingan, bahaya sebenarnya adalah sepasang MiG-21PFM yang dipimpin Soat yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Menembakan misil K-13, Soat berhasil menembak Phantom yang diawaki David Grant dan RIO William Beekman (keduanya menjadi POW), semenit kemudian sebuah Phantom lainnya berhasil ditembak wingman Ngo Duy Thu.
Pasangan ini berhasil menembak sepasang Phantom lagi tiga hari kemudian. Berdua take off dari Noi Bai pukul 11:53 menuju kearah sasaran empat F-4, tetapi mereka sadar bahwa Phantom itu berdelapan bukan berempat. Soat dan Thu kabur karena tidak mau mengambil resiko "dijepit" pesawat Amerika tersebut. Mereka mengambil posisi di ketinggian 15,000 feet di balik awan dan menunggu mencari kesempatan menyerang. Kesabaran mereka terbayar saat melihat jejak asap sepasang Phantom yang lengah. Tidak menyia-nyaikan kesempatan, kedua MiG-21 meluncurkan masing-masing sebuah rudal K-13 ke arah Phantom dan berhasil ! Korban ketiga Soat adalah pilot Miller dan RIO McDow (keduanya menjadi POW). Tanggal 26 Agustus, Soat berhasil menembak jatuh dengan rudal satu-satunya Phantom milik US Marine. RIO dari F-4J tersebut berhasil selamat tetapi pilotnya Sam Cordova menjadi KIA. Angka kelima Soat yang mengukuhkan namanya menjadi Ace diperolehnya saat menembak F-4E yang diawaki Myron Young and Cecil Brunson (keduanya POW) pada 12 Oktober 1972.(Sudiro Sumbodo, Jakarta, 2003)

Sumber Pustaka :

1. Angkasa, Edisi Koleksi,"Perang Udara Di Atas Vietnam", edisi XXVII
2. Angkasa, Majalah Bulanan,"Jago-Jago Udara Asia", No. 1 November 1990
3. Angkasa, Majalah Bulanan,"Pemburu MiG", No. 12 September 1993
4. Angkasa, Majalah Bulanan,"Perang Vietnam", No. 4 Januari 2000
5. Angkasa, Majalah Bulanan,"Sejarah Angkatan Udara Vietnam", No. 5 Februari 1992

Sumber Internet :

1. http://www.acepilots.com/vietnam/viet_aces.html
2. http://dukecunningham.org/vietnam.html
3. http://dzampini.boom.ru/Vietnam/NguyenVanCoc
4. http://dzampini.boom.ru/Vietnam/TheDragonJaws.htm

Tidak ada komentar: