Minggu, 17 Januari 2010

'Hantu' tentara merah di Afganistan

Bagi anggota Tentara Merah yang berjuang di Afganistan, mujahidin musuh mereka yang sulit ditangkap disebut sebagai "Dukhi" - hantu.

Namun saat tank terakhir mereka menyebrangi sungai Oxus pada bulan Februari tahun 1989, Rusia meninggalkan sejumlah hantu Perang Dingin.

Di pegunungan Afganistan Utara, masih ada pria berkulit pucat yang berbincang dalam bahasa Rusia saat berkumpul.

Hingga tahun 1981, Nasratullah adalah seorang anggota Tentara Merah bernama Nikolai.

Berdama dengan dua orang temannya, yang kini bernama Rahmatullah dan Aminullah, dia adalah lima tentara Uni Soviet yang masih hidup setelah ditangkap dan menjadi muslim.

Mereka kemudian berjuang melawan komrade lama mereka bersama dengan kaum mujahidin.

'Perang yang kejam'

Petualangan Uni Soviet yang gagal di Afganistan seringkali disamakan dengan pengalaman Amerika di Vietnam.

Rusia menyatakan kehilangan 13 ribu tentara antara tahun 1979 dan 1989 di Afganistan.

Sementara sekitar 1,3 juta warga Afganistan, sebagian besar warga sipil, juga tewas dalam perang itu.

Kini, Nasratullah yang berusia 45 tahun adalah seorang perokok berat yang berbicara dengan bahasa santun dan berpendapatan 80 dolar per bulan sebagai seorang polisi.

Namun, hingga dia pindah agama menjadi muslim, dia adalah perwira yunior regimen parasut Uni Soviet yang elit.

Dia sepakat untuk diwawancara hanya setelah mendapat dukungan dari komrad mujahidinnya. Dia tetap memiliki hubungan dekat dengan orang-orang yang menangkapnya itu.

"Kami menangpak Nasratullah dalam serangan ke desa Kaligai pada tahun 1981," ujar mantan komandan Nasratullah, Sufi Payda Mohammed.

Pasukan mujahidinnya bertugas di lembah curam di propinsi Baghlan, sepanjang rute pengiriman pasokan yang penting dari Uzbekistan ke Kabul.

Komandan mujahidin ini ingat akan "pertempuran hebat" dimana mereka membunuh sekitar 20 tentara Rusia.

Nikolai adalah satu-satunya yang masih hidup, dia ditangkap setelah kehabisan amunisi dan bersembunyi di saluran air dibawah tanah.

Di wilayah yang dikenal sebagai Markas Uni Soviet 80 ini terlihat tank-tank yang berkarat dan kendaran pengangkut yang hancur.

Penduduk setempat mengatakan para pejabat kedutaan Rusia pergi ke lokasi itu dengan membawa uang tunai guna mendapat informasi kuburan tentara Rusia yang hilang. Mereka berhasil membawa pulang enam jenazah.

Pembelot

Nasratullah sendiri menceritakan versi yang berbeda, yang penuh dengan ideologi, mengenai penangkapannya oleh mujahidin.
Dia mengatakan menyaksikan pembantaian 70 warga sipil di Kaligai.

Sufi Mohammed
Sufi Mohammed menangkap Nasratullah dalam pertempuran

"Di Angkatan Bersenjata Rusia kami bersumpah dibawah pedang dan kitab injil untuk membantu masyarakat. Yang telah terjadi itu berlawanan dengan hukum," ujarnya.

Dia mengatakan dia langsung berbalik dan keluar dari unitnya karena perasaan marah dan kesal.

Kedua kubu yang berperang seringkali membunuh tawanan, namun Nikolai ditemukan oleh penduduk desa yang merawatnya dan menyerahkannya ke mujahidin.

Diperlukan waktu satu tahun sebelum akhirnya dia memutuskan untuk masuk Islam. Saat itu dia membantu merawat peralatan mesin.

"Saya tidak memilih untuk pindah agama. Agama ini yang memilih saya," ujarnya.

Orang yang menangkapnya membantah bahwa tentara Rusia itu dipaksa menjadi Muslim, atau melakukannya karena rasa takut.

Amnesti

Ulama yang mengubah agama mereka mengganti nama mereka. Nasratullah kemudian berjuang bersama kaum mujahidin di garis depan selama delapan tahun.

Komandan tentara Rusia ini mengatakan mereka adalah pejuang yang berani, dan sangat berguna dalam menterjemahkan percakapan radio kubu Rusia.

Nasratullah mengatakan lahir di kota Kharkov, Ukraina pada tahun 1960. Dia menolak memberi nama keluarganya.

Ayahnya juga anggota Tentara Merah dan Nikolai bersekolah di akademi militer.

Dia sukarelawan untuk bertempur di Afganistan dan bertugas selama tiga bulan sebelum ditangkap.

Pada bulan Juli 1988, Moskow menawarkan amnesti kepada seluruh tahanan perang Rusia, apapun aksi mereka saat ditawan.

Tidak satupun tentara Rusia yang telah menjadi Muslim mempergunakan tawaran itu, meski mereka pernah mengunjungi Rusia setelah perang berakhir.

"Mereka mengatakan di Rusia merasa seperti merpati putih di antara sapi hitam," ujar Sufi Muhammed.

"Mereka mengatakan 'kami taat agama dan ingin berdoa, tetapi keluarga kami tidak memiliki kepercayaan dan mereka tidak mengerti kami'."

Tidak puas

Ketika dia berkunjung ke Ukraina tahun 1996, Nasratullah bertemu dengan sejumlah komradnya di Tentara Merah.

Dia menyatakan lega karena rekan-rekannya tidak menyalahkan dia karena pindah agama atau membantu mujahidin.

Seperti juga veteran perang Vietnam di Amerika, veteran perang Afganistan di Rusia merasa tidak puas.

Pada bulan Juni terjadi aksi protes masal yang dilakukan oleh sebagian dari 150 ribu veteran perang Afganistan asal Uraina, kebanyakan hanya mendapat uang pensiun dari pemerintah sebesar 40 doalr per bulan.

"Rusia dan Afganistan tidak berbeda," ujar Nasratullah. "Kehidupan saya di sini bagus, meski perekonomian tidak begitu baik."

Saat Taleban berkuasa, Nasratullah dan rekan-rekannya asal Rusia, mendapat perhatian dari pemimpin Taleban Mullah Mohammed Omar yang, terkesan dengan kehidupan relijius mereka, dan memberi rumah serta usaha.

Ketiga tentara Rusia ini beristerikan wanita Afganistan. Tiga tahun lalu, Nasratullah memiliki seorang putri yang diberi nama Mosal.

Tetapi setelah Taleban tersingkir tahun 2001, rumah mereka diambil kembali dan tidak satupun dari ketiganya yang kaya raya.

Oleh warga setempat, mereka dianggap sebagai bahan keingintahuan, dan dikagumi karena taat beragama.

Nasratullah mengatkaan selama dia mendapat dukungan dari komrad mujahidin dan agama Islam dia tidak akan pernah meninggalkan Afganistan.

Tidak ada komentar: