Jumat, 22 Januari 2010

Jumpa Nenek Lena, Pembangun Jalan Rusia di Tangkiling - KALIMANTAN

sumber :http://community.kompas.com/read/artikel/2503

Selepas lulus dari universitas Kazan, Rusia tahun 1955, Lena

memulai karirnya sebagai insinyur lesomelioratsia

(pengairan, kehutanan dan kontruksi) dalam proyek

pembangunan jalan di Buryatia dekat perbatasan Mongolia.

Di kota ini pula Lena bertemu Alexander

Yurievich Kovalcuk-Khimyuk, insinyur

konstruksi jalan raya asal Kharkov,

Ukraina, yang kemudian menyuntingnya

sebagai istri. Dari perkawinan tsb mereka

dikaruniai 1 anak 1 cucu dan 1 buyut.

Sang suami tahun 1988 meninggal dunia

dalam usia 59 tahun karena serangan jantung.

Lena sendiri saat ini tinggal bersama putrinya,

Lyudmila Alexandrovna Kovalcuk-Khimyuk,

yang bekerja sebagai dosen di Kyiv Politechnic Institute.

Menuju Kalimantan

Awal tahun 1964 Lena dan suami yang telah

berpengalaman membangun jalan di tanah

rawa (bolota) Mongolia maupun tempat lain

di Uni Soviet, mendapat instruksi dari

Kementerian Transportasi dan Pembangunan

Uni Soviet untuk mengerjakan proyek

pembangunan jalan di Kalimantan. Kemampuan bahasa

Inggris suami menjadikannya terpilih mengepalai

belasan insinyur, dokter maupun pekerja Soviet lain

dalam proyek ini. Sayangnya, Lena tidak dapat

menjelaskan asal muasal, nilai maupun target

proyek kerjasama Indonesia – Uni Soviet ini.

Sekiranya sang suami masih hidup, mungkin

informasi ini dapat dijelaskan. Di zaman Soviet,

adalah tabu menanyakan hal-hal diluar tugas masing-masing.

Semua orang hanya menjalankan instruksi Moskow dan tidak

perlu bertanya macam-macam.

Bersama 20 expat Soviet dan keluarga mereka,

bulan April tahun 1964 Lena terbang dengan

Aeroflot dari Moskow ke Tashkent lalu Karachi,

Jakarta dan Banjarmasin. Ini merupakan pengalaman

pertamanya terbang ke luar negeri. Dari Banjarmasin

mereka meneruskan naik kapal selama 2 hari menuju Palangkaraya.

Tiba di Palangkaraya, tim insinyur Soviet ini langsung

dihadapkan masalah yang ditinggalkan tim sebelumnya:

jalan rusak, pabrik pengolahan aspal yang belum rampung,

serta sekitar 100 kendaraan dan alat berat buatan Soviet teronggok.

Tugas pertama tim ini adalah memfungsikan seluruh kendaraan agar

tidak menjadi besi tua, membenahi gorodok (areal yang disediakan

Pemprov Kalteng berisi 10 rumah bagi pekerja Soviet tinggal), dan

mengkoordinasi tugas dengan mitra Indonesia mereka yang dipimpin

Ir. D. Mekar Soeria Widjaja serta pekerja setempat.

Kehidupan expat Soviet di pedalaman Kalimantan Tengah yang tanpa

TV serta minim listrik ini tergolong mewah: di gorodok mereka punya

instalasi listrik sendiri, ada landasan pesawat terbang, setiap minggu

menonton film Rusia menggunakan proyektor, serta memiliki 4 juru

masak, tukang cuci, tukang kebun warga Indonesia yang siap

membantu. Air untuk mandi dikirim dengan truk tangki dan

dibuatkan pancuran. Dua minggu sekali pasokan bahan

makanan (tepung, kaviar, keju dsb) dikirimkan dari

Banjarmasin, terkadang menggunakan helikopter.

Untuk menghindari bahaya nyamuk, mereka semua telah

divaksinasi dan tidur menggunakan kelambu.

Pengalaman Lena dan suami membangun jalan raya di tanah

rawa balota Soviet memudahkan mereka dalam menerapkan

teknik pembangunan jalan di atas tanah gambut. Terlebih

mengingat proyek ini mempertaruhkan prestise bangsa,

insinyur Soviet secara maksimal menerapkan teknik tinggi

yang tidak di semua jalan raya di Uni Soviet sekali pun, dipergunakan.

Selain jalan raya, para insinyur Soviet juga membangun jembatan serta

saluran air di Tangkiling.

Kendala bahasa dengan pekerja maupun masyarakat setempat,

tentu dihadapi. Namun berkat kursus intensif bahasa Indonesia

selama 4 bulan dan interaksi dengan masyarakat setempat,

Lena tidak lagi memerlukan jasa penerjemah orang Rusia yang disediakan.

Di masa tuanya kini, Lena bahkan tengah menyiapkan

kamus bahasa Rusia – Indonesia – Tatar yang saat ini telah

terkumpul sekitar 2500 kata.

“Masyarakat dayak atau banjar sangat bersahabat.

Dari mereka saya tahu olahraga bulutangkis dan sempat

menjuarai beberapa turnamen yang diadakan antar pekerja,” ujar Lena .


Kembali ke Ukraina

Bulan November 1966 para insinyur Soviet diberitahu

bahwa mereka harus meninggalkan bumi Kalimantan

secepatnya karena terjadinya perubahan politik

di Indonesia. Sang suami masih sebulan kemudian

bertolak, karena perlu menyelesaikan berbagai hal

berkenaan penutupan proyek. Suasana perpisahan

begitu mencekam, terutama bagi sang suami yang

tinggal belakangan, meski Lena tidak menjelaskan detilnya.

“Pokoknya, nyaris terbunuh.” Segala sesuatu yang berbau

Soviet dan Rusia saat itu memang tidak lagi dianggap sebagai

sahabat oleh Indonesia.

“Pimpro Indonesia, Ir. D. Mekar Soeria Widjaja, masih sempat

memberikan oleh-oleh dompet kepada suami saya yang masih

saya simpan sampai sekarang,” ujar Lena sambil memperlihatkan

dompet dimaksud.

Ada secarik kartu nama dengan tulisan tangan berbunyi demikian:

Tandamata untuk yang tercinta Ir. A. Kovaltjuk H. Di Palangkaraya

kita tidak sempat melihat buaya, tetapi kenang-kenangan ini adalah

kulit buaya Kalimantan. Sampai bertemu lagi dan salam untuk

nyonya dan keluarga.”

Sekembali ke Ukraina, Lena dan suami lekas disibukkan

dengan berbagai proyek konstruksi jalan raya, rumah,

sekolah dsb di seantero Uni Soviet. Lena juga sempat

kembali kuliah di bidang konstruksi dan memperoleh

gelar keduanya. Tahun 1984 Lena pensiun, namun

tidak menyurutkan kiprahnya dalam masyarakat.

Selain menulis kamus dan memomong cicit ,

Lena aktif dalam organisasi masyarakat Tatar “Tugan Tel”

serta menjadi ketua dewan veteran distrik

Svyatoshin – Kyiv. Mantan walikota Kyiv,

Alexander Omelchenko pernah pula

memberinya lencana atas peran aktif Lena dalam dewan veteran 1945.

Kontak Lena dengan Indonesia terjalin kembali tahun 2003

silam ketika bertemu seorang Indonesia di Kyiv yang

memberitahunya tentang keberadaan KBRI Kyiv.

Sejak itu, dalam kesempatan HUT RI atau gelar budaya

Indonesia, Lena senantiasa diundang dan berkesempatan

mencicipi kembali hidangan Indonesia maupun menonton

film serta tarian Indonesia.

Namun sebelum munculnya artikel di KOMPAS mengenai

Tangkiling, tidak seorang pun di KBRI memahami kerinduan

Lena akan Indonesia. Kerinduan itu akhirnya komplit

terpenuhkan setelah mengetahui “Jalan Rusia” di

Tangkiling yang turut dibangunnya masih tetap baik

dan mulus setelah lebih 40 tahun dibangun.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Hi....
Terima kasih atas artikel anda tentang saksi hidup sejarah pembangunan di kalimantan. Saya sedang melakukan riset pribadi tentang sejarah pembangunan di kalimantan selatan, salah satunya adalah proyek besi baja kalimantan selatan yang didanai oleh pemerintah Uni Sovyet tahun 1956. Saya berterima ksih sekali jika anda bersedia sharing info mengenai hal tersebut.

Salam
Erwan
Banjarbaru Kalsel