Jumat, 22 Januari 2010

Kehancuran Rezim Komunis Soviet Masih Diselimuti Misteri

BERLIN (SuaraMedia News) – Peringatan 20 tahun revolusi Eropa Timur tahun 1989 telah membuka kembali perdebatan panjang tentang siapa yang memenangkan Perang Dingin dan apa yang menyebabkan komunisme Soviet pecah sangat cepat dalam tahun-tahun terakhirnya. Runtuhnya Tembok Berlin bulan November 1989 adalah sebuah batu pijakan simbolik menuju pecahnya Uni Soviet dua tahun kemudian. Melihat ke belakang, banyak orang yang terlibat langsung masih bertanya-tanya: Apakah komunisme Soviet dikalahkan? Apakah mereka digulingkan? Atau kolaps dari dalam? Gerak jalan tentara dalam pakaian khas komunis ketika acara peringatan tumbangnya negara soviet. (SuaraMedia News)

Serangkaian peristiwa yang terjadi susul-menyusul dalam waktu cepat pada akhir Perang Dingin tidak menjadi perdebatan. Pembicaraan bersejarah Polandia antara serikat dagang Solidaritas yang dilarang dan pihak penguasa Partai Komunis terjadi pada musim semi tahun 1989.

Dalam hitungan bulan, Hungaria telah kembali memperkenalkan sistem multipartai. Di akhir tahun, Revolusi Velvet di Cekoslowakia menjadikan Vaclav Havel sebagai presiden terpilih.

Dan pada malam tanggal 3 November, puluhan ribu warga Berlin menyerbu tembok yang telah memisahkan kota mereka sejak tahun 1961.

Kronologis semua peristiwa itu jelas. Namun, yang menjadi kontroversi adalah mengapa komunisme Soviet runtuh dengan cepat.

“Sejak awal, saya telah mengajukan konsep yang kurang populer bahwa komunisme tidak dikalahkan, tapi runtuh dengan sendirinya. Komunisme di akhir tahun 1989 sudah terlalu lemah, tua, dan kosong tanpa makna untuk masih tetap eksis,” ujar Klaus.

Joseph Nye adalah ahli kebijakan luar negeri yang berpengaruh dan mantan pejabat tinggi era pemerintahan Clinton. Nye sependapat dengan Klaus bahwa penyebab utama Soviet kolaps adalah kegagalan ekonomi dan menurunnya ideologi komunis.

Ia mengatakan bahwa sejak tahun 1970an, perekonomian Soviet terbukti tidak dapat menyesuaikan diri dengan sistem produksi global yang dikendalikan oleh informasi. Nye juga menunjuk pada apa yang ia sebut pengurasan ide-ide komunis yang menurutnya telah menjadi otoriter dan diktator di bawah Stalinisme.

“Jadi, pada saat Tembok Berlin runtuh tahun 1989, ia tidak runtuh karena serbuan artileri, tapi karena palu dan buldoser rakyat yang telah kehilangan keyakinan terhadap ide-ide komunisme,” ujarnya.

Namun Nye mengatakan bahwa pilihan yang diambil oleh Mikhail Gorbachev menyusul penunjukkannya sebagai sekretaris jenderal Partai Komunis Soviet tahun 1985 mempercepat keruntuhan negara tersebut.

“Dia ingin menyelamatkan komunisme namun dalam prosesnya ia malah mempercepat kehancurannya. Jadi, kebijakan perestroika (restrukturisasi ekonomi) dan glasnost (keterbukaan) yang digagasnya justru mempercepat disintegrasi kekaisaran Soviet,” ujar Nye.

Richard Pipes, mantan pejuang anti-Soviet yang menjadi pejabat di era Reagan, juga menekankan peran utama Gorbachev.

Ia mengaitkan percakapan dengan penasihat dekat mantan pemimpin Soviet itu, Alexander Yakovlev, tentang bagaimana pejabat Kremlin melihat sistem tersebut sebagai kesalahan permanen.

“Yakovlev mengatakan bahwa ‘Awalnya kami berusaha, dalam tiga tahun pertama pemerintahan Gorbachev, untuk meningkatkan sistem tersebut, menjaganya agar tetap utuh. Namun di tahun 1988 kami menemukan bahwa sistem itu tidak dapat lagi direformasi. Kami tidak dapat mengubahnya. Karena itu, diambil langkah-langkah virtual untuk menghapusnya’,” ujar Pipes.

Sementara kegagalan sistemik menjadi faktor utama bagi banyak pengamat, pihak lain lebih menekankan pada peran yang dimainkan individu untuk mengalahkan komunisme dari dalam.

Miklos Haraszti mendirikan gerakan oposisi demokratis Hungaria pada pertengahan 1970an. Ia mengatakan bahwa sistem Soviet kolaps karena oposisi Eropa Timur berhasil mendobrak monopoli informasi komunis.

“Sistem itu runtuh oleh kinerja sebuah generasi baru oposisi di dalam negara-negara satelit Eropa Timur yang bekerja selama 20 tahun membangun sebuah sistem infrmasi alternatif, mengetahui bahwa itu adalah tujuan yang paling penting,” ujarnya.

“Mereka tahu bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengubah sistem. Mereka hanya bertindak dengan moral, dan itu sangat penting. Dapat saya katakan bahwa contoh moral mereka tidak tergantikan. Mereka benar-benar paham bahwa satu-satunya yang dapat mereka lakukan adalah masuk penjara. Dan mereka melakukannya,” ujar Haraszti.

Ia mengatakan bahwa reformasi yang dilakukan oleh kediktatoran komunis tidak pernah mengarah pada perubahan sistemik tanpa adanya oposisi yang secara aktif menciptakan apa yang ia sebut dengan “gerakan masyarakat sipil”.

Bulan Juli 1989, Gorbachev secara resmi mengumumkan kembali doktrin Brezhnez, sebuah kebijakan yang membenarkan penerapan peraturan partai komunis oleh Soviet di negara-negara satelit Eropa Timur.

Komentator Amerika lainnya memiliki pendapat bahwa pembangunan militer AS dan kepemimpinan moral Reagan-lah yang memenangkan Perang Dingin.

Helle Dale adalah spesialis urusan luar negeri di Yayasan Heritage yang bersifat konservatif.

“Faktor paling penting adalah kepemimpinan Amerika yang diwujudkan melalui deterrence terhadap Uni Soviet secara militer dan kekuatan untuk menyiarkan kepada dunia internasional serta diplomasi publik dari AS yang melanjutkan pertarungan ideologi di balik Tirai Besi,” ujar Dale.

Namun Nye mengatakan bahwa sementara ide-ide AS dan kemampuannya untuk ‘menangkal agresi Soviet’ adalah penting dalam memahami akhir Perang Dingin, tidak satupun dari keduanya yang menjadi akar penyebab.

“Runtuhya komunisme Soviet adalah sebuah proses erosi. Saya rasa untuk menyebutnya sebagai kekalahan adalah sebuah kesan yang berasal dari luar. Saya rasa yang paling penting adalah apa yang terjadi di dalam.”

Dua puluh tahun setelah runtuhnya Tembok Berlin, perdebatan masih berlanjut. Sejarah definitif tentang akhir Perang Dingin masih belum ditulis dengan jelas. (rin/vn) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar: