Senin, 25 Januari 2010

Kesebelasan Indonesia lawan Uni Soviet

http://ia-itb.blogspot.com/2009/07/kesebelasan-indonesia-lawan-uni-soviet.htmlOleh Cardiyan HIS



If there was an Olympic Medal awarded for courage, tenacity and refusal to admit inferiority, the INDONESIAN SOCCER TEAM would have won it hands down yesterday at Olympic Park. They confounded experts, amazed the spectators and worried the Russian team a scoreless draw, even after extra time had been ordered. It was the most fantastic soccer match I have ever seen. (Bill Fleming, senior soccer writer at the AGE news paper, Australia, 30 November 1956).



Hari yang sudah lama dinanti-nantikan akhirnya telah tiba. Stadion Olimpiade ke XVI di Melbourne pada tanggal 29 Nopember 1956 telah dipenuhi penonton yang akan menjadi saksi pertandingan antara favorit juara Uni Soviet (Rusia sekarang) melawan kekuatan Asia yakni negara tetangga Australia; INDONESIA !!!!


Sebelum pertandingan berlangsung, beberapa pemain inti Indonesia didera cedera. Dipastikan mereka tidak bisa tampil yakni Ramli (asal PSMS Medan), Rukma dan Ade Dana (keduanya berasal dari Persib Bandung disamping Danu dan kapten Persib dan tim nasional Indonesia Aang Witarsa). Padahal ketiga pemain ini boleh dikatakan pemain ulung yang nyaris tak tergantikan. Padahal lawan yang akan dihadapi adalah Uni Soviet yang dua hari sebelumnya baru saja mengalahkan favorit lainnya yakni Jerman dengan skor 2-1.


Pelatih Indonesia asal Yugoslavia; Tony Pogacknik harus putar otak. Dimanakah sebenarnya letak keunggulan Uni Soviet? Yang pasti ialah secara perseorangan mereka masing-masing adalah jauh lebih ahli atau lebih mahir dari pada pemain-pemain Indonesia. Pun di dalam hubungan keseluruhannnya, mereka lebih utuh, dan kokoh. Napas mereka lebih panjang, larinya lebih cepat, tendangannya lebih keras, orangnya tentu saja lebih besar dan lebih kuat pula dari pada pemain-pemain Indonesia. Ini belum lagi terhitung kelebihan mereka dalam hal teknik dan taktik permainannya. Jadi pendek kata, Indonesia harus ekstra waspada.


Sungguh pun demikian, Tony masih dapat menemukan kekurangan mereka. Dan yang pasti ketika melawan Jerman, jarang terlihat tembakan-tembakan yang jitu dan membahayakan gawang Jerman. Kebanyakan tendangan keras mereka kalau tidak menyamping ke gawang, ya jauh melambung di atas gawang Jerman. Dua gol yang tercipta pun sepenuhnya merupakan keunggulan permainan individu pemain Uni Soviet, bukan hasil permainan kolektif melalui sett-piece yang cantik.



Taktik Indonesia: Pertahanan Diperkuat


Satu-satunya jalan ialah kita harus memperkuat barisan pertahan kita, sekokoh-kokohnya. Dan siasat tersebut ternyata berhasil diterapkan dengan bagus oleh para pemain Indonesia. Barisan kita di belakang, dibuat berlapis-lapis. Yaitu: tiga orang back sejajar, membujur dari kanan ke kiri, terdiri dari Rasyid-Kiat Sek-Chaeruddin. Benteng ini sungguh kuat dan lincah sekali dalam gerakan-gerakannya, seperti penjalin yang dapat dibengkok-bengkokka n dan dapat dipentalkan kembali. Inilah sebenarnya barisan atau lapisan terakhir yang membentang di depan gawang Saelan.


Sebelum lapisan ini, maka membentang pula suatu pagar, yang melintas di depannya, siap menerima pukulan-pukulan yang pertama dari Uni Soviet. Dan pagar yang sangat gigih ini terdiri dari pemain-pemain yang sangat ulet, yaitu Siang Liong-Him Tjiang-Liong Houw. Jadi sebelum bola dapat mendekati pada gawang Indonesia, terlebih dahulu harus dapat melewati pagar ini, kemudian sampailah kepada benteng yang kedua. Dan biasanya, di sini barisan penyerbu lawan sudah kehilangan daya kekuatannya. Karena sudah mendapatkan rintangan-rintangan dalam dua lapisan berturut-turut.


Kemudian untuk dapat menghubungkan antara depan dan belakang, maka harus ada salah seorang yang benar-benar dapat menyelenggarakan tugas yang sangat berat tersebut. Yaitu orang yang benar-benar mempunyai daya tahan dan napas yang sangat kuat karena dia harus berkeliaran ke segala tempat yang diperlukan, baik ke belakang maupun ke depan bahkan jika perlu harus ikut bertahan atau ikut menyerang pula. Orang yang dipercaya Tony Pogacknik sebagai “tukang pikul air” ini adalah Ramlan.


Dan tinggalah sekarang ketiga pemain depan terdiri dari kapten tim Aang Witarsa, Danu dan Ramang. Pemain-pemain ini adalah pemain pilihan tentu saja karena merupakan pemain yang sangat cepat, berani dan mempunyai tendangan keras dan jitu. Sebab mereka hanya bertiga harus melawan 4 atau 5 pemain belakang lawan. Sayanglah karena Danu badannya tidak fit benar, maka kekompakan yang diharapkan dari barisan penyerang ini kurang memberikan hasil optimal.


Maka taktik pertahanan yang diperkuat menjadi pilihan akhir. Taktik semata-mata hanya untuk memperoleh pertahanan yang sangat kuat; “apa boleh buat diperuntukkan untuk mempertahankan diri agar supaya lolos dari kekalahan”.


Dalam pertandingan itu Uni Soviet telah menendang bola ke luar melalui garis gawang (out keeper) sebanyak 46 kali. Menembak 20 kali yang dapat ditangkap dengan gemilang oleh penjaga gawang Saelan. Uni Soviet memaksakan tendangan penjuru sebanyak 23 kali!


Dan di perpanjangan waktu 2x15 menit, penyerang-penyerang Uni Soviet yang sudah kehilangan akal untuk membobol gawang Indonesia, maka dengan segala cara mencoba memforsir satu penalti. Yaitu ketika ada kemelut di depan benteng Indonesia, maka penyerang mereka sengaja menjatuhkan diri seolah kesakitan luar biasa. Tetapi untunglah wasit tidak dapat dipengaruhinya, seperti ditulis reporter the SUN: “ ....in sheer desperations at one stage, the Russian tried to force a penalty kick decisions in their favour, but desisted when the referee failed to impressed ....”


Dan akhirnya Indonesia pun tetap berhasil menahan raksasa Uni Soviet dengan skor 0-0.


Dalam pertandingan ulangan keesokan harinya, Uni Soviet berhasil mengalahkan Indonesia -----yang pemain-pemainnya telah cedera dalam pertandingan semalam namun tetap dipaksakan tetap bermain, karena Ramli, Rukma dan Ade Dana pemain sebelumnya juga tak dimainkan ditambah Danu yang cedera pada pertandingan semalam---- dengan skor 4-0. Uni Soviet pula akhirnya yang menjuarai Olimpiade ke XVI di Melbourne, setelah di final mengalahkan Yugoslavia dengan skor 1-0.


Bahan: Cardiyan HIS, “PSSI Tempo Doeloe Hebring”, Penerbit Pustaka Dinamika Mediatama, Jakarta 1988.

Tidak ada komentar: