Kamis, 28 Januari 2010

Memori Kekejaman di Era Stalin


Kejahatan mereka satu-satunya adalah karena menjadi orang Jerman.

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=41032

Angin dingin membelai lembut wajah Viktor Fast yang sedang menatap rentetan barak yang hancur di antara timbunan salju di Kazakhstan. Tempat di mana orang tuanya bersama jutaan orang Jerman-Rusia mengalami kekejaman tinggal di barak pekerja Soviet selama bertahun-tahun.

“Waktu itu sangat tidak enak,” kata Fast yang memiliki anggota keluarga yang dituduh bekerja sama dengan Nazi pada 1930, padahal telah tinggal di Rusia selama berabad-abad sebagai petani.

“Waktu itu sangat tidak menguntungkan sebagai orang Jerman,” terang Fast, 58 tahun. Sekarang Fast menjadi penduduk Frankfurt, dia sering datang ke daerah terpencil di Kazakhstan untuk memberi penghormatan kepada yang tewas di era kekejaman Stalin.

Jutaan orang termasuk etnik Jerman dan Rusia yang membangkang, tewas antara 1930 dan 1960. Mereka tidak sanggup bertahan dari kelaparan dan penderitaaan di barak gulag yang berada di tundra kutub utara Rusia sampai di padang rumput yang sangat tidak bersahabat di Kazakh.

Salju turun ke bawah kakinya ketika Fast berwisata ke Dolinka, desa di pusat Kazakh. Potongan kawat berduri dan sebaran barak yang hancur—banyak yang diubah menjadi rumah—mengingatkan Dolinka di masa lalu.

Berpuluh-puluh tahun, teror Stalin diakui secara global sebagai satu dari kejahatan pelanggaran HAM terbesar di dunia. Para korban selamat dan aktivis berkeluh kesah tentang keengganan masyarakat Rusia melihat ke belakang catatan sejarah mereka.

“Masyarakat tidak mengakui kenangan masa lalu,” kata Fast, berbicara bahasa Rusia dengan aksen Jerman. ”Tujuh puluh tahun kebijakan Soviet menghapus ingatan mereka,” terangnya.

Ketika Moskwa masih memperdebatkan mengenai catatan sejarah Stalin, aktivis HAM menuduh Vladimir Putin mencoba menutupi warisan kediktatoran di era Stalin dan mengubah pembantaian menjadi bagian yang terlupakan dalam sejarah Soviet.

Ada sedikit perdebatan tentang kamp gulag di Rusia tempat Stalin dipilih menjadi tokoh ketiga paling populer sepanjang sejarah dalam jajak pendapat tahun lalu. Sebuah prasasti bagi Stalin dipugar di stasiun metro di Moskwa. Pada Senin (21/12), warga Rusia memperingati 130 tahun kelahiran Stalin di Georgia.

“Ada usaha untuk membersihkan nama Stalin dan membenarkan kebijakan tangan besinya, dan itu adalah sangat disayangkan,” ujar Yekaterina Kuznetsova, 71 tahun, peneliti gulag terkemuka. “Tetapi sejarah selalu cerdas. Selalu berulang dengan sendirinya,” tandasnya.

Kuburan massal.
Masih belum jelas berapa banyak korban yang tewas di kamp gulag, yang disebut Karlag. Kematian tahanan di kamp gulag secara keseluruhan juga bervariasi antara 1,5 juta sampai 20 juta orang. Penduduk Dolinka menggambarkan padang rumput tersebut adalah salah satu dari kuburan massal.

Satu padang rumput yang ditandai dengan tanda silang, sebuah tempat di mana ratusan anak—keturunan musuh rakyat—dikubur. Tempat ini terkenal dengan nama Mamochkino – atau kuburan mumi.

Catatan dinas keamanan NKVD Soviet pada 1943 tertulis : “Kematian tahanan meningkat tajam di Karlag .. setelah bekerja bergantian di tengah cuaca dingin dan tidak dapat menghangatkan diri di barak yang dingin … dan mati tanpa mendapatkan penanganan medis.”

Peninggalan Stalin menggantung seperti awan gelap di bagian Kazakhstan, padang rumput yang luas dan cukup terpencil dari penguasa Soviet, tempat untuk menguji coba ratusan bom nuklir dan membungkam orang yang membelot.

Di dekat Kota Karagandy, banyak bangunan era Stalin yang dibangun oleh para tahanan gulag, didominasi oleh patung besar pemimpin Bolshevik, Vladimir Lenin. Tugu marmer dibangun di taman kota untuk mengenang para korban.

Dua puluh tahun sejak merdeka, Kazakhstan sendiri masih berjuang untuk berdamai dengan masa lalunya, dan giat menjaga hubungan baik dengan Rusia – mitra dagang terbesarnya.

Sesungguhnya banyak rakyat Kazakhstan yang marah terhadap pemerintah yang enggan menyelesaikan masalah warisan Soviet di negara di mana jutaan warganya tewas sebagai tahanan gulag selama rezim Stalin.

Pekan lalu, ratusan orang berunjuk rasa di Almaty menuding pemerintah tidak cukup melakukan tindakan untuk menghormati masa lalu. Pemerintah yang berkuasa saat ini justru mempertahankan gaya pemerintahan era Soviet.

“Ini masalah yang pelik. Saya menyebut ini sebagai sebuah tabu,” kata Achim Schmillen, peneliti Jerman yang berkunjung ke Dolinka untuk melihat tugu peringatan tahanan gulag. “Hubungan dengan Rusia sangat penting. Sulit bagi Kazakhstan untuk bersikap dan mendefinisikan identitas mereka.”

Tidak ada komentar: