Rabu, 20 Januari 2010

Menggugat Pelanggaran HAM Perang Dunia Kedua

Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sambutannya pada parade peringatan kemenangan Tentara Merah mengatakan 61 negara dan 3/4 penduduk dunia terlibat dalam perang dunia kedua. Tetapi pertempuran paling brutal yang pada akhirnya sangat menentukan hasil perang, terjadi di wilayah Uni Soviet. Sedikitnya 8 juta Tentara Merah Soviet tewas, dan ini belum ditambah lagi dengan 18 juta warga sipil lainnya yang turut tewas di Uni Soviet. Total korban tewas dalam perang dunia kedua sedikitnya berjumlah 103 juta orang.

Sementara buat negara-negara di Eropa Tengah dan Timur, peringatan di Moskow dianggap sebagai peringatan tragedi. Karena setelah menderita di bawah rejim Nazi mereka harus kembali tertekan akibat komunisme. Bagi Eropa Timur hari pembebasan itu baru terasa setelah tembok Berlin runtuh pada 9 November 1989. Sedangkan buat negara-negara Baltik yang menderita di bawah pemerintahan sentral komunis Moskow, kebebasan baru bersemi pasca tahun 1991 setelah terjadi gerakan pembaruan ekonomi "perestroika" dan keterbukaan "glasnot" yang mengambrukan Uni Soviet.

Monumen Perjuangan Warsawa di Ibukota PolandiaPendudukan Soviet
Jacek Magala merupakan sosiolog Polandia. Menurutnya, bagi warga Eropa Timur perang dunia kedua dimulai dengan serangan kombinasi dua kekuatan besar yaitu Rusia dan Jerman pada September 1939. Hitler bekerjasama dengan Stalin menduduki Polandia dan negara-negara Baltik.

"Dari tahun 1944 hingga 1945 saat pasukan Rusia kembali berkuasa, deportasi dilakukan terhadap seratusan ribu warga Estonia, seratusan ribu Latvia, seratusan ribu warga Baltik, 150 ribu warga Polandia, 300 ribu warga Ukraina, seratusan ribu Bulgaria dan seratusan ribu Hongaria. Mereka dideportasi ke Siberia. Sebagian besar meninggal. Mereka ditangkap dan dalam satu jam harus segera berkemas. Kegiatan tersebut dimulai pada musim panas. Mereka harus menempuh perjalanan selama satu pekan ke Siberia. Banyak yang tak kuat dalam perjalanan. Hanya sekitar 400 orang yang tiba di Siberia. Pada musim semi tahun depannya mereka yang tersisa itu akhirnya meninggal semua."

"Dapat dikatakan bahwa pendudukan Soviet atas Eropa Timur sedikitnya lebih menyakitkan ketimbang pendudukan Hitler. Apalagi ketika Hitler mengalami kekalahan di tahun 1945 dan pasukan Jerman dipukul mundur, warga Eropa Timur turut ambil bagian dalam perang melawan Hitler secara mandiri. Seperti yang dilakukan oleh Hongaria dan Slovakia. Sekalipun begitu pada akhirnya justru Rusia yang ganti berkuasa. Padahal Rusia ini pula yang pada awalnya memulai perang bersama-sama dengan Hitler. Hanya saja Rusia yang tampil sebagai pemenang perang. Setelah itu selama 40 tahun kami senantiasa harus mengucapkan terima kasih atas hari pembebasan yang sebenarnya bukan pembebasan. Kami harus menjalani kebohongan tersebut selama 40 tahun. Itu benar-benar menyakitkan!"

Sosiolog Polandia, Jacek Malaga, tidak sendirian bersuara kritis seperti itu. Negara-negara Baltik seperti Estonia dan Lithuania menolak hadir dalam peringatan 60 tahun kemenangan Tentara Merah atas Nazi Jerman atas dasar pertimbangan sama. Mereka masih menunggu permintaan maaf Moskow atas pendudukan lepas tahun 1945, karena dianggapnya pemerintah sentral komunis tersebut banyak melakukan pelanggaran hak asasi manusia. Negara-negara Baltik berusaha menunjukan upaya menjauh dari Rusia, yang dianggap sebagai penjajah.

Monumen Nasional Belanda untuk memperingati hari pembebasanBelanda
Resminya pendudukan Jerman berakhir tanggal 7 Mei 1945. Pada waktu itu stasiun radio di selatan Belanda, Kota Eindhoven, mengumumkan pembebasan Eropa dari cengkraman Nazi Jerman. Penyiar radio menjelaskan telegram yang baru saja masuk dari garis depan.

"Pernyataan menyerah pasukan Jerman ditandatangani pagi ini di sekolah kecil yang dijadikan markas besar Jenderal Eisenhower. Jenderal Alfred Jodl, kepala angkatan bersenjata Jerman yang baru, atas nama negaranya menandatangani pernyataan menyerah."

Kendati begitu di Belanda hari pembebasan dirayakan setiap tanggal 5 Mei. Ini dikaitkan dengan keberhasilan pasukan Kanada merebut kota Amsterdam dari tangan Jerman pada tanggal 5 Mei 1945 yang disusul dengan pernyataan menyerah pasukan Jerman di Belanda dan Denmark kepada pasukan Kanada dan Inggris. Belanda kemudian menjadikan tanggal 4 Mei sebagai hari untuk mengenang para korban perang dunia kedua.

Tepat pukul 20 malam selama dua menit warga Belanda diminta untuk mengheningkan cipta bagi seluruh warga sipil dan militer di Belanda atau di manapun di dunia ini yang gugur sejak terjadi perang dunia kedua, baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalam operasi perdamaian. Dalam dua menit warga dimohon merenung bahwa di Belanda mereka bisa dan boleh merasakan kebebasan.

Pelanggaran HAM
Tapi, seperti halnya warga negara Balkan dan Eropa Timur, beberapa warga Belanda juga merasa tidak puas dengan peringatan 60 tahun berakhirnya perang dunia kedua. Sebab bagi mereka perang dunia tersebut menyisakan pelanggaran hak asasi manusia yang tidak tuntas diselesaikan. Keadilan sedikitnya hanya berhasil ditegakan dalam kasus kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan oleh Nazi Jerman lewat peradilan Nuremberg yang dilaksanakan di Istana Keadilan Nuremberg dari tanggal 20 November 1945 hingga 1 Oktober 1946.

Pengadilan ini disebut-sebut sebagai pengadilan hak asasi manusia pertama sekalipun mengambil istrumen tribunal militer internasional. Ia mengadili 24 penjahat perang dan enam organisasi yang terkait dengannya. Mereka semua didakwa melakukan konspirasi kejahatan terhadap perdamaian, terlibat pelaksanaan agresi, melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Sebagian besar terdakwa kemudian divonis hukuman mati dan penjara seumur hidup. Peradilan Nuremberg menjadi cikal bakal perkembangan hukum pidana internasional serta pengadilan pidana internasional. Sayangnya peradilan kasus kejahatan perang dan kemanusiaan dalam perang dunia kedua cuma berhenti di pelaku Nazi Jerman. Padahal kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia pada masa itu terjadi di seluruh penjuru dunia.

Pemakaman Chungkai. Di sini korban kekerasan Jepang dimakamkan.Pendudukan Jepang
Antonius Marinus Bom merupakan warga Belanda yang tinggal di Indonesia saat Jepang berkuasa pada masa perang dunia kedua. Ia menceritakan pengalamannya di kamp kerja paksa. Ia bersama 18 ribu warga Belanda lainnya dipaksa Jepang membangun jalur kereta Birma-Siam(sekarang Thailand). Bersama mereka juga ada ratusan ribu orang Asia. Banyak yang meninggal akibat penderitaan dan kekejaman tentara Jepang dalam kamp-kamp tersebut.

"Ketika jalur kereta tersebut selesai, Antonius Bom bersama pekerja paksa lainnya menerima hadiah kecil dari jenderal Jepang berupa 20 kertas toilet. Dengan kertas itu Antonius Bom kemudian dapat melakukan cebok. Selama satu setengah tahun kerja paksa, Bom mengalami diare dan berak di mana-mana. Ia tidak bisa cebok, andaipun cebok ia hanya gunakan daun-daunan. Jadi ia sangat girang saat mendapat hadiah kertas toilet tersebut walaupun jumlahnya sangat tidak cukup untuk penghuni kamp. Antonius Bom lalu bereaksi dengan berkata: ini gila! kita tidak boleh pakai kertas itu sendirian, tapi harus bersama-sama dan saling bergantian!"

Ketika Belanda jatuh ke tangan Jerman di Eropa, wilayah Nederlands-Indië, begitu nama Indonesia sebelum merdeka, jatuh ke tangan Jepang. 10 Januari 1941 Jepang memulai agresinya atas Indonesia dengan menyerang dan menguasai Tarakan di Kalimantan serta Manado di Sulawesi. Nederlands-Indië resmi menyerah pada tanggal 9 Maret 1942 di Kalijati, Subang, Jawa Barat.

Warga Belanda dan keturunannya yang berjumlah 100 ribuan orang pada waktu itu kemudian dimasukan di kamp-kamp yang terserak di berbagai wilayah Indonesia dan Asia tenggara. Para suami dipisahkan dari istri dan anaknya untuk menjadi pekerja paksa. Sementara perempuan entah itu warga Belanda maupun Indonesia banyak menjadi korban kekerasan seksual.

Comfort Woman-Organisasi Perempuan Korban Kekerasan Perang Dunia KeduaTuntutan terhadap Jepang
Namun dibutuhkan waktu dan perjuangan yang lama untuk membawa kasus kekerasan seksual perang dunia kedua ke pentas peradilan hak asasi manusia. Pada tahun 2001 tribunal kejahatan perang internasional memutuskan bahwa Kaisar Jepang Hirohito dan beberapa petinggi militer lainnya bersalah melakukan kejahatan kemanusiaan dalam kasus kekerasan seksual tentara Jepang.

Hakim Gabrielle Kirk McDonald yang merupakan mantan hakim ketua tribunal kejahatan perang Yugoslavia meminta Jepang agar memohon maaf kepada para korban perempuan dan membayar ganti rugi. Tapi sialnya keputusan ini dianggap tidak mengikat. Jepang merasa tidak wajib melaksanakan keputusan tersebut. Kaisar Hirohito yang dianggap bersalah oleh tribunal internasional, tetap dipandang sebagai pahlawan Jepang.

Kendati demikian Jan Ruff-O Herne, perempuan Belanda yang saat berusia 19 tahun diperkosa setiap hari oleh tentara Jepang di kamp Indonesia, menyambut baik keputusan tersebut.

"Jangan sampai kejahatan atas kemanusiaan seperti itu terjadi lagi. Dan setelah tribunal ini Jepang tidak bisa lagi menyangkal kekejaman-kekejamannya terhadap perempuan. Jadi ini merupakan kemenangan besar bagi kita dan bagi masa depan perlindungan perempuan dalam perang!"

Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945 dibacakan presiden pertama SoekarnoBagaimana dengan Indonesia?
Kalau Jerman dituntut meminta maaf atas kekejaman perang dunia kedua, kalau Rusia dituntut meminta maaf atas kekejaman Uni Soviet, kalau Jepang dituntut meminta maaf atas perilaku tentaranya, lalu bagaimana dengan Belanda? Apakah Indonesia dapat menuntut Kerajaan Belanda atas agresinya? Belanda hingga kini tidak mengakui proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, melainkan mengisitilahkan dengan pemberian kedaulatan pada tanggal 27 Desember 1949. Peneliti muda bidang sejarah dan hak asasi manusia Asvi Warman Adam.

"Yang menjadi persoalan adalah kalau Belanda mengakui Indonesia merdeka tahun 1945 berarti tahun 45 sampai 49, dia sudah melakukan pelanggaran kedaulatan. Dia sudah melakukan kekejaman di sebuah negara yang bukan negaranya. Ini akan berdampak sangat luas, bahwa ini sebuah kejahatan kemanusiaan. Saya kira Belanda tidak akan bersedia mengakui hal itu."

"Jadi kalau kita katakan bahwa tahun 45 sampai 49 ada agresi Belanda, ada kekejaman atau kekerasan yang dilakukan tentara Belanda, dan ini sudah dicatat dalam sebuah buku yang terbit di Belanda tentang apa-apa yang mereka lakukan secara melampaui batas di Indonesia. Tetapi perlu diingat bahwa dari tahun 1945 sampai 1949 juga boleh dikatakan merupakan revolusi fisik."

"Pada waktu itu hukum belum tegak, peraturan sangat tidak memadai, sedangkan aparatnya masih sangat sedikit, ketika itu yang banyak terjadi adalah anarkhi! Kita melihat di mana-mana di antara sesama pejuang, di antara sesama warga Indonesia terjadi bunuh-bunuhan, penculikan dan lain-lain. Misalnya kita juga tahu pada bulan Desember 1945, seorang menteri yaitu Oto Iskandar Di Nata itu diculik oleh kelompok pemuda dan dibunuh!"

"Jadi bisa dibayangkan bahwa suasana revolusi pada waktu itu terjadi hal-hal yang melanggar hukum. Bukan yang dilakukan oleh Belanda saja, tetapi oleh sesama bangsa kita sendiri. Persoalannya adalah tugas sejarawan Indonesia bukan hanya persoalan Indonesia dengan Belanda. Tapi malah kadang-kadang lebih banyak lagi persoalan antara sesama kita sendiri. Dan itu juga perlu didamaikan."

"Artinya adalah dekolonisasi sejarah itu tidak berhenti. Jadi pada masa akhir pemerintahan Belanda di Indonesia, mereka mempunyai aparat yang represif, nah kemudian aparat itu hanya berganti warna kulit saja. Dalam arti pada masa akhir pemerintahan Belanda, mereka melakukan kekerasan. Mereka mempunyai aparat yang kuat yang bisa menindas warga yang mencoba melakukan atau menuntut kemerdekaan atau semacamnya. Dan syogyanya setelah Indonesia merdeka kita tidak berbuat atau bertindak seperti itu lagi. Itu yang saya katakan dekolonisasi sejarah, jadi sejarah tidak seperti sejarah pada masa Hindia Belanda dulu!"

Tidak ada komentar: