Minggu, 24 Januari 2010

MUBA, ITU SOEKARNO MEMBELI SENJATA DARI UNI SOVIET UNTUK DIPAKAI MEN

sumber:http://dir.groups.yahoo.com/group/PPDi/message/10903



http://www.dataphone.se/~ahmad


ahmad@...

Stockholm, 13 Agustus 2005

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Assalamu'alaikum wr wbr.


MUBA, ITU SOEKARNO MEMBELI SENJATA DARI UNI SOVIET UNTUK DIPAKAI MENCAPLOK
PAPUA BARAT
Ahmad Sudirman
Stockholm - SWEDIA.


JELAS KELIHATAN, ITU SOEKARNO MEMBELI SENJATA DARI UNI SOVIET UNTUK DIPAKAI
MENCAPLOK PAPUA BARAT

"Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia."
(Muba Zir, mbzr00@... , Sat, 13 Aug 2005 09:14:16 -0700 (PDT))

"Perubahan sikap Amerika baru muncul setelah Presiden Uni Soviet, Nikita
Khrushchev, hadir di Jakarta. Si beruang merah menjanjikan bantuan senjata,
pelatihan militer, hingga kapal selam. Juga ada bantuan duit. Khrushchev
secara cerdik memanfaatkan isu kebencian Soekarno terhadap Amerika,
gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya Irian Barat sebagai wilayah
Republik Indonesia,'' katanya. Bagi Amerika, sikap Khrushchev ini merupakan
tamparan. Sebuah haluan politik luar negeri baru kemudian diluncurkan
Amerika. Untuk menjaga agar jangan sampai Indonesia semakin ke kiri, Amerika
memutuskan mendukung integrasi Guinea Baru. Presiden John F. Kennedy diminta
memberi perhatian secara pribadi kepada Soekarno. Maka, sewaktu Soekarno
mampir di Amerika, April 1960, Kennedy mengundangnya ke Washington. Ia
menjemput BK di bandar udara, hal yang tak pernah ia lakukan. Sebelum makan
siang, ia membawa Soekarno ke lapangan rumput Gedung Putih, menunjukkan dua
helikopter. Sebuah di antaranya dijanjikan sebagai oleh-oleh untuk Soekarno.
BK sangat bersukacita." (Iwan Qodar Himawan, iwan@... , Lensa, Gatra
Nomor 39 Beredar Senin, 8 Agustus 2005)

Baiklah Muba di Dijon, Bourgogne, Perancis.

Hari ini Muba Dijon melampirkan tulisan saudara Iwan Qodar Himawan dari
Gatra yang mengupas tentang Nikita Khrushchev, Soekarno, Papua Barat, dan
John F. Kennedy.

Hanya setelah dibaca apa yang ditulis oleh saudara Iwan masih banyak
kelemahannya. Mengapa ?

Karena itu cerita yang ditulis Iwan yang dihubungkan dengan Muhammad Yamin
yang membagi Indonesia ke dalam lima wilayah. Papua, bersama Tarakan,
Morotai, dan Halmahera, ia masukkan sebagai ''daerah peperangan istimewa''.
Jawa, Borneo, Selebes, Maluku, masuk kelompok pertama, yakni daerah bekas
jajahan Hindia Belanda.

Jelas itu cerita sejarah buatan Muhammad Yamin bukan suatu fakta, bukti,
dasar hukum yang bisa dijadikan sebagai fakta sahnya pihak RI-Jawa-Yogya
memasukkan wilayah Papua Barat kedalam wilayah RI-Jawa.Yogya. Apalagi kalau
dilihat dari sudut jalur proses pertumbuhan dan perkembangan RI-Jawa-Yogya
dihubungkan dengan Papua sangat jauh sekali itu cerita sejarah buatan
Muhammad Yamin itu untuk bisa dijadikan dasar fakta, bukti, hukum dan
sejarah untuk mensahkan pemasukan wilayah Papua Barat kedalam wilayah
RI-Jawa-Yogya.

Itu Cerita Muhammad Yamin benar-benar sangat tidak nyambung dan sangat lemah
kekuatan hukumnya.

Kemudian, Iwan mengupas "Khrushchev secara cerdik memanfaatkan isu kebencian
Soekarno terhadap Amerika, gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya
Irian Barat sebagai wilayah Republik Indonesia,'' katanya. Bagi Amerika,
sikap Khrushchev ini merupakan tamparan. Sebuah haluan politik luar negeri
baru kemudian diluncurkan Amerika."

Sebenarnya datangnya Nikita Khrushchev ke RI sebagai pelaksanaan hubungan
kerjasama antar dua negara. Dimana Soekarno yang berideologi marhaenisme
hasil perasan salah satunya paham Marxisme yang menjadi anutan ideologi
Lenin menjadi kekuatan bagi pihak Uni Soviet untuk meluaskan kuku kekuasaan
hegemoninya ke wilayah Asia Tenggara. Karena itulah pada tanggal 28 Februari
1960 di Istana Bogor dilangsungkan upacara penandatanganan tiga Naskah
Persetujuan Bersama antara Pemerintah Uni Soviet yang diwakili oleh Perdana
Menteri Nikita Khrushchev dan Pemerintah RI yang diwakili oleh Presiden
Soekarno.

Ketiga Naskah Persetujuan Bersama itu adalah 1. Pernyataan bersama antara
Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet. 2. Perjanjian Kerjasama kebudayaan
anatara Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet. 3. Perjanjian kerjasama
ekonomi anatara Pemerintah RI dan Pemerintah Uni Soviet.

Dimana Pemerintah Uni Soviet memberikan kredit sebesar US$ 250.000.000 (dua
ratus lima puluh juta dolar Amerika) untuk berbagai pembangunan proyek
seperti industri besi/baja, kimia, reaktor atom, teksil, dan pertanian.

Nah, dalam bidang pertahanan, pihak Uni Soviet telah memberikan kredit
jangka panjang. Dimana pihak Uni Soviet telah menjual senjata kepada RI.
Pembelian senjata itu ditandatangani pada tanggal 4 Maret 1961 di Jakarta
oleh Menteri Keamanan Nasional Jenderal Abdul Haris Nasution. Dimana
pembelian senjata dari Uni Soviet itu adalah pembelian senjata terbesar yang
pernah dilakukan oleh pihak RI sampai saat itu.

Tujuan pembelian senjata Uni Soviet ini adalah untuk mempersiapkan potensi
militer RI untuk mencaplok Papua Barat atau Irian barat.

Nah disini jelas arah haluan politik luar negeri Soekarno mengarah ke Uni
Soviet yang sekaligus dijadikan sebagai alat untuk mengumpulkan senjata guna
dipakai mencaplok Papua Barat dari tangan Belanda.

Kemudian dengan senjata yang diperoleh dari Uni Soviet, pada tanggal 2
Januari 1962 Soekarno menugaskan kepada Mayor Jenderal Soeharto sebagai
Panglima Komando Mandala Pencaplokan Irian Barat atau Papua Barat. Wakil I
Panglima Kolonel Laut Subono, Wakil II Panglima Kolonel Udara Leo Wattimera,
dan sebagai Kepala Staf Gabungan Kolonel Achmad Tahir.

Tugas dari Komando Mandala ini adalah merencanakan, mempersiapkan dan
menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan merebut wilayah Irian
Barat masuk kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya. Kemudian mengembangkan situasi
militer diwilayah Irian Barat sesuai dengan taraf-taraf perjuangan dibidang
diplomasi. Dan supaya dalam waktu singkat wilayah Irian Barat bisa
dianeksasi kedalam wilayah RI-Jawa-Yogya.

Rencana Komando Mandala ini pertama, sampai akhir 1962 dinamakan fase
infiltrasi. Dengan memasukkan 10 kompi ke sasaran-sasaran tertentu untuk
menciptakan daerah bebas de-facto. Kedua, mulai awal 1963 dinamakan fase
eksploitasi, yaitu mengadakan serangan terbuka terhadap induk-induk militer
musuh, menduduki semua pos pertahanan musuh. Ketiga, awal 1964 dinamakan
fase konsolidasi, yaitu menjadikan RI sebagai penguasa di Papua.

Nah, dari sini memang kelihatan Soekarno telah melakukan operasi militer
secara terang-terangan untuk menguasai dan menduduki Papua Barat.

Hanya setelah Perjanjian New York ditandatangani pada 15 Agustus 1962,
gerakan operasi Soeharto dengan Komando Mandalanya dihentikan.

Jadi kelihatan sekarang, bahwa sebelum Perjanjian New York ditandatangani 15
Agustus 1962, itu telah terjadi kronologis kejadian:

Pertama, Soekarno memutuskan hubungan dilomatik dengan Belanda pada tanggal
17 Agustus 1960.

Kedua, membeli senjata dari Uni Soviet pada tanggal 4 Maret 1961.

Ketiga, pada tanggal 19 Oktober 1961 di Jayapura bangsa Papua membentuk
Kongres Pertama Rakyat Papua dan mendeklarkan Manifesto kemerdekaan Papua
Barat yang ditandatangani oleh wakil-wakil kelompok, agama, dan suku adat
yang ada di Papua Barat.

Keempat, pada tanggal 2 Januari 1962 Soekarno menugaskan kepada Mayon
Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala Pencaplokan Irian Barat
atau Papua Barat

Kelima, tanggal 2 April 1962 Presiden John F. Kennedy mengirimkan surat
kepada Perdana Menteri Belanda J. E. de Quay. Dimana sebagian isi surat
Presiden John F. Kennedy:

"The Netherlands position, as we understand it, is that you wish to withdraw
from the territory of West New Guinea and that you have no objection to this
territory eventually passing to the control of Indonesia. However, The
Netherlands Government has committed itself to the Papuan leadership to
assure those Papuans of the right to determine their future political
status. The Indonesians, on the other hand, have informed us that they
desire direct transfer of administration to them but they are willing to
arrange for the Papuan people to express their political desires at some
future time. Clearly the positions are not so far apart that reasonable men
cannot find a solution.

Mr. Ellsworth Bunker, who has undertaken the task of moderator in the secret
talks between The Netherlands and Indonesia, has prepared a formula which
would permit The Netherlands to turn over administrative control of the
territory to a UN administrator. The UN, in turn, would relinquish control
to the Indonesians within a specified period. These arrangements would
include provisions whereby the Papuan people would, within a certain period,
be granted the right of self-determination. The UN would be involved in the
preparations for the exercise of self-determination.

My Government has interested itself greatly in this matter and you can be
assured that the United States is prepared to render all appropriate
assistance to the United Nations when the Papuan people exercise their right
of self-determination. In these circumstances and in light of our
responsibilities to the free world, I strongly urge that The Netherlands
Government agree to meet on the basis of the formula presented to your
representative by Mr. Bunker.

We are of course pressing the Indonesian Government as strongly as we can
for its agreement to further negotiations on the basis of this same
formula."

Nah dari surat Presiden John F. Kennedy tersebut menggambarkan bagaimana
pihak Pemerintah Amerika telah menyetujui komitmen Belanda terhadap para
pemimpin Bangsa Papua untuk memberikan bangsa Papua hak menentukan nasib
sendiri dimasa depan. Sedangkan pihak Pemerintah Soekarno menghendaki
penyerahan langsung dari Belanda kepada RI, tetapi juga berkeinginan
menyelenggarakan penentuan pendapat rakyat bagi rakyat Papua.

Dan pihak Presiden John F. Kennedy sekemampuan yang ada menekan pihak
Soekarno untuk melakukan perundingan yang didasarkan kepada formula yang
sama.

Jadi kita melihat sekarang, makin jelas, bahwa pihak Pemerintah Amerika
setuju dengan pihak Pemerintah Belanda untuk memberikan kebebasan bangsa
Papua menentukan nasib mereka sendiri. Tetapi melalui pengawasan utusan PBB.
Sedangkan dari pihak Pemerintah RI, justru ingin terus mencaplok Papua. Dan
memang usaha pencaplokan Papua telah dijalankan oleh Soekarno sampai waktu
Penandatanganan Perjanjian New York 15 Agustus 1962.

Terakhir, kalau Ahmad Sudirman menyebut Acheh sebagai satu bangsa dan Papua
juga sebagai satu bangsa itu memang benar. Yang justru ngaco kalau kalian
mengatakan bangsa Indonesia. Coba Muba kalian jelaskan apa itu yang
dinamakan bangsa. Dan kapan datangnya istilah indonesia. Kemudian kapan
munculnya bangsa Indonesia, bagaimana adat istiadat bangsa Indonesia, asal
keturunan bangsa Indonesia, budaya bangsa Indonesia. Bagaimana hubungan
antara bangsa Indonesia dengan bangsa Acheh, bangsa Papua, Bangsa Sunda,
Bangsa Jawa. Dan dimanakah letak perbedaan antara bangsa Indonesia dengan
bangsa Sunda, antara bangsa Indonesia dengan bangsa Acheh, dan antara bangsa
Indonesia dengan bangsa Papua. Coba jelaskan asal usul bangsa Sunda, bangsa
Jawa, bangsa Papua dan bangsa Acheh.

Kalau kalian mengelak dari pertanyaan Ahmad Sudirman ini, itu membuktikan
kalian memang makin budek saja.

Bagi yang ada minat untuk menanggapi silahkan tujukan atau cc kan kepada
ahmad@... agar supaya sampai kepada saya dan bagi yang ada waktu
untuk membaca tulisan-tulisan saya yang telah lalu yang menyinggung tentang
Khilafah Islam dan Undang Undang Madinah silahkan lihat di kumpulan artikel
di HP http://www.dataphone.se/~ahmad

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan hanya kepada Allah kita
memohon petunjuk, amin *.*

Wassalam.

Ahmad Sudirman

http://www.dataphone.se/~ahmad
ahmad@...
----------

Date: Sat, 13 Aug 2005 09:27:21 -0700 (PDT)
From: muba zir mbzr00@...
Subject: Re: MUBA, ITU KELOMPOK UNITARIS JAWA YANG TERUS MAU MENJERAT PAPUA
BARAT DAN ACHEH
To: Ahmad Sudirman ahmad@...
Cc: AcehA_yoosran <a_yoosran@...>, AcehAhmad_mattulesy
<ahmad_mattulesy@...>, AcehAhmadGPK <ahmad@...>,
AcehMr_dharminta <mr_dharminta@...>, Acehmuba <mbzr00@...>,
acehomputeh <om_puteh@...>, AcehSap <im_surya_1998@...>,
AcehSiliwangi siliwangi27@...

Dasar tukang fitnah...!! Pembaca bisa menangkap dengan jelas apa yang saya
katakan dan apa yang "dikutipkan" oleh Ahmad Sudirman... Tegasnya si ASU ini
telah memelintir kata-kataku "beberapa gelintir" menjadi "bangsa Papua dan
bangsa Aceh".

Si ASU juga menggunakan istilah "bangsa" untuk Papua dan Aceh, bukan "suku
bangsa" atau "masyarakat", sebagai sebuah upaya mengadudombakan masyarakat
propinsi NAD dan propinsi Papua dengan masyarakat Indonesia lainnya dan juga
dengan Pemerintahan Pusat di Jakarta.

Dirgahayu RI...!!

Muba ZR

Ahmad Sudirman <ahmad@...> wrote: "Misalnya, itu Muba tetap saja
menyatakan bangsa Papua dan bangsa Acheh sebagai separatis. Nah, itu Muba
dengan menyebut istilah separatis saja sudah salah kaprah. Dan memang Muba
Dijon tidak bisa membuktikan secara fakta, bukti, sejarah dan hukum bahwa
perjuangan bangsa Papua dan Acheh disebut separatis. Paling hanya
ikut-ikutan ekor kelompok unitaris Jawa pengekor Soekarno dan para
penerusnya saja." (Ahmad Sudirman, 12 Agustus 2005)

Muba zir <mbzr00@...> wrote: "Masalah "separatisme" di Propinsi Papua
akan segara diselesaikan secara bermartabat dalam bingkai NKRI seperti
SBY-JK telah menyelesaikan masalah "separatisme" di Propinsi NAD secara
bermartabat dalam bingkai NKRI. Sengaja kata "separatisme" pake tanda petik,
karena hanya beberapa gelintir saja yang melakukannya. Jadi sebenarnya itu
tidak signifikan. However, pemerintah mendengar apapun suara rakyatnya dan
berusaha untuk menyadarkan "kaum separatis" itu." (Muba Zir,
mbzr00@... , Fri, 12 Aug 2005 02:18:36 -0700 (PDT))

Muba ZR

mbzr00@...
Dijon, Bourgogne, Perancis
----------

Date: Sat, 13 Aug 2005 09:14:16 -0700 (PDT)
From: muba zir mbzr00@...
Subject: Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke
Indonesia.
To: AcehA_yoosran <a_yoosran@...>, AcehAhmad_mattulesy
<ahmad_mattulesy@...>, AcehAhmadGPK <ahmad@...>,
AcehMr_dharminta <mr_dharminta@...>, Acehmuba <mbzr00@...>,
acehomputeh <om_puteh@...>, AcehSap im_surya_1998@...

Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia.

Muba ZR

mbzr00@...
Dijon, Bourgogne, Perancis

Iwan Qodar Himawan
Khrushchev

SEKITAR tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, Muhammad Yamin
berbicara dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia. Pertemuan itu berlangsung di Gedung Tyuuoo Sangi-In, sekarang
Gedung Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta. Sebagai sejarawan, juga
peminat kebudayaan, Yamin lancar mengutip kitab sejarah.

Termasuk tatkala bicara ihwal batas wilayah sebuah negara yang kelak dinamai
Indonesia. Yamin membagi Indonesia ke dalam lima wilayah. Papua, bersama
Tarakan, Morotai, dan Halmahera, ia masukkan sebagai ''daerah peperangan
istimewa''. Jawa, Borneo, Selebes, Maluku, masuk kelompok pertama, yakni
daerah bekas jajahan Hindia Belanda.

''Menurut sejarah, Papua dan sekelilingnya sejak purbakala diduduki bangsa
Papua. Dulu pulau itu menjadi daerah perpindahan bangsa Indonesia. Dalam
sejarah seribu tahun ke belakang, Papua telah bersatu dengan tanah Maluku,
dan bersatu padu dengan Indonesia. Merauke, Fakfak, dan Digul adalah bunyi
yang terkenal....''

Seperti kita tahu, sewaktu merdeka, Indonesia hanya kebagian wilayah bekas
jajahan Jepang. Belanda emoh meninggalkan ''West Guinea''. Menyatukan Irian
Barat ke Indonesia butuh perjuangan berat dan stamina panjang. Ini tak lepas
dari situasi waktu itu: Irian Barat bagian dari tarik-menarik kepentingan
politik antara Uni Soviet dan Amerika Serikat.

Permintaan Bung Karno kepada Amerika agar mendukung usahanya membawa Irian
Barat ke Indonesia tak menuai hasil. Kepada Duta Besar Amerika di Jakarta,
Merle Cochran, Soekarno membuat perumpamaan menyeramkan. Katanya, kekuasaan
Belanda di Guinea Baru membuat dirinya seperti ''mendapat todongan pistol ke
arah kepala''.

Kepada pengganti Cochran, Hugh S. Cumming, Soekarno memberi perumpamaan
mirip. ''Indonesia, juga manusia pada umumnya, tak bisa hanya makan dengan
roti.'' Waktu itu, Amerika memang baru saja memberi bantuan ke Indonesia
sebesar US$ 15 juta.

Memo percakapan Departemen Luar Negeri Amerika, yang menyimpan salinan
pembicaraan Menteri John Foster Dulles mencatat, Dulles sangat menentang
masuknya Irian Jaya sebagai bagian wilayah Indonesia. Masuknya Guinea Barat
ke wilayah Indonesia dinilai tidak memberikan manfaat bagi kepentingan
Amerika. Maklum, Pemerintah Belanda dan Australia mendesak agar Irian Barat
tetap lepas dari Indonesia.

Tatkala Indonesia mengajukan resolusi ke Majelis Umum PBB, agar Irian Barat
selekasnya dibebaskan dari kolonialisme, Amerika memilih absen. ''Menteri
mengatakan, ia sangat keras bila Indonesia mendapat kekuasaan atas Guinea
Baru. Kami sama sekali tidak keberatan bila resolusi Indonesia di Sidang
Umum PBB gagal,'' demikian memo percakapan Menteri Dulles pada 24 Agustus
1955.

Perubahan sikap Amerika baru muncul setelah Presiden Uni Soviet, Nikita
Khrushchev, hadir di Jakarta. Si beruang merah menjanjikan bantuan senjata,
pelatihan militer, hingga kapal selam. Juga ada bantuan duit. Khrushchev
secara cerdik memanfaatkan isu kebencian Soekarno terhadap Amerika,
gara-gara Irian Barat. ''Kami mendukung masuknya Irian Barat sebagai wilayah
Republik Indonesia,'' katanya.

Bagi Amerika, sikap Khrushchev ini merupakan tamparan. Sebuah haluan politik
luar negeri baru kemudian diluncurkan Amerika. Untuk menjaga agar jangan
sampai Indonesia semakin ke kiri, Amerika memutuskan mendukung integrasi
Guinea Baru. Presiden John F. Kennedy diminta memberi perhatian secara
pribadi kepada Soekarno.

Maka, sewaktu Soekarno mampir di Amerika, April 1960, Kennedy mengundangnya
ke Washington. Ia menjemput BK di bandar udara, hal yang tak pernah ia
lakukan. Sebelum makan siang, ia membawa Soekarno ke lapangan rumput Gedung
Putih, menunjukkan dua helikopter. Sebuah di antaranya dijanjikan sebagai
oleh-oleh untuk Soekarno. BK sangat bersukacita.

Berkat sikap Khrushchev, Amerika mendukung penyatuan Papua ke Indonesia.
Maka, kalau sekarang sebagian anggota Kongres Amerika menyoal penyatuan
Papua 40 tahun lalu, tak usah kaget. Sikap politik sebuah negara, atau
politisinya, akan sangat bergantung pada apa kepentingan jangka pendek yang
akan ia peroleh.

iwan@...
[Lensa, Gatra Nomor 39 Beredar Senin, 8 Agustus 2005]
----------

Tidak ada komentar: