Selasa, 26 Januari 2010

Perang Patriotik Besar Rakyat Soviet

http://id-id.facebook.com/topic.php?uid=100133621635&topic=13717

"Tentara Merah tidak hanya membela kemerdekaan negaranya sendiri, tetapi juga akan mendukung pembebasan seluruh umat manusia dari ancaman fasisme"
(Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi I)

Kemenangan Uni Soviet didalam menghadapi Nazi Jerman tidak terlepas dari kegagalan Nazi Jerman menghadapi Uni Soviet di Front Timur. Pada Perang Dunia II, Perang Front Timur adalah medan perang yang mencakup konflik di Eropa Tengah dan Eropa Timur. Beberapa sumber menyertakan pula Perang Jerman-Polandia pada tahun 1939 dalam medan Perang Dunia II ini. Konflik ini menyebabkan bangkitnya Uni Soviet sebagai negara adidaya militer dan industri, pendudukan Eropa Timur oleh Soviet, serta pembagian Jerman.

Dalam catatan sejarah Rusia dan Uni Soviet, konflik ini disebut sebagai Perang Patriotik Besar (Великая Отечественная Война, Velikaya Otechestvennaya Voyna). Nama yang mengacu pada Perang Patriotik Kekaisaran Rusia-Napoleon di tanah Rusia pada tahun 1812. Istilah Perang Patriotik Besar muncul di harian Soviet, Pravda, sehari setelah
Hitler menginvasi Uni Soviet, dalam sebuah artikel berjudul "Perang Patriotik Besar Rakyat Soviet" (bahasa Rusia: Великая Отечественная война cоветского народа). Istilah "perang melawan agresi" digunakan Uni Soviet sebelum Amerika Serikat dan Jepang terlibat.

Perang Patriotik Besar dimulai pada 22 Juni 1941, ketika Jerman menyerang wilayah Polandia yang diduduki Soviet, dan berakhir pada 8 Mei 1945, ketika angkatan bersenjata Jerman menyerah tanpa syarat setelah Pertempuran Berlin. Jerman mampu meminta bantuan tenaga dari beberapa Negara Poros, Rumania, Hungaria, Bulgaria, Slovakia, dan
Italia untuk menolong mereka di front dan wilayah-wilayah yang mereka duduki. Mereka mendapatkan bantuan dari sejumlah partisan anti-komunis di Ukraina dan Estonia. Finlandia yang anti-Soviet — saat itu baru saja berperang dengan Uni Soviet — juga berada di pihak Jerman. Selain itu, terdapat divisi Spanyol yang dikirim diktator Spanyol, Franco, agar hubungannya dengan negara-negara Poros tetap utuh. Uni Soviet mendapatkan bantuan dari kaum partisan di banyak negara di Eropa Timur, khususnya yang berada di Polandia dan Yugoslavia. Selain itu, Tentara Polandia Pertama dan Tentara Polandia Kedua, yang dipersenjatai dan dilatih Uni Soviet, berjuang bersama dengan Tentara Merah di front.

Dibandingkan dengan medan perang lainnya dalam Perang Dunia II, Front Timur jauh lebih besar dan berdarah serta mengakibatkan 25-30 juta orang tewas. Di Front Timur terjadi lebih banyak pertempuran darat daripada semua front pada Perang Dunia II. Karena premis ideologi dalam perang, pertempuran di Front Timur mengakibatkan kehancuran besar. Bagi anggota Nazi garis keras di Berlin, perang melawan Uni Soviet merupakan perjuangan melawan komunisme dan ras Arya melawan ras Slavia yang lebih rendah. Dari awal konflik, Hitler menganggapnya sebagai "perang pembinasaan".

Perang ini mengakibatkan kerugian besar dan penderitaan di antara warga sipil dari negara-negara yang terlibat. Di belakang garis depan, kekejaman terhadap warga sipil di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman sudah biasa terjadi, termasuk Holocaust orang-orang Yahudi. Dua puluh juta warga sipil terbunuh atau meninggal karena penyakit, kelaparan dan siksaan. Setelah perang, penduduk Jerman di Prusia Timur dan Silesia dipindahkan ke sebelah barat dari Garis Oder-Neisse.

Kekalahan Jepang di Timur Jauh

Pemerintah Soviet menyatakan perang dengan Jepang setelah Tokyo menolak untuk menyerah sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang termaktub di dalam Deklarasi Postdam. Pada 6 Agustus 1945, atas perintah Presiden Truman, AS menjatuhkan bom atom pertama di kota berpenduduk padat Hiroshima, tetapi pihak Jepang menyadari bahwa akan sia-sia melanjutkan perang setelah Uni Soviet memasuki kancah peperangan tersebut. Kaisar Hirohito, dalam amanatnya kepada tentara darat dan laut Jepang berkata, "Kini dengan turut sertanya Uni Soviet berperang melawan kita, perlawanan kita selanjutnya (terhadap Sekutu) akan membahayakan eksistensi Kekaisaran."

Pasukan Soviet dengan cepat mengalahkan pasukan Jepang di Manchuria, Korea bagian utara, Sakhalin Selatan dan Kepulauan Kuril. Semua ini mendorong Jepang untuk segera bertekuk lutut (kepada Sekutu). Dalam pertempuran yang berlangsung selama 23 hari itu, pasukan Soviet menghancurkan 22 divisi pasukan Jepang dan menimbulkan korban di pihak Jepang sebanyak 677.000 orang, termasuk 84.000 yang tewas dalam pertempuran. Pasukan Soviet juga menyita sekira 3.700 pucuk senjata, 600 buah tank, 861 pesawat udara, 12.000 pucuk senapan mesin serta 2.000 kendaraan lainnya.

Porak-porandanya Pasukan Darat Kwantung (milik Jepang) akibat serangan Soviet itu menggagalkan rencana Jepang untuk mengirimkan divisi pilihannya itu untuk melawan pasukan AS dalam suatu pertempuran penentuan. Rencana Jepang untuk memindahkan pemerintahan Jepang ke Manchuguo di Tiongkok, seandainya tentara AS menduduki Tokyo, juga gagal.

Negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan di seluruh dunia menyambut gembira atas peran Uni Soviet di Timur Jauh. Para pemimpin dunia Barat mengakui pentingnya deklarasi perang Soviet terhadap Jepang. Pernyataan pemerintah Inggris berbunyi, "Deklarasi Perang Uni Soviet kepada Jepang membuktikan solidaritas antara pihak Sekutu." Harian The New York Herald Tribune AS, dalam tajuknya menulis, antara
lain, "Mereka yang mempelajari secara objektif harus mengakui bahwa Uni Soviet, dengan kekuatan militernya yang telah memorak-porandakan sebagian pasukan Jepang dan telah membantu mempercepat berakhirnya Perang Dunia II, memperlancar kemenangan rakyat Tiongkok dalam melawan penindasan pasukan Jepang serta membantu melahirkan kemerdekaan yang telah lama dinanti-nantikan bangsa-bangsa di Asia bagian timur dan tenggara, dan sekaligus mencegah kematian yang lebih banyak serta penderitaan yang lebih buruk bagi bangsa Jepang.

Rusia dan Indonesia

Bung Karno mengatakan berulang kali, ide nasionalismenya berpadu dengan internasionalisme. Hal itu antara lain dibuktikan dengan jelas oleh sikap Bung Karno terhadap Uni Soviet. Orang Rusia sampai saat ini mengingat dengan rasa terima kasih bagaimana pada tahun 1941 Bung Karno yang pada waktu itu diasingkan ke Bengkulu, dalam artikelnya di koran Pemandangan menyatakan keyakinannya terhadap kemenangan Tentara Merah (Soviet) melawan pasukan Hitler.

Bung Karno menulis, "Tentara Merah tidak hanya membela kemerdekaan negaranya sendiri, tetapi juga akan mendukung pembebasan seluruh umat manusia dari ancaman fasisme". Pandangan Bung Karno mencerminkan ideologi seluruh gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sikap Uni Soviet pada masa perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia ialah meyakinkan Bung Karno bahwa Uni Soviet adalah kekuatan yang dapat
diandalkan Indonesia dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya. Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno juga, pada saat Sidang Gabungan Diperluas Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional dan Komite Tetap Dewan Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok pada tanggal 4 Oktober 1956 bahwa, "peperangan itu kadang-kadang muncul sesuatu hal yang mereka tidak duga-duga dan sangka-sangka".

Dalam pidato tersebut, Bung Karno juga mengatakan bahwa "Ada seorang ahli filsafat yang berkata : War is a strange alchemist (Peperangan adalah seorang alkemis yang aneh sekali). Ia, memang aneh jika ditinjau akan hasilnya. Ya, War is a strange alchemist, peperangan adalah seorang alkemis yang aneh sekali. Peperangan tahun 1904-1905 antara Rusia dan Jepang melahirkan revolusi tahun 1905 yang oleh Lenin dikatakan the
general rehearsal dari Revolusi Rusia. Peperangan dunia yang pertama antara tahun 1914-1948. Apa yang dilahirkan oleh peperangan dunia yang kedua? Yang dibangunkan oleh peperangan dunia yang kedua ini ialah, terbangunnya makin banyak negara-negara sosialis dan menjadinya merdeka banyak sekali bangsa-bangsa di Asia dan Afrika".

Adalah sewajarnya Bung Karno merintis jalan yang mendekatkan hubungan Uni Soviet dan Indonesia. Dalam amanatnya kepada para pemimpin Uni Soviet, November 1945, beliau membenarkan keyakinanya bahwa Rusia, yang telah menempuh jalan perkembangan demi kemerdekaan, keadilan, dan keperimanusiaan sekarang menjadi salah satu Negara dunia yang terbesar, yang tetap setia pada cita-cita tersebut. Pada tahun 1946, dalam pidato pada rapat 1 Mei di ibukota sementara Republik Indonesia Yogyakarta, beliau menyatakan tentang kesediaan Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Rusia. Pada bulan Desember 1947, Presiden Soekarno memberikan wewenang kepada utusan khusus Suripno memulai perundingan dengan perwakilan Uni Soviet, mengenai penandatanganan persetujuan yang bersangkutan. Bulan Mei tahun berikutnya, Suripno dan Duta Besar Uni Soviet untuk Chekoslowakia M. Silin, menyepakati ditegakkannya hubungan tingkat konsul. Namun demikian, para wakil
partai sayap kanan yang waktu itu berkuasa di Jakarta menggagalkan terwujudnya kesepakatan tersebut. Pertukaran tingkat kedutaan antara Moskow dan Jakarta baru berlangsung setelah pemerintah Ali Sastroamidjoyo, kawan setia seperjuangan Bung Karno, mulai berkuasa pada tahun 1954.

Dukungan Rusia kepada Indonesia menjamin penyelesaian sengketa Irian Barat antara Indonesia-Belanda. Setelah penjajakan kemungkinan pembelian senjata Eropa dan Amerika Serikat gagal, pemerintah Indonesia memulai perundingan dengan Uni Republik-republik Sosialis Soviet yang berakhir dengan penyuplaian kapal militer, pesawat terbang, persenjataan Angkatan Darat ke Indonesia. Kebulatan tekad Indonesia dengan harga yang mahal merebut kembali Irian Barat, meningkatnya kekuatan militer berkat bantuan Soviet kepada Republik Indonesia, dukungan luas internasional kepada Jakarta oleh masyarakat dunia, memaksa penjajah menyerahkan wilayah itu ke pangkuan Indonesia pada 1 Mei 1963.

Setelah ditegakkannya di Indonesia Rezim Orde Baru pada tahun 1965, hubungan Rusia-Indonesia menjadi renggang. Sekarang masa-masa itu sudah menjadi sejarah. Tradisi kaya hubungan Rusia-Indonesia yang sudah pulih kembali menamkan rasa optimis dan harus mendapat kelanjutan yang sepatutnya di masa depan.

Referensi :

1. Alexei Drugov, Presiden Soekarno dan Uni Soviet, Kompas, Rabu, 6 Juni 2001
2. Anatoly Koshkin, Peran Soviet Akhiri Perang Dunia II, RIA Novosti
3. Genocide's Ghosts, TIME Magazine, 16 Januari 2008
4. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi I
5. Yuri Sholmov, Bung Karno, Sambut Kami Saudara-saudara, Jurnal Forum International No. 8/2007,Hal. 59-60
6. Wikipedia

Tidak ada komentar: