Sabtu, 30 Januari 2010

Putin Kecam Perjanjian Soviet-Nazi

Putin Kecam Perjanjian Soviet-Nazi
Selasa, 1 September 2009 - 10:35 wib
text TEXT SIZE :
Share
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Vladimir Putin (Foto: Reuters)

WARSAWA - Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengecam pakta Molotov-Ribbentrop tahun 1993 sebagai sesuatu yang "tidak bermoral". Kecaman itu disampaikan Putin dalam tulisannya di surat kabar Polandia Gazeta Wyborcza.

Asal tahu saja, perjanjian itu ditandatangani Perdana Menteri Uni Soviet Vyacheslav Molotov dan Perdana Menteri pemerintahan Nazi Joachim Von Ribbentrop. Pakta itu secara rahasia memisahkan Baltik dan bagian utara Eropa antara Uni Soviet dan Nazi Jerman. Para ahli sejarah mengatakan hal itulah yang mendorong Jerman menginvasi Polandia pada 1 September 1939, yang membuat pecahnya Perang Dunia II.

Dikutip dari VOA, Selasa (1/9/2009), Putin berada di Polandia untuk menghadiri perayaan 70 tahun awal Perang Dunia II. Dia juga akan bertemu Perdana menteri Polandia Donald Tusk dan juga bertemu perdana menteri Belanda, Finlandia, Bulgaria, Kroasia, dan Slovenia.

Dalam tulisannya, Putin juga menyalahkan negara-negara Eropa lain karena menolak mendukung Uni Soviet, sehingga meninggalkan Moskow sendirian menghadapi ancaman Nazi.

Dia juga menulis bahwa pembunuhan besar-besaran ribuan warga Polandia tahun 1940 oleh pasukan Soviet di Katyn Forest sebagai sebuah kejahatan, dan Rusia memiliki tugas untuk menghilangkan beban ketidakpercayaan dan prasangka yang ditinggalkan masa lalu.

"Bayang-bayang masa lalu tidak boleh menggelapkan kerja sama hari ini dan di masa depan antara Rusia dan Polandia," kata Putin, yang dikutip dari Reuters.

Perdebatan antara Rusia dan Barat mengenai siapa yang bertanggung jawab bersama Adolf Hitler atas permulaan Perang Dunia II akan membayangi perayaan perang yang paling dahsyat di muka bumi itu.

Pidato Putin di Pelabuhan Gdansk hari ini akan dicermati oleh rakyat Polandia, Baltik, dan lainnya yang tersakiti oleh upaya Moskow untuk menutup-tutupi peran diktator Soviet Josef Stalin 70 tahun lalu.

Meski melontarkan kecaman, namun sepertinya Putin tidak akan meminta maaf atas pakta tersebut.

"Tujuan Putin adalah untuk menetralkan setiap upaya untuk meninjau kembali sejarah Perang Dunia II," kata Yuri Ushakov, ajudan bidang kebijakan luar negeri Putin.

Jajak pendapat yang dirilis surat kabar Rzeczpospolita pada Senin kemarin menyebutkan, mayoritas rakyat Polandia percaya Moskow berbagi tanggung jawab yang sama dengan Berlin atas pecahnya Perang Dunia II.(jri)

Tidak ada komentar: