Minggu, 24 Januari 2010

Revolusi Hongaria 1956 dan Implikasinya Terhadap Perang Dingin

Keinginan untuk menikmati udara hangat dan angin yang berhembus perlahan menghantarkan saya ke sebuah taman di tengah kota Budapest. Saya berdiri memandang monumen berbentuk pilar-pilar tinggi dari kayu. Di tahun 1951, di tempat inilah patung Joseph Stalin setinggi 10 meter didirikan dengan megahnya. Di tempat ini juga, rakyat Hongaria pada tanggal 23 Oktober 1956 mengamuk dan melakukan demonstrasi anti-Soviet besar-besaran. Patung Stalin pun dirubuhkan.

Perang dunia 2 telah berakhir, sebuah pemilu demokratis diadakan di Hongaria pada tahun 1945. Koalisi Independent Small Holders dan Peasants Party berhasil mengalahkan perolehan suara partai komunis Hongaria. Pendudukan Uni Soviet di sana berhasil memaksakan penyerahan beberapa posisi penting (misal: Kementerian Dalam Negeri) dalam susunan kabinet ke kalangan komunis.

Berbagai cara digunakan partai komunis demi memperlemah koalisi. Salami tactic dan penangkapan anti-komunis pun dilakukan. Mereka sukses memaksakan pemilu ulangan pada tahun 1947 dan Kementerian Dalam Negeri memberikan ratusan ribu tiket khusus bagi anggota partai komunis agar bisa memberikan suaranya lebih dari sekali. Mereka menang kali ini. Sebuah konstitusi yang sangat menggelikan ditulis pada tahun 1949, mencakup nasionalisasi perusahaan asing, penghapusan pluralisme partai politik, hingga intervensi besar-besaran pemerintah dalam aktivitas ekonomi.

Stabilitas regional mulai memanas pada tahun 1951, blok Timur mempersiapkan diri untuk berperang, kesejahteraan rakyat tidak diperhatikan. Moscow pun tidak memberikan tunjangan finansial kepada mereka.

Dua kubu dalam tubuh partai komunis terbentuk. Matyas Rakosi, pemimpin partai komunis Hongaria sekaligus pengikut setia Stalin, pun bersikap acuh menyikap masalah ketidaksejahteraan rakyat. Ia didukung birokrat partai dan AVH, polisi rahasia Hongaria. Di sisi lain ada Imre Nagy, Perdana Menteri (PM) Hongaria, yang bermaksud mereformasi partai komunis Hongaria dan program-programnya dengan memperkenalkan sektor swasta, menutup camp konsentrasi, menciptakan sistem peradilan yang sehat, dan mengembalikan kekuasaan ke negara (bukan lagi ke partai). Ia didukung oleh kalangan intelektual.

Imre Nagy dicabut dari jabatannya dan digantikan oleh Erno Gero. Saat itu, sebagian anggota partai sudah membelot menjadi pendukung Nagy. Sebuah pidato rahasia Nikita Khruschev, pengganti Stalin di Uni Soviet, menambah semangat reformasi masyarakat Hongaria. Ia mengkritik sistem diktator ala Stalin. Blok Timur terguncang dan mencoba menyesuaikan diri, Rakosi yang juga bergaya diktator dicopot. Angin seakan bertiup ke kamu reformis.
Memasuki tahun 1956, kondisi juga memanas di Polandia. Persahabatan erat kedua negara yang sudah berlangsung lebih dari seratus tahun memicu demonstrasi pada 23 Oktober 1956 yang didalangi oleh kalangan intelektual. Kebablasan, dengan dukungan kaum pekerja dan para pemuda, mereka bahkan sekalian menuntut kebebasan berpolitik dan berekonomi, kebebasan pers, pemilu yang bersih, reformasi ekonomi, dan Imre Nagy sebagai PM. Mereka mengambil alih radio dan mengumumkan semua ini, partai kalang kabut, Nagy diangkat lagi. AVH dan tentara Soviet yang memang ditempatkan di Budapest maju mengangkat senjata menghadapi para demonstran.

Erno Gero digantikan oleh anak muda didikan Moscow, Janos Kadar. Pada tanggal 28 Oktober, Kadar akhirnya menghentikan serangan AVH, dan membubarkannya, Soviet malah memanggil pulang tentaranya dari Budapest. Pada tanggal 30 Oktober, Nagy membentuk pemerintahan multipartai sesuai hasil pemilu 1945, menyatakan keluar dari Pakta Warsawa dan menyatakan kemerdekaan pada 1 November. Nagy bahkan membubarkan partai komunis Hongaria. Untuk sementara, revolusi telah mencapai tujuannya.

Sayang, blok Barat saat itu disibukkan oleh Krisis Suez dan tidak cepat mengambil tindakan merekrut Hongaria ke pihak mereka. Mengkhawatirkan efek domino dari kejadian ini, Soviet memutuskan mengintervensi sepak terjang Nagy secara militer. Pasukan bersenjata dari Moscow tiba di Budapest pada 4 November, pertempuran terjadi selama 3 hari. Nagy akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Romania. Di pihak Hongaria, 3000 orang dieksekusi, 2500 orang mati, 13000 orang terluka, dan 50000 orang dipenjara atau dikirim ke camp konsentrasi karena berjuang demi kebebasan. Kadar berkuasa dan mencoba mengambil posisi moderat, antara Rakosi dan Nagy.
Perjuangan yang sia-sia? JELAS TIDAK. Untuk 13 hari, sebuah negara kecil berhasil mengambil alih kekuasaan dari raksasa Uni Soviet yang kemudian merespons dengan pertempuran yang tidak seimbang. Ini adalah sebuah luka yang tidak pernah sembuh bagi Uni Soviet. Majalah TIME yang setiap tahunnya memilih satu tokoh sebagai Man of the Year langsung memilih freedom fighters Hongaria sebagai tokoh tahun 1956. Para pejuang Hongaria tahu pasti bahwa tentara Soviet pasti akan kembali dengan skala besar, namun mereka tetap nekat menyatakan kemerdekaan. Ini adalah sebuah aksi putus asa dan berani mati. Mereka mencoba mengilegalkan intervensi Uni Soviet dengan menyatakan kemerdekaan.

Kebiadaban rezim komunis seperti ini nampaknya berpengaruh besar ke banyaknya intelektual sayap kiri yang meninggalkan partai komunis. Partai pun tidak lagi bisa mengklaim bahwa komunisme eksis karena dukungan kelas pekerja, benar bahwa revolusi ditukangi kalangan intelektual, namun mayoritas dari mereka yang nekat bertempur dan mati adalah masyarakat kelas pekerja dan para remaja.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Uni Soviet menarik mundur seluruh pasukannya pada 28 Oktober karena banyak dari mereka yang malah bergabung dengan pejuang Hongaria. Soviet mengganti mereka dengan pasukan yang fresh dari Asia Tengah yang bahkan mengira bahwa mereka sedang menghadapi Mesir di Suez. Sungai Danube mereka kira sebagai kanal Suez.
Ada beberapa hal lain yang bisa dipelajari dari revolusi ini dalam kaitannya dengan perang dingin. Saat itu adalah pertama kalinya Uni Soviet menyadari dengan pasti bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil resiko perang nuklir dengan menchallenge status quo. Sebagai tambahan, Banyak orang tidak tahu bahwa Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet di akhir 1980an yang terkenal dengan program reformasinya, Glasnost dan Perestroika, adalah didikan Yuri Andropov, pendahulunya. Yuri Andropov adalah duta besar Uni Soviet untuk Hongaria saat revolusi terjadi dan dia pasti menyadari dengan jelas bahwa komunisme sama sekali tidak populer dan hanya akan berujung ke kegagalan. Reformasi dalam tubuh dan program partai adalah sebuah keharusan. Dia mengajarkan hal tersebut pada Gorbachev.

Kembali ke monumen, monumen itu didirikan pada 2006 untuk mengenang mereka yang mati demi kebebasan di Hongaria.

Tidak ada komentar: