Minggu, 24 Januari 2010

#sastra-pembebasan# Perang Patriotik Besar Rakyat Soviet

Perang Patriotik Besar Rakyat Soviet

"Tentara Merah tidak hanya membela kemerdekaan negaranya sendiri,
tetapi juga akan mendukung pembebasan seluruh umat manusia dari
ancaman fasisme"
(Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi I)

Kemenangan Uni Soviet didalam menghadapi Nazi Jerman tidak terlepas
dari kegagalan Nazi Jerman menghadapi Uni Soviet di Front Timur. Pada
Perang Dunia II, Perang Front Timur adalah medan perang yang mencakup
konflik di Eropa Tengah dan Eropa Timur. Beberapa sumber menyertakan
pula Perang Jerman-Polandia pada tahun 1939 dalam medan Perang Dunia
II ini. Konflik ini menyebabkan bangkitnya Uni Soviet sebagai negara
adidaya militer dan industri, pendudukan Eropa Timur oleh Soviet,
serta pembagian Jerman.

Dalam catatan sejarah Rusia dan Uni Soviet, konflik ini disebut
sebagai Perang Patriotik Besar (Великая Отечественная Война, Velikaya
Otechestvennaya Voyna). Nama yang mengacu pada Perang Patriotik
Kekaisaran Rusia–Napoleon di tanah Rusia pada tahun 1812. Istilah
Perang Patriotik Besar muncul di harian Soviet, Pravda, sehari setelah
Hitler menginvasi Uni Soviet, dalam sebuah artikel berjudul "Perang
Patriotik Besar Rakyat Soviet" (bahasa Rusia: Великая Отечественная
война cоветского народа). Istilah "perang melawan agresi" digunakan
Uni Soviet sebelum Amerika Serikat dan Jepang terlibat.

Perang Patriotik Besar dimulai pada 22 Juni 1941, ketika Jerman
menyerang wilayah Polandia yang diduduki Soviet, dan berakhir pada 8
Mei 1945, ketika angkatan bersenjata Jerman menyerah tanpa syarat
setelah Pertempuran Berlin. Jerman mampu meminta bantuan tenaga dari
beberapa Negara Poros, Rumania, Hungaria, Bulgaria, Slovakia, dan
Italia untuk menolong mereka di front dan wilayah-wilayah yang mereka
duduki. Mereka mendapatkan bantuan dari sejumlah partisan anti-komunis
di Ukraina dan Estonia. Finlandia yang anti-Soviet — saat itu baru
saja berperang dengan Uni Soviet — juga berada di pihak Jerman. Selain
itu, terdapat divisi Spanyol yang dikirim diktator Spanyol, Franco,
agar hubungannya dengan negara-negara Poros tetap utuh. Uni Soviet
mendapatkan bantuan dari kaum partisan di banyak negara di Eropa
Timur, khususnya yang berada di Polandia dan Yugoslavia. Selain itu,
Tentara Polandia Pertama dan Tentara Polandia Kedua, yang
dipersenjatai dan dilatih Uni Soviet, berjuang bersama dengan Tentara
Merah di front.

Dibandingkan dengan medan perang lainnya dalam Perang Dunia II, Front
Timur jauh lebih besar dan berdarah serta mengakibatkan 25-30 juta
orang tewas. Di Front Timur terjadi lebih banyak pertempuran darat
daripada semua front pada Perang Dunia II. Karena premis ideologi
dalam perang, pertempuran di Front Timur mengakibatkan kehancuran
besar. Bagi anggota Nazi garis keras di Berlin, perang melawan Uni
Soviet merupakan perjuangan melawan komunisme dan ras Arya melawan ras
Slavia yang lebih rendah. Dari awal konflik, Hitler menganggapnya
sebagai "perang pembinasaan".

Perang ini mengakibatkan kerugian besar dan penderitaan di antara
warga sipil dari negara-negara yang terlibat. Di belakang garis depan,
kekejaman terhadap warga sipil di wilayah-wilayah yang diduduki Jerman
sudah biasa terjadi, termasuk Holocaust orang-orang Yahudi. Dua puluh
juta warga sipil terbunuh atau meninggal karena penyakit, kelaparan
dan siksaan. Setelah perang, penduduk Jerman di Prusia Timur dan
Silesia dipindahkan ke sebelah barat dari Garis Oder-Neisse.

Kekalahan Jepang di Timur Jauh

Pemerintah Soviet menyatakan perang dengan Jepang setelah Tokyo
menolak untuk menyerah sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang
termaktub di dalam Deklarasi Postdam. Pada 6 Agustus 1945, atas
perintah Presiden Truman, AS menjatuhkan bom atom pertama di kota
berpenduduk padat Hiroshima, tetapi pihak Jepang menyadari bahwa akan
sia-sia melanjutkan perang setelah Uni Soviet memasuki kancah
peperangan tersebut. Kaisar Hirohito, dalam amanatnya kepada tentara
darat dan laut Jepang berkata, "Kini dengan turut sertanya Uni Soviet
berperang melawan kita, perlawanan kita selanjutnya (terhadap Sekutu)
akan membahayakan eksistensi Kekaisaran."

Pasukan Soviet dengan cepat mengalahkan pasukan Jepang di Manchuria,
Korea bagian utara, Sakhalin Selatan dan Kepulauan Kuril. Semua ini
mendorong Jepang untuk segera bertekuk lutut (kepada Sekutu). Dalam
pertempuran yang berlangsung selama 23 hari itu, pasukan Soviet
menghancurkan 22 divisi pasukan Jepang dan menimbulkan korban di pihak
Jepang sebanyak 677.000 orang, termasuk 84.000 yang tewas dalam
pertempuran. Pasukan Soviet juga menyita sekira 3.700 pucuk senjata,
600 buah tank, 861 pesawat udara, 12.000 pucuk senapan mesin serta
2.000 kendaraan lainnya.

Porak-porandanya Pasukan Darat Kwantung (milik Jepang) akibat serangan
Soviet itu menggagalkan rencana Jepang untuk mengirimkan divisi
pilihannya itu untuk melawan pasukan AS dalam suatu pertempuran
penentuan. Rencana Jepang untuk memindahkan pemerintahan Jepang ke
Manchuguo di Tiongkok, seandainya tentara AS menduduki Tokyo, juga gagal.

Negara-negara dan pemerintahan-pemerintahan di seluruh dunia menyambut
gembira atas peran Uni Soviet di Timur Jauh. Para pemimpin dunia Barat
mengakui pentingnya deklarasi perang Soviet terhadap Jepang.
Pernyataan pemerintah Inggris berbunyi, "Deklarasi Perang Uni Soviet
kepada Jepang membuktikan solidaritas antara pihak Sekutu."
Harian The New York Herald Tribune AS, dalam tajuknya menulis, antara
lain, "Mereka yang mempelajari secara objektif harus mengakui bahwa
Uni Soviet, dengan kekuatan militernya yang telah memorak-porandakan
sebagian pasukan Jepang dan telah membantu mempercepat berakhirnya
Perang Dunia II, memperlancar kemenangan rakyat Tiongkok dalam melawan
penindasan pasukan Jepang serta membantu melahirkan kemerdekaan yang
telah lama dinanti-nantikan bangsa-bangsa di Asia bagian timur dan
tenggara, dan sekaligus mencegah kematian yang lebih banyak serta
penderitaan yang lebih buruk bagi bangsa Jepang.

Rusia dan Indonesia

Bung Karno mengatakan berulang kali, ide nasionalismenya berpadu
dengan internasionalisme. Hal itu antara lain dibuktikan dengan jelas
oleh sikap Bung Karno terhadap Uni Soviet. Orang Rusia sampai saat ini
mengingat dengan rasa terima kasih bagaimana pada tahun 1941 Bung
Karno yang pada waktu itu diasingkan ke Bengkulu, dalam artikelnya di
koran Pemandangan menyatakan keyakinannya terhadap kemenangan Tentara
Merah (Soviet) melawan pasukan Hitler.

Bung Karno menulis, "Tentara Merah tidak hanya membela kemerdekaan
negaranya sendiri, tetapi juga akan mendukung pembebasan seluruh umat
manusia dari ancaman fasisme". Pandangan Bung Karno mencerminkan
ideologi seluruh gerakan pembebasan nasional Indonesia. Sikap Uni
Soviet pada masa perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia ialah
meyakinkan Bung Karno bahwa Uni Soviet adalah kekuatan yang dapat
diandalkan Indonesia dalam mempertahankan kepentingan nasionalnya.
Seperti yang dikatakan oleh Bung Karno juga, pada saat Sidang Gabungan
Diperluas Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional dan Komite Tetap Dewan
Nasional Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok pada tanggal
4 Oktober 1956 bahwa, "peperangan itu kadang-kadang muncul sesuatu hal
yang mereka tidak duga-duga dan sangka-sangka". Dalam pidato tersebut,
Bung Karno juga mengatakan bahwa "Ada seorang ahli filsafat yang
berkata : War is a strange alchemist (Peperangan adalah seorang
alkemis yang aneh sekali). Ia, memang aneh jika ditinjau akan
hasilnya. Ya, War is a strange alchemist, peperangan adalah seorang
alkemis yang aneh sekali. Peperangan tahun 1904-1905 antara Rusia dan
Jepang melahirkan revolusi tahun 1905 yang oleh Lenin dikatakan the
general rehearsal dari Revolusi Rusia. Peperangan dunia yang pertama
antara tahun 1914-1948. Apa yang dilahirkan oleh peperangan dunia yang
kedua? Yang dibangunkan oleh peperangan dunia yang kedua ini ialah,
terbangunnya makin banyak negara-negara sosialis dan menjadinya
merdeka banyak sekali bangsa-bangsa di Asia dan Afrika".

Adalah sewajarnya Bung Karno merintis jalan yang mendekatkan hubungan
Uni Soviet dan Indonesia. Dalam amanatnya kepada para pemimpin Uni
Soviet, November 1945, beliau membenarkan keyakinanya bahwa Rusia,
yang telah menempuh jalan perkembangan demi kemerdekaan, keadilan, dan
keperimanusiaan sekarang menjadi salah satu Negara dunia yang
terbesar, yang tetap setia pada cita-cita tersebut. Pada tahun 1946,
dalam pidato pada rapat 1 Mei di ibukota sementara Republik Indonesia
Yogyakarta, beliau menyatakan tentang kesediaan Indonesia menjalin
hubungan diplomatik dengan Rusia. Pada bulan Desember 1947, Presiden
Soekarno memberikan wewenang kepada utusan khusus Suripno memulai
perundingan dengan perwakilan Uni Soviet, mengenai penandatanganan
persetujuan yang bersangkutan. Bulan Mei tahun berikutnya, Suripno dan
Duta Besar Uni Soviet untuk Chekoslowakia M. Silin, menyepakati
ditegakkannya hubungan tingkat konsul. Namun demikian, para wakil
partai sayap kanan yang waktu itu berkuasa di Jakarta menggagalkan
terwujudnya kesepakatan tersebut. Pertukaran tingkat kedutaan antara
Moskow dan Jakarta baru berlangsung setelah pemerintah Ali
Sastroamidjoyo, kawan setia seperjuangan Bung Karno, mulai berkuasa
pada tahun 1954.

Dukungan Rusia kepada Indonesia menjamin penyelesaian sengketa Irian
Barat antara Indonesia-Belanda. Setelah penjajakan kemungkinan
pembelian senjata Eropa dan Amerika Serikat gagal, pemerintah
Indonesia memulai perundingan dengan Uni Republik-republik Sosialis
Soviet yang berakhir dengan penyuplaian kapal militer, pesawat
terbang, persenjataan Angkatan Darat ke Indonesia. Kebulatan tekad
Indonesia dengan harga yang mahal merebut kembali Irian Barat,
meningkatnya kekuatan militer berkat bantuan Soviet kepada Republik
Indonesia, dukungan luas internasional kepada Jakarta oleh masyarakat
dunia, memaksa penjajah menyerahkan wilayah itu ke pangkuan Indonesia
pada 1 Mei 1963.

Setelah ditegakkannya di Indonesia Rezim Orde Baru pada tahun 1965,
hubungan Rusia-Indonesia menjadi renggang. Sekarang masa-masa itu
sudah menjadi sejarah. Tradisi kaya hubungan Rusia-Indonesia yang
sudah pulih kembali menamkan rasa optimis dan harus mendapat
kelanjutan yang sepatutnya di masa depan.

Referensi :

1. Alexei Drugov, Presiden Soekarno dan Uni Soviet, Kompas, Rabu, 6
Juni 2001
2. Anatoly Koshkin, Peran Soviet Akhiri Perang Dunia II, RIA Novosti
dan http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2005/0505/09/0803.htm
3. Genocide's Ghosts, TIME Magazine, 16 Januari 2008
4. Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi I
5. Yuri Sholmov, Bung Karno, Sambut Kami Saudara-saudara, Jurnal Forum
International No. 8/2007,Hal. 59-60
6. Wikipedia

Tidak ada komentar: