Senin, 18 Januari 2010

Secercah Kabar dari Neraka Stalingrad



Tak ada gunanya kau mencoba mengajariku. Aku telah memimpin pasukan Jerman selama lima tahun, dan selama itu aku tahu segala hal tentang perang, jauh lebih banyak dibandingkan jenderal mana pun." (Hitler pada Guderian, Desember 1944).


21 April 1945. Sehari setelah ulang tahunnya, Adolf Hitler mengakhiri perang, dan menghadapi kenyataan: kalah perang. Selama lima setengah tahun tak ada yang dilakukannya selain memimpin perang. Saat itu Hitler memegang posisi sebagai Fuhrer of the Third Reich, Panglima Besar Angkatan Bersenjata Jerman. Perang, seperti dikemukakan Hitler 12 tahun sebelumnya, adalah bisnis harian, yang pasti akan dilakukan dalam mengurus sebuah negara.


Pada musim panas 1941 Hitler menyerang Rusia dan menyatakan perang terhadap Amerika Serikat, dua negara adidaya yang tidak ingin kekuatannya diusik. Penyerbuan itu dianggap banyak kalangan sebagai perang dunia yang sebenarnya. Menyerang Rusia dianggap keputusan terbodoh yang tidak termaafkan, dan menyatakan perang terhadap Amerika sama dengan bunuh diri.

Mengapa Hitler menyerbu Rusia? Padahal, dia dan Stalin menandatangani pakta yang menyepakati pembentukan pasukan Axis bersama Italia dan Jepang untuk melawan pasukan Amerika Serikat dan Inggris? Franz Scheneider dan Charles Gullans memaparkan, jawabannya terletak pada permusuhan alami antara kaum fasis di Jerman dan komunis di Rusia. Selain berambisi membasmi bangsa Yahudi, Hitler juga ingin membasmi ras-ras yang ia anggap rendah yang banyak berdiam di belahan timur Eropa. Hal ini yang menyebabkan ia memerintahkan pasukannya untuk tidak peduli atas jatuhnya korban warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.

Penyerbuan pasukan Hitler ke Rusia dikenal dengan nama Operasi Barbarossa. Operasi ini bertujuan menempatkan pasukan Jerman di seluruh penjuru Rusia. Hitler merencanakan membuat parade militer di Lapangan Merah sebelum Natal 1941.

Perang memang selalu menyebabkan penderitaan. Berbeda dari buku-buku yang lain, seperti Hitler as Military Commander karya John Strawson (1971) atau Hitler's Strategy yang ditulis FH Hinsley (1951), Franz Scheneider dan Charles Gullans berusaha mengungkapkan penderitaan para prajurit perang dalam buku Neraka di Stalingrad.

Memang ada sedikit keriaan dalam kehidupan prajurit di medan perang. Hal-hal unik sekecil apa pun bisa memberikan kebahagiaan bagi mereka. Namun yang melulu terasa adalah kesuraman dan penderitaan. Kelaparan, kedinginan, rasa rindu pada rumah dan sanak keluarga selalu mendera hari-hari melelahkan setiap prajurit. Para prajurit akhirnya merasa dikhianati dan ditipu rezim yang mengirim mereka ke medan perang.

Surat-surat yang dimuat dalam buku ini adalah sedikit saja dari yang terbawa dalam tujuh karung yang berhasil diterbangkan keluar Stalingrad. Namun karung-karung tersebut ditahan oleh Komando Tinggi Jerman. Nama yang dituju beserta alamatnya dan nama pengirim dihilangkan, untuk kemudian dijadikan bahan analisis dalam kajian tentang moral serdadu. Hasilnya sangat merusak bagi rezim Nazi, sehingga surat-surat tersebut disembunyikan dan dikunci dalam arsip angkatan bersenjata (hal. 52).

Membaca surat-surat yang dimuat dalam buku ini tergambar betapa menderita para serdadu. Tak peduli betapa benci masyarakat dunia pada pasukan Nazi, empati yang tinggi bisa diberikan pada mereka. Sayang sekali penerjemahan yang lemah membuat otak pembaca lelah mencerna kata dan kalimat buku ini. Sulit memperoleh bayangan penderitaan para serdadu seperti bisa kita nikmati saat membaca D-Day karya Stephen Ambrose (1994) yang juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. (E4)

Tidak ada komentar: