Minggu, 17 Januari 2010

Tentara Rakyat yang Membunuh Rakyat



RAKYATLAH yang menjadi korban pertama, ketika komunis bercokol di suatu negara. Ada satu ungkapan; apabila komunis merupakan pengejawantahan dari kekerasan, rakyat dipersenjatai dan dijadikan mesin pembunuh yang kejam. Jika kita gali ingatan kita mengenai perkembangan komunis di Cina, maka akan banyak fragmen kengerian dan kegetiran yang mampu membius kita dengan genangan-genangan darah.

Dominasi warna merah dalam setiap bendera komunis, bukanlah tanpa arti. Bendera merah dikatakan sebagai—warna darah segar pahlawan—penyembahan warna merah sebenarnya adalah penyembahan terhadap darah segar. “Kematian lebih besar dari gunung Tai” teriak Mao Zedong. Cita-cita luhur komunis dalam perataan kesejahteraan, kekayaan serta mengagungkan kebersamaan, berakhir pada sebuah negara yang hampir separuh penduduknya menjadi pembunuh berdarah dingin.

Jika Stalin membunuh secara membabi-buta, maka Mao Zedong mencetuskan bencana besar bagi Cina dengan revolusi Budaya Proletar Agungnya. Di masa pemerintahan Deng Xiaoping—penerus Mao—terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap mahasiswa di Tiananmen (Peristiwa 4 Juli di lapangan Tiananmen). Lalu Jiang Zemin yang melakukan penindasan terhadap Falun Gong. Semua ini ternyata berakar pada kediktaktoran komunis yang membelenggu Cina.

“Membunuh 200 ribu orang, untuk diganti kestabilan selama 20 tahun,” begitu menurut Deng Xiaoping. Dalam sebuah revolusi membunuh adalah sah saja. Peristiwa Tiananmen yang terjadi awal Juli 1989, pastinya membekas di benak setiap orang. Oleh Terrence Cheng, penulis kelahiran Taiwan 1972 yang saat ini mengajar fiksi di Lehman College-CUNY, peristiwa itu diangkat kembali namun dalam jalinan peristiwa dan alur yang jelas dan imajinatif.

Terrence Cheng dalam novelnya yang berjudul Anak-anak Langit mencoba mendiskusikan kembali keberadaan Komunis di Cina, keterlibatan Tentara Merah dalam peristiwa Tiananmen dan doktrin Mao dalam revolusi Budaya Proletar Agung.

Bukan saja menarik disimak tiap alurnya, namun novel ini juga memberikan diskripsi yang jelas secara objektif tentang peristiwa Tiananmen. Dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda, Terrence memaparkan perihal revolusi di Cina yang memungkingkan kita berbeda menginterpretasikannya.

Lewat tiga tokoh utama yang menjadi acuan bercerita, yaitu; Xiao-Di seorang mahasiswa yang akhirnya memilih berdemonstrasi bersama kawan-kawannya, karena melihat modernisasi yang distir Deng Xiaoping menimbulkan kesenjangan yang lebar dalam rakyat Cina, Lu kakak Xiao-Di yang menjadi Tentara Merah, serta dari tokoh sejarah Deng Xiaoping yang saat itu menjadi orang nomor satu di Cina, membuat novel sejarah tentang pergolakan politik hingga kemudian diakhiri pembantaian di Tiananmen ini, menjadi pal-pal sejarah perkembangan Republik Rakyat Cina tanpa mengada-ada.

Dengan menggunakan salah seorang Tentara Merah sebagai tokohnya, Terrence kelihatannya ingin mengungkapkan benturan-benturan psikologis yang dilematis sebagai racikan dasar melodrama dalam karyanya ini. Tentara Merah merupakan kumpulan pelajar komunis radikal yang menjadi pengikut setia Mao. Kerapkali Tentara Rakyat ini (begitu Mao menyebutnya) merevolusionerkan rakyat Cina dengan cara-cara kekerasan.

Setelah dinyatakan darurat militer, demonstrasi di Tiananmen akhirnya dibubarkan secara paksa oleh Tentara Merah. Banyak orang-orang tak bersalah terkapar ditembus timah panas. Saat itu Beijing seperti berubah menjadi neraka. Tank dan kendaraan lapis baja menghadang mahasiswa dan rakyat Cina yang hanya bersenjatakan batu dan bertameng seadanya.

“Tentara Rakyat tidak membunuh rakyat!” teriak mereka terhadap pasukan yang meletuskan senjata serang otomatis di tengah-tengah para demonstran yang kalang kabut. Di tengah pasukan itu, Terrence menghadirkan tokoh Lu kakak Xiao-Di yang mengalami pergolakan psikologi yang cukup berat.

Sebagai seorang tentara apalagi Tentara Merah, Lu bertekad melakukan apa saja demi kemajuan kariernya dan cita-cita Mao, termasuk memburu Xiao-Di—adiknya—yang dianggap aktor utama di balik demonstrasi Tiananmen. Pengalaman buruk yang pernah dilakukan Tentara Merah terhadap kakeknya hingga menyebabkan kakeknya buta, tidak mempengaruhi Lu untuk bergabung dengan Tentara Merah.

Buku kecil yang berwarna merah dan selalu menyertai Lu pergi, memberikan alasan kuat mengapa dirinya dan seluruh Tentara Merah lainnya harus melakukan tindakan tegas. “Revolusi bukan menjamu, bukan menulis artikel, bukan menggambar atau menyulam, tidak boleh begitu halus indah, begitu tenang dan tak terburu-buru, lemah lembut, begitu ramah, baik hati, hormat, bersahaja, mengalah. Revolusi adalah pemberontakan, adalah tindakan kejam dari satu kelas untuk menggulingkan kelas lain,” kata-kata dalam buku merah Mao itu membuat semangat para Tentara Merah serta Lu menggelora.

Bagi Lu, membunuh dalam sebuah revolusi yang hendak dibangun negaranya adalah dianjurkan. Dan telah menjadi tugas Lu dan Pasukan Tentara Merah untuk merevolusioner para demonstran di Tiananmen.

Terrence menulis novel ini tidak hanya mengandalkan imajinasinya belaka, namun detail setting tiap detik ke detik ketika terjadi peristiwa Tiananmen merupakan jalinan data-data yang cukup valid. Hasilnya, ketegangan yang mewarnai sudut-sudut kota Beijing (Dimana lapangan Tiananmen berada) merasuk dan mampu mencengkeram ketakutan pembaca.

Tidak ada komentar: