Minggu, 24 Januari 2010

TNI DALAM LINTASAN SEJARAH

dari:http://sejarahqu.wordpress.com/2008/11/17/kavaleri-tni-dari-masa-ke-masa/

Penulis : Adi Patrianto Singgih, S.S



Kelahiran kendaraan-kendaraan perang berlapis baja, seperti tank atau panser, tidak terlepas dari eksistensi pasukan gerak cepat yang menakutkan di masa lalu, yaitu pasukan kavaleri. Sejak zaman dahulu, kavaleri merupakan satuan gerak cepat yang mampu bergerak mobil sekaligus berfungsi satuan penyerang pendadakan atau pendobrak yang akan membuka jalan bagi pasukan infanteri. Oleh sebab itu, setiap kesatuan kavaleri selalu dilengkapi dengan kuda, gajah, unta atau kereta perang (charriot). Kavaleri merupakan kesatuan yang fleksibel di masanya, karena selain berfungsi sebagai pasukan tempur juga mampu difungsikan sebagai kesatuan pengintai, pemandu atau penyampai pesan (caraka). Guna menambah kemampuan daya tempur, terutama sekitar Abad Pertengahan, pasukan kavaleri diperlengkapi dengan berbagai jenis pelindung berlapis baja serta persenjataan yang sesuai dengan manuvernya, seperti pedang, tombak atau panah.

Kecepatan dan kehandalan pasukan kavaleri di masa lalu dalam menghancurkan konsentrasi atau pertahanan musuh diperlihatkan oleh pasukan berkuda bangsa Hun di abad ke-4 serta bangsa Mongol di abad ke-13 saat menguasai Asia dan Eropa. Kehebatan kavaleri kian terkenal ketika berlangsung Pertempuran Waterloo, Belgia, pada tahun 1815. Pada peperangan itu, pasukan kavaleri Perancis yang disebut Curasiere dan Hussars berhasil memporak-porandakan pasukan gabungan infanteri-kavaleri Kerajaan Inggris. Sayangnya, karena tidak memperoleh dukungan dari pasukan infanteri Perancis ketika bala-bantuan bagi Inggris dari Kerajaan Prussia tiba -yang juga didahului oleh kesatuan kavaleri- akhirnya seluruh kekuatan Perancis ditaklukkan dan berakhirlah kekuasaan Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte. Namun ketika mulai ditemukannya senapan mesin dan berbagai perlengkapan tempur yang kian canggih di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, keadaan pasukan kavaleri berkuda semakin “merana”.


Pelajaran Berharga Dari Perang Dunia

Kelahiran berbagai jenis kendaraan berlapis baja terutama diilhami “keoknya” pasukan kavaleri berkuda dalam menghadapi semburan maut dari senapan mesin atau meriam, belum lagi ketika kawat berduri dan berbagai jenis halang-rintang mulai diterapkan di medan peperangan. Pengalaman pahit bagi pasukan berkuda yang paling mencolok adalah ketika berlangsung Perang Amerika-Spanyol di wilayah Amerika Latin dan Philipina serta Perang Sino-Eropa di Cina di akhir abad ke-19. Kedahsyatan senapan mesin pertama, seperti Gatling, tampak dalam keberhasilannya menyapu bersih setiap pasukan berkuda lawan yang akan mendekati posisi pertahanan pasukan infanteri kawan sendiri. Kondisi ini kemudian dipelajari oleh para pakar militer di seluruh belahan dunia, dan akhirnya lahirlah kendaraan-kendaraan lapis baja bersenjata pertama di tahun 1904. Kelahiran kendaraan perang berlapis baja tersebut juga dipacu kemajuan di bidang industri otomotif setelah ditemukannya mesin uap berbahan bakar minyak (petrol).

Kendaraan lapis baja untuk pertama kalinya dilibatkan dalam pertempuran pada tahun 1911, yaitu ketika Italia menaklukkan Libya. Namun, pada peperangan itu kendaraan lapis baja masih dipersenjatai satu atau dua buah senapan mesin ringan berkaliber 12,7 mm. Peran kendaraan lapis baja atau kavaleri mekanis menjadi sangat menonjol ketika berkecamuk Perang Dunia I (1914-1918) di Eropa. Perang Dunia I tidak saja melahirkan berbagai jenis kendaraan lapis baja bersenjata yang kemudian berkembang menjadi panser atau APC (Armoured Personnel Carrier), namun juga melahirkan ide-ide pengembangan ke tahapan bagaimana menciptakan sebuah kendaraan lapis baja yang mampu membawa persenjataan yang lebih dahsyat seperti meriam atau mortir. Kavaleri mekanis jenis inilah yang kemudian dikenal sebagai “tank”. Kemampuan tank dalam peperangan diuji pertama-kalinya dalam Pertempuran Somme, Perancis, tahun 1917 antara pasukan tank Inggris dengan Jerman. Pertempuran tersebut dimenangkan Inggris. Hasil pertempuran itu menyadarkan para perancang kendaraan berlapis baja, bahwa keunggulan kendaraan lapis baja, baik yang dipersenjatai senapan mesin atau meriam (tank), tidak hanya dipengaruhi banyaknya persenjataan atau besarnya bodi belaka, namun juga kemampuannya bermanuver dan kecepatan dalam bergerak.

Kavaleri mekanis ini mengalami perkembangan signifikan dan memiliki beragam varian ketika menjelang berkecamuknya Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia I berakhir, berbagai kalangan di pemerintahan dan masyarakat menghendaki tidak adanya lagi peperangan besar dan menginginkan dipangkasnya anggaran serta kekuatan militer. Kala itu banyak kendaraan-kendaraan perang peninggalan Perang Dunia yang dialih-fungsikan sebagai sarana angkut atau pengolah lahan-lahan pertanian. Meskipun demikian keberadaan dan peningkatan kemampuan pasukan kavaleri mekanis terus diperjuangkan, dan salah satu penggagas kombinasi kavaleri dan infanteri dalam pertempuran yang terkenal, adalah Kolonel (yang kemudian menjadi Jenderal) Charles De Gaulle, dari Perancis. Namun ironisnya, ide-ide De Gaulle justru dimentahkan oleh bangsanya sendiri, dan yang mengembangkannya serta mengaplikasikannya malah “musuh bebuyutan” Perancis sendiri, yaitu Jerman. Jerman menjelang dimulainya Perang Dunia II berhasil membangun kekuatan kavaleri mekanisnya hingga ke taraf yang sangat mengagumkan untuk era kala itu. Berbagai jenis peralatan perang mekanis berhasil diciptakan oleh para insiyur otomotif Jerman. Yang menarik, adalah untuk pertama kalinya panser angkut personel diciptakan oleh Jerman, sesuatu hal yang pada masa itu belum terpikirkan. Kedahsyatan kavaleri mekanis ini dalam pertempuran terbuka diperlihatkan antara lain oleh Korps Afrika-Jerman dalam Pertempuran Gurun Pasir Libya, Afrika (1941), lalu di Front Timur, Uni Soviet, selama berlangsungnya Operasi Barbarossa (1941) dan terakhir dalam Pertempuran Bulge, Belgia (1944). Meskipun kalah dalam Perang Dunia II, harus diakui Jerman memiliki keunggulan tersendiri dari segi teknis pada “kuda-kuda perangnya”, seperti Tank Tempur Tiger I dan II, King Tiger atau Panther. Sementara itu panser-panser angkut personel Jerman pun cukup mampu memberikan dukungan bagi pergeseran pasukan ke daerah-daerah operasi, seperti Hanomag, Horsch dan sejenisnya.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II, mulailah berbagai negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis dan Uni Soviet seolah berlomba menciptakan serta mengembangkan berbagai jenis kendaraan lapis baja, baik untuk sekelas Main Battle Tank (MBT) hingga panser intai. Bahkan ketika memasuki era nuklir, dikembangkan pula kendaraan lapis baja yang mampu mengangkut dan menembakkan peluru berhulu ledak nuklir.



Hadirnya Kendaraan Lapis Baja Di Indonesia

Bangsa Indonesia sesungguhnya baru “mengenal” kendaraan lapis baja, seperti tank dan panser, justru pada masa-masa menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia-Belanda. Hal tersebut dikarenakan masih sempitnya pemikiran para petinggi pemerintahan dan militer Hindia-Belanda dalam penerapan kebijakan-kebijakan strategis di bidang pertahanan dalam negeri Hindia-Belanda (Indonesia). Belanda mengesampingkan berbagai asumsi mengenai kemungkinan invasi Jepang dari utara, karena lebih memilih “mengamankan” berbagai gerakan lokal rakyat Indonesia yang tidak puas dengan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda. Dalam benak para petinggi Hindia-Belanda tersebut, untuk “mengamankan” wilayah nusantara yang luas ini cukup dengan mengandalkan kesatuan-kesatuan kavaleri berkuda. Toh menurut mereka yang dihadapi hanyalah sekelompok “inlander” yang primitif dan mudah diadu-domba. Mereka mengabaikan gelombang serangan bala-tentara Kekaisaran Jepang (Dai Nippon) yang sejak tahun 1937 mulai bergerak jauh menuju ke selatan (Asia Tenggara). Hingga menjelang kejatuhannya, militer Hindia-Belanda hanya diperlengkapi dengan mobil-mobil berlapis baja yang dipersenjatai senapan mesin, seperti Lanchaster, Delaunay-Belleville dan Austin-Putinov, seluruhnya produk Inggris, atau truk lapis baja beroda enam L2H143 buatan Krupp-Jerman, AC3D produk Alvis Straussler-Inggris, Marmon-Herrington Mk.3 produk Afrika Selatan serta kendaraan tempur (ranpur) lapis baja produk lokal: Braat. Keengganan pejabat-pejabat Hindia-Belanda untuk merekrut dan melatih personel KNIL (Koninklijke Nederlands Indishe Leger) keturunan pribumi dalam mengoperasikan kendaraan-kendaraan perangnya kian menjadikan kekuatan pertahanan Belanda di nusantara sangat lemah.

Kekuatan militer Jepang yang mengerahkan gabungan satuan infanteri yang diperlengkapi arteleri medan dan kavaleri lapis baja berhasil “menjebol” semua lini pertahanan Hindia-Belanda hanya dalam waktu singkat. Tidak sampai tiga bulan, kekuasaan Hindia-Belanda “tekuk-lutut” di hadapan para serdadu Kekaisaran Asia Timur Raya, Jepang. Keberhasilan Jepang dalam menaklukkan wilayah-wilayah bekas jajahan “bangsa kulit putih” di Asia Tenggara, seperti Inggris di Burma dan Malaysia, Perancis di Indo-Cina, Belanda di Indonesia dan Amerika di Filipina, tidak terlepas dari kehandalan unit-unit kavaleri lapis baja modern mereka, seperti tank ringan Tipe 92 dan 95 Kyu Go, tank menengah Tipe 1 Chi He dan Tipe 97 Shinhoto Chi Ha, dalam bermanuver di hutan belantara Asia Tenggara. Pasukan kavaleri Jepang juga didukung panser serba-guna jenis Dowa, Osaka Ho Ko Ku-Go 2592, Sumida 2593 serta panser amfibi bersenjata roket Chiyoda 92. Selama menduduki wilayah Indonesia, Jepang yang sejak akhir tahun 1942 mulai “kedodoran” di berbagai front pertempuran, merekrut dan melatih pemuda-pemuda Indonesia untuk membantu militer Jepang membangun pertahanannya terhadap kemungkinan invasi Sekutu. Sebagian dari para pemuda tersebut dilatih mengemudikan berbagai jenis kendaraan lapis baja yang berada di bawah komando Jepang di Indonesia, termasuk unit-unit peninggalan Hindia-Belanda. Para pemuda Indonesia yang telah terlatih –walau sangat singkat- inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal pengawak kendaraan lapis baja ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1945 tidak serta-merta diikuti pembentukan kesatuan-kesatuan kavaleri, meskipun personel pengawak dan sarananya telah tersedia. TKR sesungguhnya telah berupaya menghimpun dan merebut sebanyak mungkin kendaraan-kendaraan lapis baja dari tangan Jepang yang telah menyerah kalah pada Sekutu sebelum TKR itu sendiri diresmikan pembentukannya oleh pemerintah Indonesia melalui Maklumat Presiden RI No. 6 tanggal 5 Oktober 1945. Berkat andil kesatuan-kesatuan Polisi Istimewa (Tokubetsu Keisatsutai) TKR –yang kala itu masih bernama BKR (Badan Keamanan Rakyat)- pada tanggal 2 Oktober 1945 berhasil membentuk Pasoekan Bermotor yang memiliki 25 unit tank berbagai jenis hasil rampasan dari pasukan kavaleri Kitahama Butai Jepang. Pasukan kavaleri pertama Indonesia ini turut berperan besar dalam pertempuran di Surabaya antara bulan Oktober hingga November 1945.

Kesatuan kavaleri Indonesia tidak berumur panjang. Hal tersebut dikarenakan kurangnya tenaga personel pengawak yang terlatih dan minimnya suku-cadang. Akibatnya di awal tahun 1946 unit-unit kavaleri TKR tidak lagi mampu berkiprah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bahkan banyak “kuda-kuda perang” pertama Indonesia tersebut yang jatuh ke tangan Inggris atau Belanda dalam keadaan utuh karena ditinggal para awaknya yang lebih memilih bergerilya bersama pasukan infanteri lainnya. Tak mau direpotkan dengan harus membawa “harta karun” peninggalan TKR tersebut, Inggris dan Belanda lebih memilih menghancurkannya di tempat. Tidak heran, jika kita sekarang sangat sulit mendapati petilasan panser atau tank kuno yang pernah dioperasikan para pejuang Indonesia selama era Perang Kemerdekaan (1945-1949).



Perkembangan Pasukan Kavaleri Di Indonesia

Setelah tercapainya Pengakuan Kedaulatan Negara Indonesia oleh Kerajaan Belanda di akhir tahun 1949, dilakukanlah konsolidasi kekuatan TNI (Tentara Nasional Indonesia) serta melakukan pembenahan-pembenahan organisasi. Hal paling krusial pada kurun waktu antara tahun 1949 hingga 1950 adalah masalah pengintegrasian personel TNI mantan pejuang dengan eks-KNIL dan Veld Politie dalam wadah Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). APRIS sendiri terbentuk sebagai hasil kesepakatan dalam Perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, yang mensahkan terbentuknya Republik Indonesia Serikat, yang merupakan penggabungan RI dengan negara-negara federal bentukan Belanda. Sebagai imbalan terbentuknya APRIS, dilaksanakanlah serangkaian hibah peralatan militer dari Belanda.

Salah satu penjabaran dari terbentuknya APRIS, adalah pembentukan satuan kavaleri Angkatan Darat dan Laut RIS (ADRIS/ALRIS). Khusus untuk satuan kavaleri ADRI, meski pucuk pimpinannya dari TNI, namun sebagian besar personel pengawak dan instruktur latihnya berasal dari mantan anggota satuan kavaleri KNIL, VET (Verkennings Eskadron Tank/Eskadron Tank Intai) dan VEP (Verkennings Eskadron Panserwagen/Eskadron Panser Intai). Adapun material kavaleri yang diterima TNI antara lain meliputi panser angkut personel ringan Bren Carrier, panser intai Humber Scout Car Mk. 1-3, M8 Greyhound, truk lapis baja M3A1 Scout Car, tank ringan M3A3 Stuart dan tank berat M4A3 Sherman. Kesatuan kavaleri ADRI terbentuk pada tanggal 9 Februari 1950 (yang kini diperingati sebagai Hari Kavaleri TNI AD) dan serah-terima peralatan kavaleri dilakukan pada tanggal 26 Juli 1950 di Ksatrian OCPT (Opledings Centrum Panser Troepen/Pusat Pendidikan Pasukan Panser) yang kini dikenal sebagai Pusdikkav TNI AD. Selanjutnya sejalan dengan penataan organisasi pada tahun 1959 berdirilah Pusat Kesenjataan Kavaleri TNI AD (Pussenkav). Di lingkungan ALRIS, proses hibah peralatan kavaleri juga dilakukan oleh Koninklijke Marine (Marinir Kerajaan) kepada Korps Komando ALRI (KKO AL). Hanya karena di lingkungan KM, tidak satupun ada personel pribumi, seluruhnya orang kulit putih warga negara Belanda, maka proses peleburan TNI-KNIL tidak terjadi di lingkungan satuan kavaleri KKO AL. Para personel pengawak KKO AL dilatih oleh “mantan musuhnya” di bawah payung program pelatihan Missie Militer Belanda (MMB). Material kavaleri KKO AL yang diterima dari KM meliputi kendaraan pendarat amfibi meriam LVTA (Landing Vehicle Tracked Armoured) 1 dan 4, LVTH (Landing Vehicle Tracked Howitzer), panser amfibi DUKW dan tank berat M4A3 Sherman yang dimodifikasi menjadi tank amfibi. Awalnya kesatuan kavaleri KKO AL masih kekuatan setingkat kompi, yaitu Kompi Tank dan Kompi Amphibious Tractor/Amtrac). Baru diresmikan menjadi Batalyon Tank Amfibi pada tanggal 17 Oktober 1961.

Walaupun masih dililit kehidupan serba kekurangan dan keterbatasan di bidang sumber-daya material serta manusia, kesatuan-kesatuan kavaleri TNI turut menyumbangkan dharma bhaktinya kepada Bumi Pertiwi tatkala Indonesia dilanda berbagai pemberontakan di dalam negeri antara tahun 1950 hingga 1960, mulai dari Pemberontakan Andi Aziz, APRA (Angkatan Perang Ratoe Adil), DI/TII, PRRI-Permesta dan RMS (Repoeblik Maloekoe Selatan). Diantara berbagai operasi keamanan dalam negeri yang digelar TNI, yang paling memberikan pelajaran berharga adalah operasi penumpasan Permesta (Perjoeangan Semesta) di Sulawesi dan PRRI (Pemerintahan Revoloesioner Repoeblik Indonesia) di Sumatera pada tahun 1957-1958. Disini, Indonesia memetik pelajaran berharga bahwa TNI harus memiliki persenjataan kavaleri yang sesuai dengan tuntutan jaman dan untuk itu harus dilakukan sejumlah pembelian material dari luar-negeri. Kesadaran akan hal tersebut kian mengeras ketika Indonesia mencanangkan Komando Trikora (Tri Komando Rakyat) Pembebasan Irian Barat akibat sikap ngotot Belanda yang ingin tetap bercokol di Irian Barat. Padahal dalam klausul di KMB, Belanda secara bertahap harus mengembalikan wilayah jajahannya kepada Indonesia, termasuk Irian Barat. Guna menandingi Belanda yang menggelar kekuatan militernya di Irian Barat, maka Indonesia bermaksud menggelar operasi militer berskala besar, yaitu Operasi Jayawijaya.

Dalam rangka persiapan operasi tersebut, Indonesia memboyong ratusan unit kendaraan tempur (ranpur) dari berbagai negara. Pada tahun 1960 TNI AD menerima ranpur beroda ban EBR/FL-11 Panhard dan tank ringan AMX-13 dari Perancis. Di tahun yang sama juga TNI AD kembali menerima ranpur anyar dari Inggris, yaitu Ferret Mk.2/3, VF 601 Saladin dan VF 602 Saracen. Namun Indonesia pengadaan lebih lanjut “kuda-perang” bagi satuan kavaleri mengalami ganjalan dari negara-negara Blok Barat (NATO dan Amerika), pasalnya yang akan dihadapi adalah anggota mereka yaitu Belanda. Kesulitan Indonesia kian bertambah ketika Komando Dwikora yang menentang proses dekolonisasi jajahan Inggris di Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Utara dikumandangkan, sehingga memancing reaksi keras dari negara-negara Barat. Oleh karena itulah maka Indonesia mulai “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Pakta Warsawa dan Uni Soviet. Dari Uni Soviet, TNI AD menerima panser roda BTR 40P, BTR 152P, panser intai BRDM dan tank amfibi ringan PT-76. KKO AL menerima panser amfibi angkut personel BTR 50, panser intai BRDM, panser angkut serba-guna KAPA K-61 dan tank amfibi ringan PT-76.

Namun nasib suram kembali menimpa pasukan kavaleri TNI di akhir dekade 1960-an. Hal tersebut disebabkan adanya embargo persenjataan dan suku-cadangnya oleh Pakta Warsawa, Uni Soviet dan negara-negara pendukung komunisme. Embargo tersebut diterapkan setelah dilakukannya serangkaian operasi penumpasan terhadap Gerakan 30 September (G 30 S) yang dituding terlibat dalam sebuah “gerakan berdarah” pada tanggal 30 September 1965 dan mengakibatkan sejumlah perwira tinggi, menengah dan pertama TNI AD meninggal. Pasca meletusnya G 30 S, TNI-Polri kemudian menggelar sejumlah operasi penumpasan dan penangkapan terhadap para pendukung atau anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga mendalangi “gerakan berdarah” tersebut. Tidak hanya itu, pemerintah dan parlemen kemudian menyatakan PKI sebagai partai terlarang dan “mengharamkan” tumbuh kembangnya ideologi komunis di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan itulah yang memancing reaksi keras dari negara-negara penganut dan pendukung ideologi komunis, sehingga akhirnya berujung pada embargo persenjataan. Meskipun dalam kondisi merana akibat embargo dan kesulitan keuangan, TNI tetap berupaya keras agar perangkat-perangkat satuan kavalerinya tetap siap beroperasi. Guna mengatasi keadaan demikian itu, dilakukanlah serangkaian pergantian komponen persenjataan, komunikasi dan mesin utama, pada kendaraan lapis baja eks Uni Soviet. Istilah kerennya “retrofit”.

Sementara itu di tengah-tengah kondisi ranpur TNI yang serba minim, Indonesia pada tahun 1975 kembali menggelar operasi militer berskala besar di daerah bekas jajahan Portugis, Timor Timur (kini bernama Republik Demokrasi Timor Leste), yaitu Operasi Seroja. Semua itu demi mencegah tidak berkembang-biaknya komunisme di Asia Tenggara. Memang sejak “ditinggalkan” oleh Portugis, Timor Timur atau yang kala itu masih bernama Timor Portugis, tengah dilanda pergolakan hebat antara Fretilin yang berideologi komunis dengan lawan-lawannya yang tidak sepaham. Kesatuan-kesatuan kavaleri TNI AD dan Korps Marinir TNI AL yang terpaksa masih menyadarkan kekuatannya pada ranpur-ranpur antiknya, seperti tank ringan M3A3 Stuart, AMX 13 dan PT-76, turut dilibatkan dalam Operasi Seroja.

Perkembangan diakhir dekade 1960-an dan awal 1970-an merupakan moment penting bagi eksistensi kesatuan-kesatuan kavaleri TNI-Polri. Kian akrabnya Indonesia dengan negara-negara Barat dan Amerika, mendorong terjadinya penambahan mesin-mesin perang bagi TNI-Polri. Amerika memasok satuan kavaleri TNI AD dengan panser angkut personel bersenjata jenis LAV (Light Armoured Vehicle) 150 Commando dan Commando Scout. Sementara itu, Batalyon Tank Amfibi Resimen Bantuan Tempur Korps Marinir TNI AL kebagian sejumlah ranpur amfibi ringan asal Perancis di dekade awal 1980-an, yaitu AMX-10P/PAC 90. Namun karena sejumlah kendala teknis, ranpur asal Perancis ini jarang dilibatkan dalam operasi militer, Korps Marinir lebih memilih PT-76 sebagai “kuda perangnya”. Memasuki dekade 1990-an TNI-Polri kembali menerima sejumlah ranpur baru dalam rangka memodernisasi kesatuan kavalerinya. TNI AD menerima panser roda ban jenis GIAT VAB, tank intai ringan jenis Scorpion 90 dan APC jenis Stormer dari Inggris, serta Panhard VBL dari Perancis. Sedangkan Polri menerima panser beroda empat jenis Tactica dari Inggris. Korps Marinir TNI AL menerima tank amfibi angkut personel yang juga berfungsi sebagai anti serangan udara jenis BVP-2 dari Slovakia dan panser amfibi angkut personel BTR 50P dari Ukraina.

Indonesia kembali mengalami kesulitan dalam hal pengadaan material dan suku-cadang baru bagi kesatuan kavalerinya, ketika Amerika dan Eropa Barat menerapkan embargo persenjataan menyusul pecahnya kerusuhan berdarah di Timor Timur pasca jajak pendapat tahun 1998. Jajak pendapat itu sendiri dimenangkan oleh kelompok pro-kemerdekaan Tim-Tim dan memancing reaksi keras dari kelompok pro-integrasi dengan NKRI. Akibat embargo tersebut kinerja satuan kavaleri TNI melorot drastis. Sejumlah ranpur bahkan mengalami penyusutan karena dilakukannya langkah kanibalisasi akibat kesulitan suku-cadang. Nasib satuan kavaleri TNI, terutama yang mengoperasikan tank Scorpion, kian menderita ketika Pemerintah Inggris memprotes pengoperasian produknya tersebut di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam selama berlangsung operasi militer terpadu menumpas GAM pada tahun 2003. Meskipun TNI kesulitan mendapatkan material dan suku-cadang baru dari Eropa Barat atau Amerika, namun upaya pengadaan untuk menutup kekurangan material kavaleri tetap dilakukan. Jika tidak berhasil mendapatkannya dari Eropa atau Amerika, Indonesia melirik negara produsen lain, seperti Republik Rusia, Afrika Selatan atau Korea Selatan, yang tidak menerapkan kebijakan embargo. Pada tahun 2002 Resimen Kavaleri Korps Marinir TNI AL menerima sejumlah panser beroda delapan jenis BTR-80A dari Rusia, lalu Satuan Gegana Korps Brigade Mobil Polri menerima panser jenis Barracuda dari Korea Selatan dan Satuan 81 Gultor Kopassus TNI AD menerima panser jenis Casspir Mk.3 dari Afrika Selatan.


Menuju Kemandirian

Di usia yang kini menginjak 60 tahun alias Tahun Berlian, TNI, sejak awal terbentuknya hingga sekarang, terus berupaya untuk menjadi kekuatan pertahanan negara yang mandiri. Belajar dari pengalaman selama ini jika mengandalkan pasokan dari negara lain, maka Indonesia tidak akan pernah dapat mandiri dan mudah didikte oleh bangsa lain. Seperti di masa lalu, ketika terjadi perubahan di dalam negeri yang tidak disukai oleh salah satu bangsa adi-kuasa maka dilakukan embargo persenjataan dan suku-cadangnya. Akibatnya kekuatan pertahanan negara dapat dikatakan nyaris lumpuh, karena sebagian material utamanya tidak dapat lagi berfungsi atau kehilangan fungsi asasinya. Atas dasar itulah maka TNI terus berupaya untuk menjadi kekuatan yang mandiri dalam arti ampu membangun, merawat dan mengembangkan material utamanya dengan tidak menggantungkan diri pada negara lain.

Untuk itulah maka TNI dan Departemen Pertahanan RI berupaya menjalin kerjasama dengan sejumlah kalangan akademik serta industri strategis di dalam negeri. Sehingga diharapkan pada akhirnya akan dapat mewujudkan kekuatan pertahanan yang 100 persen made in Indonesia. Bermodalkan pengalaman saat melakukan peremajaan ranpur TNI, beberapa institusi berhasil menciptakan beberapa produk unggulan walau masih terbatas ranpur beroda empat atau enam. PT Pindad mengawali kesuksesan dengan melansir panser angkut personel ringan APR-1 V1. APR-1 merupakan ranpur produk dalam negeri pertama yang dilibatkan dalam operasi militer terpadu di Aceh selama berlangsungnya Darurat Militer guna menggantikan tank Scorpion yang ditarik menyusul adanya protes dari Pemerintah Inggris. Selain itu, PT Pindad juga berhasil melansir panser taktis APR-2 V1 versi polisi yang akan memungkinkan untuk menjadi kendaraan pengamanan VVIP (Very-Very Important Person). Kesuksesan berlanjut dengan dilansirnya panser angkut personel jenis RPP-1 (Ranpur Pengangkut Personel) yang merupakan hasil kerjasama Balitbang Dephan, Bengpuspalad TNI AD dan Fakultas Tehnik Universitas Indonesia. RPP-1 merupakan hasil pengembangan dari BTR-40P retrofit yang dihibahkan TNI AD kepada Korps Brimob Polri. Sementara itu hasil kerjasama PT Pindad dengan BPPT berhasil menciptakan panser angkut personel sedang beroda enam jenis APS 6×6. TNI AD pun tidak mau kalah dengan menciptakan panser sendiri, yaitu Pakci (burung). Konon kabarnya ranpur berbobot 4 ton dan berkapasitas angkut 10 orang ini mampu menabrak hingga ambruk tembok setebal 20 cm tanpa tergores sedikitpun.

Walau di Tahun Berlian ini Indonesia baru mampu menghasilkan karya cipta mandiri bagi kesatuan kavalerinya berupa panser angkut personel beroda ban, namun semua ini dapat menjadi bukti keseriusan bangsa ini untuk menjadi “tuan rumah di negeri sendiri”. Embargo terhadap pasokan ranpur TNI-Polri selama ini merupakan pelajaran berharga agar Indonesia tidak lagi bergantung pada produksi negara lain, yang pada akhirnya bangsa ini akan kehilangan kedaulatannya. Hilang bukan melalui pendudukan atau penjajahan melainkan secara bertahap melalui penguasaan ekonomi berikut sumberdayanya serta menghilangkan kemampuan dalam mengambil keputusan sendiri. Semoga ke depan, TNI mampu menciptakan “kuda-kuda perang” sendiri yang lebih memiliki daya hancur dan kekuatan pemukul, seperti tank atau panser yang mampu mengangkut dan menembakkan peluru kendali berdaya jelajah tinggi. Jika kita menengok bagaimana industri strategis dalam negeri India mampu melansir tank sekelas MBT jenis Arjun, mungkin kita perlu belajar bagaimana memiliki kekuatan pertahanan negara yang mandiri dan tentunya “memiliki taring” untuk menghalau setiap tindakan yang mengancam kedaulatan bangsa dan negara Indonesia.

Tidak ada komentar: