Rabu, 17 Februari 2010

“Daur Ulang” Musuh Soviet, Trik Baru AS Perangi Taliban

KABUL (SuaraMedia News) – Tentara Nasional Afghanistan (ANA) diciptakan dari awal oleh AS dan para sekutunya. Namun, setidaknya dalam kepangkatan anggota senior, tentara Afghanistan terdahulu, yang turut dienyahkan oleh AS dua dekade sebelumnya.

Pemerintah Afghanistan didominasi oleh mantan gerilyawan; menteri pertahanan maupun kepala staf militer Afghanistan adalah bekas gerilyawan anti Soviet. Akan tetapi, sebagian besar jenderal dan kolonel ANA yang ditunjuk sebagai bawahan mereka, justru merupakan para veteran militer Afghanistan yang dulu dididik oleh Soviet dan memburu para gerilyawan pada tahun 1980an.

Karena kekurangan tenaga profesional, pasukan koalisi pimpinan AS menarik orang-orang yang sebelumnya bermusuhan, memulihkan kembali pangkat mereka pada era Soviet, dan memberikan kekuasaan kepada mereka. Para pejabat Amerika mengatakan bahwa sejumlah kecil warga Afghanistan lainnya mendapatkan pelatihan militer formal dan mengetahui cara menjalankan divisi pasukan konvensional dan brigade.


Dengan jumlah hanya 100.000 orang, jumlah personel ANA diproyeksikan menjadi 172.000 orang pada musim gugur 2011 mendatang. Menjadikan ANA sebagai kekuatan tempur memang diprioritaskan oleh pemerintahan Obama dan menjadi satu-satunya strategi agar pasukan koalisi pimpinan AS dapat menarik diri di tengah semakin buruknya opini publik negara-negara Barat mengenai perang Afghanistan.

Dalam misi ini, mengurus para komandan senior ANA menjadi hal yang sama pentingnya dengan mencurahkan perhatian pada para personel militer baru.

“Jika tidak dikembangkan pemimpin yang baik, maka kekuatan militer ini tidak akan pernah mecapai keberhasilan,” kata Letnan Jenderal William Caldwell IV, komandan program pasukan koalisi yang bertugas untuk membangun pasukan keamanan Afghanistan.

Para veteran era Soviet – yang sebagian besar diantaranya diusir atau menganggur dalam kekacauan yang terjadi beberapa tahun terakhir – merupakan figur-figur pemimpin yang sudah kenyang pengalaman.

“Mantan personel militer adalah orang-orang yang sarat pengalaman, seiring dengan keinginan mengembangkan kekuatan militer kami secara luas, maka kehadiran mereka kami butuhkan,” kata Brigadir Jenderal Ali Ahmad Popal, komandan Pusat Pelatihan Militer Kabul, sebuah lokasi yang menghasilkan ribuan orang prajurit baru ANA setiap bulannya.

Sebagai deputi komandan korps pasukan Kandahar pada era kekuasaan Komunis, Jenderal Popal tinggal di lokasi pengasingan di India, hingga bergabung dengan ANA pada tahun 2008 lalu.

“Satu-satunya hal yang membedakan tentara lama dan tentara baru adalah, sebelumnya kami memiliki program wajib militer, tapi saat ini sepenuhnya bergantung pada sukarelawan,” katanya. “Kami berperang dengan musuh negara kami dan siapapun yang melakukan serangan terhadap tanah tumpah darah kami.”

Pekan ini, Presiden Hamid Karzai mengatakan bahwa dirinya tengah mempertimbangkan pengenalan kembali draf tersebut di Afghanistan.

Ketergantungan terhadap para perwira yang bertugas pada era Soviet semakin terlihat pada upacara kelulusan dari pusat komando senior ANA yang baru-baru ini digelar. Sembilan belas orang kolonel dan brigadir yang berusia 50 hingga 60 tahunan dinyatakan lulus setelah dididik oleh para instruktur AS dan Perancis selama beberapa bulan. Diantara para lulusan tersebut, 16 orang diantaranya dulu bertempur dalam tubuh militer Komunis Afghanistan, dan hanya ada tiga orang yang memiliki latar belakang mujahidin.

Para veteran perang Afghanistan tersebut – yang sebagian besar diantaranya dididik di Rusia – seringkali menerapkan pendekatan birokrasi dari atas ke bawah yang bertabrakan dengan kultur militer Amerika, yang cenderung memberikan peluang kepada komandan individu dan meletakkan kekuasaan lebih besar di tangan para bintara.

Namun, pihak koalisi mengatakan bahwa mereka menghargai kecocokan metode Soviet dengan pasukan seperti ANA, dimana tiga perempatnya diisi oleh orang-orang yang kurang terpelajar.

“Ada masa-masa dimana mereka mengemukakan gagasan, dan kami berkata: ‘ya, hal itu bisa dijalankan,’” kata Brigadir Jenderal Paun Wynnyk dari Kanada, yang bertugas mengawasi upaya pasukan koalisi internasional untuk mengembangkan tentara Afghanistan. “Beberapa hal yang dulu ditanamkan oleh Rusia (Uni Soviet) sebenarnya cukup baik.”

Para ofisial Amerika dan sekutu bersikap hormat terhadap para veteran era Soviet yang sehari-hari berurusan dengan mereka dalam perang melawan gerakan Taliban.

Salah satunya adalah deputi pertama menteri pertahanan, Letnan Jenderal Mohammad Akram, yang mengepalai komando regional selatan tentara komunis pada awal tahun 1990an. Lainnya adalah kepala operasi ANA, Letnan Jenderal Sher Karimi, seorang perwira karir yang dididik di akademi militer Sandhurst Inggris pada tahun 1960an dan amat fasih berbahasa Inggris.

Seperti halnya para veteran perang lainnya yang kembali ditarik ke militer, Jenderal Karimi dan Akram berasal dari etnis Pashtun di sebelah selatan dan timur Afghanistan, yang menjadi jantung kelompok gerilyawan Taliban.

Kehadiran mereka sebagai perwira senior dapat menghilangkan persepsi di kalangan etnis Pashtun yang menganggap bahwa ANA didominasi kelompok etnis rival mereka, etnis Tajik, yang kelompok milisinya turut berperan menggulingkan pemerintahan Taliban dengan bantuan Amerika pada tahun 2001, dan hingga saat ini memiliki banyak perwakilan di dalam korps militer.

Kepala staf ANA, Jenderal Bismullah Khan Mohammadi, adalah salah satu komandan dari etnis Tajik. Jenderal Mohammadi yang memelihara jenggot tersebut merupakan mantan ajudan mendiang pemimpin mujahidin, Ahmad Shah Masood.

Kemudian ia mendukung Jenderal Karimi, pria berkumis yang berdiri di dekat sebuah helikopter dan menjabat tangannya dengan erat.

Dengan senyum malu, Jenderal Karimi mengakui bahwa terkadang dirinya “berperang” melawan atasannya di medan tempur.

Jenderal Mohammadi kemudian tertawa lepas.

“Kami telah membuka lembaran baru dalam sejarah,” tukasnya. “Sekarang, siapapun yang bergabung dan berkeinginan untuk melayani negara adalah saudara kami.” (dn/ws) www.suaramedia.com

Tidak ada komentar: