Selasa, 02 Februari 2010

Rosa Luxemburg “Sang Pedang Revolusi”

Rosa Luxemburg lahir di Polandia pada tahun 1871, beberapa hari sebelum kaum buruh di Paris menyatakan Komune Paris. Dia wafat setahun setelah revolusi Bolsyevik meletus di Rusia. Seumur hidup dia berjuang untuk emansipasi umat manusia dari penindasan dan penghisapan kapitalis. Dia pernah dijuluki “Sang Pedang Revolusi”.
Perempuan keturunan Yahudi ini lahir di kota kecil Zamosc, tetapi dengan umur dua tahun keluarganya berpindah ke ibukota Warsawa. Walau dia luar biasa pintar bersekolah, dan seharusnya mendapatkan sebuah hadiah, hadiah itu ditolak oleh kepengurusan sekolah karena Rosa Luxemburg dikenal “terlalu suka menentang pihak yang berwenang”.
Waktu masih bersekolah dia sudah ikut pergerakan revolusioner bawah tanah, dan menjadi anggota salah satu sel Partai Proletariat, yang bersekutu dengan kelompok Narodnik (populis) di Rusia. Beberapa tahun kelak Rosa ketahuan dan terancam ditangkap oleh polisi, maka secara diam-diam dia berangkat keluar negeri untuk belajar di Swiss. Di Zurich dia belajar sains, matematika dan hukum. Akhirnya dia meraih gelar doktor dengan menulis karya ilmiah tentang perkembangan kapitalisme di Polandia.
Kota Zurich itu menjadi kiblat untuk banyak orang kiri lainnya, seperti dua orang Marxis termasyur dari Rusia, Plekhanov dan Akselrod. Rosa sempat belajar Marxisme, ikut perdebatan-perdebatan pergerakan kiri dan menjadi seorang teoretisi Marxis terkemuka.
Pada tahun 1892 Rosa ikut mendirikan Partai Sosialis Polandia, namun beberapa waktu kemudian dia berselisih dengan para pimpinan Partai tersebut, yang dianggapnya terlalu berkompromi dengan nasionalisme borjuis. Rosa Luxemburg dan kawan akrabnya Leo Jogiches mendirikan Partai Sosial Demokrat, yang bersifat lebih revolusioner. Rosa tampil sebagi penulis dan ahli pidato, sedangkan Leo menyelesaikan tugas-tugas organisasi.
Selesai kuliah di Swiss, dia berpindah ke Jerman pada tahun 1897. Dia menjadi seorang tokoh penting dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman tanpa meninggalkan peranannya sebagai seorang pemimpin gerakan revolusioner Polandia. Karya-karya Rosa Luxemburg banyak yang berupa polemik menentang para pimpinan reformis. Dia juga sering berdebat dengan Lenin.
Pada tahun 1904 Rosa meringkuk selama satu bulan karena dituduh “menghina Kaiser”. Setahun kemudian dia dituduh “memicu keonaran” dan ditangkap lagi. Waktu Perang Dunia I meledak dia dijebloskan ke penjara, karena melawan perang tersebut.
*****
Sumbangan teoretis Rosa Luxemburg yang paling penting dilakukannya dalam perdebatan dengan unsur-unsur konservatif dan reformis di dalam gerakan sosial demokrat, baik dalam partai maupun dalam serikat-serikat buruh yang berkembang di bawah naungan partai itu.
Menjelang akhir abad XIX timbullah sebuah aliran reformis dalam gerakan tersebut. Argumentasi reformis diajukan secara belak-belakan oleh Eduard Bernstein, yang berpendapat bahwa kaum sosialis harus memperjuangkan reformasi di dalam rangka sistem kapitalis saja. Menurut Bernstein, kapitalisme telah mengatasi kontradiksinya dengan munculnya perusahaan monopolistis dan penyediaan kredit secara luas, dan kaum buruh bisa meraih kemakmuran melalui kegiatan serikat-serikat buruh dan kegiatan parlementer.
Dalam tulisannya “Reformasi atau Revolusi?” Rosa Luxemburg membalas bahwa perusahaan-perusahaan raksasa dan penyediaan kredit itu justeru bisa mempertajam kontradiksi kapitalis. “Mereka gagal untuk mengatasi kontradiksi itu. Sebaliknya, mereka menjadi sebab untuk gejala-gejala yang justeru lebih anarkis dalam perekonomian.” Dan dia menganut jalan revolusioner:
Reformasi legislatif dan revolusi bukanlah dua metode perkembangan historis yang bisa dipilih dengan leluasa dari meja pajangan sejarah, seperti kita memilih sosis yang hangat atau dingin … mereka yang menyatakan diri sebagai penganut reformasi legislatif … sebenarnya tidak memilih suatu jalan yang lebih tenteram, damai dan gradual ke tujuan yang sama, melainkan mereka memilih suatu tujuan yang berbeda … mereka tidak memperjuangkan sebuah masyarakat baru melainkan hanya beberapa perubahan di permukaan masyarakat lama.
Perbedaan antara jalan revolusioner dan jalan reformis disentuhnya juga dalam diskusi tentang pemogokan massa. Pada awal abad ini, pemogokan-pemogakan yang melibatkan ratusan ribu buruh masih merupakan fenomena baru. Kobaran semacam itu terjadi di Belgia pada tahun 1891, 1893 dan 1894. Dalam dua artikel, Rosa Luxemburg menganalisis aksi-aksi itu sebagai senjata penting dalam perjuangan revolusioner kelas buruh.
Pada tahun 1905, revolusi Rusia yang pertama meledak. Di sini, pemogokan massa menjadi motor revolusi, dan fenomena itu memberikan pengertian baru yang mendalam untuk memahami hubungan erat antara perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Para pimpinan sosial-demokrat seperti Bernstein dan juga Karl Kautsky (yang waktu itu masih mengaku sebagai seorang revolusioner) tidak setuju dengan pemogokan massa, karena mereka menganggap aksi-aksi semacam itu kurang politis. Namun Rosa Luxemburg menekankan bahwa di masa revolusi, perjuangan ekonomi berkembang serta meluas menjadi perjuangan politik, dan sebaliknya:
Gerakan semacam ini tidak hanya bergerak ke satu arah, dari sebuah perjuangan ekonomi ke politik, tetapi juga dalam arah sebaliknya. Setiap aksi massa politik yang penting, setelah mencapai puncak, menimbulkan sejumlah pemogokan ekonomi massa. Dan prinsip ini bukan hanya relevan untuk pemogokan massa secara terpisah, tetapi juga untuk revolusi secara keseluruhan. Dengan perluasannya, klarifikasi dan intensifikasi perjuangan politik, perjuangan ekonomi bukan hanya tidak surut, bahkan sebaliknya berkembang luas sekaligus menjadi lebih terorganisir dan lebih intensif. Ada pengaruh timbal-balik antara kedua macam perjuangan itu.
Setiap serangan dan kemenangan baru dalam perjuangan politik akan berdampak secara dahsyat kepada perjuangan ekonomi, karena dengan meluasnya cakrawala kaum buruh serta motivasi mereka untuk memperbaiki kondisi mereka, pengalaman tersebut juga mempertinggi semangat tempur mereka. Setiap selesai gelombang aksi politik, ada endapan subur, dari situ akan muncul ribuan perjuangan ekonomi, dan sebaliknya.
Puncak pemogokan massa adalah “pemberontakan terbuka, yang hanya akan terrealisir sebagai titik kulminasi dari serangkaian pemberontakan lokal yang mempersiapkan medan (yang hasilnya selama beberapa waktu mungkin adalah kekalahan sementara, sehingga aksi tersebut mungkin tampaknya ‘gegabah’).” Betapa hebatnya peningkatan kesadaran kelas yang dapat dihasilkan oleh pemogokan-pemogokan massa ini:
Yang paling berharga (karena paling abadi) dalam naik turunnya arus gelombang revolusi, adalah perkembangan jiwa kaum proletar. Keuntungan yang didapat oleh lompatan intelektual yang tinggi kaum proletar akan menjamin kemajuan mereka secara terus menerus dalam perjuangan politik dan ekonomi yang akan datang.
***
Rosa Luxemburg juga berdebat dengan sesama orang revolusioner, dan tidak jarang berbeda pendapat dengan Lenin, karena keadaan di Rusia amat berlainan dengan kondisi di Jerman waktu itu, sehingga kaum Bolsyevik mengembangkan stategi dan taktik yang berbeda pula.
Kita sudah mencatat bahwa Rosa selalu melawan unsur-unsur nasionalis dalam gerakan kiri Polandia. Waktu itu sebagian dari wilayah Polanda dikuasai oleh Rusia. Pada dasarnya Lenin setuju bahwa semua nasionalisme harus dilawan. Namun Lenin melihat masalah itu dari sudut pandangan seorang warga Rusia, yaitu seorang warga dari bangsa penindas, dan dia berusaha menyadarkan kaum buruh Rusia yang mesti menjamin hak rakyat Polandia untuk merdeka. Hanya dengan menjamin hak ini kaum buruh Rusia bisa ikut membantu dalam mengatasi nasionalisme di Polandia, karena nasionalisme muncul sebagai akibat dari penindasan yang dilakukan oleh administrasi Rusia.
Luxemburg menganggap sikap Lenin ini sebai kompromi dengan nasionalisme. Perdebatannya kompleks, karena sebetulnya Rosa Luxemburg juga ingin menjamin hak tersebut untuk sejumlah bangsa tertindas lainnya. Pada dasarnya pendekatan Lenin harus dinilai lebih benar karena lebih dialektis. Dia menyimak perjuangan nasional dan perjuangan kelas dari dua sisi: “Kami orang Rusia harus menekankan hak rakyat Polandia untuk merdeka, sedangkan kawan-kawan Poland harus menekankan hak mereka untuk bersatu dengan kami.”
Rosa Luxemburg juga mengecam sepak terjang kaum Bolsyevik setelah mereka mengambil alih kekuasaan. Kritik ini, dalam sebuah naskah yang ditemukan setelah dia meninggal dunia, terkadang disalahartikan. Rosa dengan antusias mendukung revolusi Oktober yang dilakukan oleh Partai Bolsyevik: “Pemberontakan Oktober tidak hanya menyelamatkan Revolusi Rusia dalam kenyataan, tetapi juga menyelamatkan nama baik gerakan sosialis internasional … masa depan kita di mana-mana diperjuangkan oleh kaum Bolsyevik.”
Meski demikian, Luxemburg memunculkan empat masalah. Dalam hal reform agraria dia mencatat bahwa pembagian tanah oleh kaum tani akan menimbulkan kecenderungan kapitalisme di pedesaan. Dan di sini dia benar; tetapi Lenin dan Trotsky tidak memiliki jalan lain selain menyambut tuntutan kaum tani untuk membagi-bagi tanah — karena kaum tani adalah mayoritas rakyat Rusia, dan revolusi Oktober tidak mungkin berjaya tanpa dukungan mereka.
Rosa juga mengecam kebijakan Bolsyevik untuk menjamin hak setiap bangsa minoritas dalam bekas kekaisaran Rusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Di sini kita melihat dengan jelas keunggulan pendekatan Lenin. Seandainya pemerintahan Bolsyevik menolak hak ini, pihak kontra-revolusi bisa mengambil hati semua bangsa tertindas itu.
Kritiknya yang ketiga menyangkut soal demokrasi. Sebelum Oktober, kaum Bolsyevik menuntut agar majelis konstituante (yang mewakili rakyat dengan cara parlementaris borjuis) mesti dipanggil. Setelah insureksi Oktober, ketika soviet-soviet (dewan-dewan utusan buruh, tentara dan petani) mengambil alih kekuasaan, pihak Bolsyevik tidak lagi mendukung majelis konstituante yang didominasi oleh pihak reformis dan borjuis itu.
Ketika majelis itu akhirnya berkumpul, malah dibubarkan oleh kaum Bolsyevik. Menurut Rosa Luxemburg tindakan ini tidak demokratik Tapi yang harus dimengerti di sini adalah perbedaan antara demokrasi borjuis dan demokrasi buruh (sosialis). Dalam prinsip, soviet-soviet adalah lebih unggul karena berdasarkan kaum buruh yang memilih wakil-wakil mereka di tempat kerja. Dalam kenyataan, soviet-soviet merupakan kekuasaan kelas buruh, sedangkan majelis konstituante dikuasai oleh pihak kontrarevolusi. Jika kaum Bolsyevik mau mempertahankan kekuasaan kelas buruh, mau tidak mau majelis konstituante harus dibubarkan.
Namun Rosa Luxemburg tidak seratus persen salah. Bagaimanapun juga, posisi Partai Bolsyevik dan kelas buruh sebagai minoritas dalam masyarakat Rusia sebenarnya tidak bisa bertahan tanpa dukungan yang lebih luas. Namun kelas petani tidak akan mendukung program sosialis dalam jangka panjang. Untuk bertahan, revolusi Rusia harus meluas ke negeri-negeri lain, terutama ke Jerman di mana kelas buruh dan gerakan sosialis begitu kuat.
****
Dan revolusi Rusia memang sangat berdampak di Jerman setelah tahun-tahun perang yang mengerikan. Kaum buruh dan para prajurit kecil semakin tidak puas sampai pemberontakan-pemberontakan pada tahun 1918 menumbangkan Kaiser Jerman. Sayap kiri dari Partai Sosial Demokrat sekarang tampil sebagai kelompok independen dengan nama “Liga Spartakus”, di bawah kepemimpinan Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht. (Spartakus adalah seorang budak yang memberontak pada zaman Roma kuno; Liebknecht adalah satu-satunya anggota parlemen Jerman yang melawan Perang Dunia I semenjak awal.)
Kelompok Spartakus berusaha mendirikan partai tipe Bolsyevik di Jerman. Sayangnya mereka mulai terlambat. Kebanyakan kaum Spartakus, dan unsur-unsur revolusioner lainnya, kurang pengalaman dan organisasi mereka terlalu lemah. Mereka dihancurkan. Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht dibunuh oleh militer — atas perintah menteri-menteri sosial demokrat yang sudah berkompromi dengan pihak kapitalis.
Cukup jelas bahwa salah satu kesalahan terbesar Rosa adalah ketidakbersediaannya untuk membangun sebuah partai tipe Bolsyevik beberapa tahun terlebih dahulu. Namun kita tidak boleh membandingkan Lenin dan Luxemburg begitu saja. Lenin mengembangkan sebuah partai tipe baru karena harus menghadapi kondisi baru di Rusia. Sebelum tahun 1914 dia tidak pernah menuntut agar Rosa keluar dari Partai Sosial Demokrat Jerman. Malah Lenin lebih percaya pada para pimpinan partai itu. Baru ketika perang dunia meledak, dan para pimpinan sosial demokrat mengkianati kelas buruh dengan mendukung perang tersebut, Lenin akhirnya mengakui: “Rosa Luxemburg terbukti benar: sudah jauh-jauh hari dia sadar bahwa Kautsky adalah seorang teoretisi oportunis.”
Maka kita tidak boleh mempertentangkan Lenin dan Luxemburg, seperti juga kita tidak boleh mempertentangkan Lenin dan Trotsky. Mereka bertiga harus dikaji bersama, sebagai kawan seperjuangan dan tokoh terkemuka dalam sejarah gerakan revolusioner.

Tidak ada komentar: