Senin, 22 Februari 2010

Senjata Portabel Penghancur Pesawat Terbang

Akhir abad ini rupanya sudah menjadi trend persenjataan penghadang pesawat makin ringkas saja. Bisa jadi hal ini akibat pergeseran strategi serangan udara yang semula dilakukan dari ketinggian tinggi menjadi ketinggian rendah. Rudal-rudal letal ini mudah ditemui di pasar gelap.
elama berlangsungnya perang dingin (Cold War), Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba menciptakan pembom strategis yang mampu menembus kota-kota besar di kedua negara itu. Pembom semacam B-52 Stratofortrees dan M-4 Bison harus mampu terbang tinggi antar benua dengan menggotong senjata pamungkas (SRAM - Short Range Attack Missiles). Dengan cara ini rudal-rudal anti pesawat yang ada waktu itu tidak bisa menjangkaunya.

Strategi ini ternyata mulai runtuh setelah jatuhnya U-2 Dragon Lady-nya Francis Gary Powers oleh unit rudal darat ke udara Uni Soviet. Belum lagi dengan pengalaman-pengalaman AU-AS semasa Perang Vietnam. Strategi serangan udara-pun bergeser menggunakan pesawat tempur berkecepatan supersonik dan mampu terbang rendah mengikuti permukaan bumi (NOE-Nap On Earth). Serangan dadakan untuk mengelabui radar utama lawan.

Perubahan strategi ini tak pelak membutuhkan penangkis serangan udara yang harus disesuaikan. Angkatan bersenjata perlu memiliki rudal penghadang pesawat yang terbang rendah dengan tingkat mobilitas tinggi tanpa perangkat yang rumit atau lebih dikenal sebagai hanud (pertahanan udara) titik .
Payung udara

Sistem pertahanan udara yang dibangun AB Mesir saat Perang Arab-Israel (1967/1973) boleh dibilang sempurna. Kala itu Mesir dan Suriah menciptakan ruang udara yang sama sekali sulit ditembus oleh penempur-penempur AU Israel. Kedua negara Arab itu dengan bantuan ahli-ahli Uni-Soviet membangun “payung udara” (air umbrella) dengan rudal-rudal anti pesawat SA-2 Guideline, SA-3 Goa, SA-7 Strela dan kanon anti serangan udara kaliber 23 mm ZSU-23/4 Shilka.

Pada fase pertama, pilot-pilot Israel kewalahan menghadapi kombinasi ini. Lepas dari sergapan Guideline yang berjarak jangkau 50 kilometer masih harus “berurusan” dengan Goa yang mengunci pada jarak 30 kilometer. Kalau terbang lebih rendah, Strela yang berjarak jangkau 10 kilometer dan Shilka siap memangsa. Tapi rupanya pilot-pilot negeri Yahudi ini cukup jeli melihat kelemahan dari strategi ini. Sistem ini terlalu lambat mobilitasnya untuk melindungi gerak maju pasukan darat Mesir. Apalagi setelah beberapa baterai Guideline jatuh ke tangan pasukan darat Israel.

Mesir pun buru-buru menutupi kelemahan ini. Pertama-tama adalah mengubah strategi penembakan rudal. Guideline yang sudah dikenal karakteristiknya oleh Israel diluncurkan sebagai umpan. Sedangkan Goa ditembakkan untuk membokong armada Phantom dan Skyhawk Israel. Menutupi kelemahan mobilitas, Mesir mendatangkan rudal SA-6 Gainful dari Uni-Soviet. Sistem pertahanan udara yang pada waktu itu sama sekali baru. Setiap unit sebanyak tiga rudal siap tembak ditempatkan diatas kendaraan beroda rantai dan mampu mengejar sasaran hingga 60 kilometer. Sedangkan Strela tetap digunakan untuk melengkapi infanteri Mesir karena mobilitas yang tinggi dengan kemampuan cukup mumpuni. Apalagi setelah Fan song (radar pengarah SA-2) dan Flat face (radar pengarah SA-3) dengan mudahnya dihantam oleh bom-bom pintar. Mau tak mau Mesir hanya mengandalkan Strela.
Jinjingan infanteri

Stinger Laku keras di pasar gelap

Sejauh ini telah diproduksi sejumlah rudal jinjingan. Diantaranya adalah:
Mistral, merupakan rudal anti pesawat generasi akhir bikinan Aerospatiale-Matra, Perancis. Sistem ini memang belum pernah teruji di medan tempur sesungguhnya (combat proven). Tapi dari hasil uji-coba pada tahun 1989 dengan target drone CT-20, C-22, Banshee, dan Chukar, 93 persen berhasil mengenai sasarannya. Saat ini sekitar 14 negara memilikinya, termasuk Singapura, Taiwan dan Korsel. Indonesia pun juga tengah mengincar rudal ini untuk menambah kekuatan pertahanan udara titiknya Paskhasau. Dengan berat sekitar 20 kilogram, rudal ini mampu melesat hingga Mach 2,5 dengan jarak jangkau sampai enam kilometer.

Lantaran sistem kendali menggunakan infra merah yang sangat sensitif, memungkinkan pengendali menggunakan sistem tembak dan lupakan (fire and forget). Selain hanya membutuhkan dua orang untuk mengoperasikannya, rudal ini tak memerlukan perawatan khusus saat disimpan maupun sesaat sebelum peluncuran. Selain dioperasikan mandiri, beberapa unit Mistral bisa juga digabungkan dalam satu jaringan pertahanan (Mistral Coordination Post). Dengan bantuan radar, yang mampu mendeteksi musuh dari jarak 40 kilometer.

Stinger, boleh dibilang rudal panggul dengan kode FIM-92 ini lebih populer dibanding rekan-rekan sekelasnya. Akibat rudal dengan berat 16 kilogram yang terkenal ganas ini juga beredar bebas dipasaran gelap. Dirancang Hughes Missiles AS, sedang produksi massal diserahkan kepada General Dynamics/Raytheon Corp. Rudal ini merupakan generasi penerus dari Red Eye, mulai digunakan tahun 1982. Red Eye sendiri dibuat atas permintaan marinir AS pada tahun 60-an.

Generasi terakhir rudal berjarak jangkau delapan kilometer ini terdiri dari dua jenis. Masing-masing Stinger-RMP Blok 1 dan Blok 2. Pada Blok 1 sistem pemroses data ditingkatkan kemampuannya dan pensuplai tenaga (baterai-red) menggunakan lithium. Sedangkan pada Blok 2 yang ditingkatkan adalah hardware dan software, sensor, serta teropong bidik. Sampai saat ini sekitar 10.000 Blok 1 dimiliki AB AS, dan tetap dipertahankan sampai tahun 2014. Sekitar 9.500 Blok 2 baru mulai diproduksi tahun 2004.

Javelin,rudal panggul anti pesawat bikinan British Aerospace, Inggris ini merupakan generasi penerus Blowpipe. Pengalaman tempurnya lumayan banyak, sebut saja konflik Falkland (1982), dan operasi gurun (1990). Berbeda dengan rudal dikelasnya yang mengandalkan penuntun infra merah, Javelin menggunakan sistem penuntun laser. Selain itu juga dilengkapi monitor yang memungkinkan penembak mengontrol rudalnya sampai ke sasaran. Dengan demikian rudal ini tidak bisa “di tipu” dengan chaff dan flares.

Kelebihan lain dari rudal berbobot 38 kilogram ini adalah pada komputer canggih yang bekerja otomatis apabila selama 23 detik penembak belum berhasil mengunci sasarannya. Ada dua jenis rudal yang ditembakkannya, yaitu standar (KA 106) dan versi canggihnya (KA 140). Pada jenis terakhir, apabila rudal meleset dari sasaran, hulu ledak secara otomatis akan meledak pada jarak yang paling dekat dengan sasaran. Pecahan-pecahan rudal berjarak jangkau empat sampai lima kilometer ini akan merusak pesawat lawan. Lantaran sasaran harus terus dimonitor, sistem rudal ini rentan terhadap serangan pasukan darat lawan.

SA-7 Strela / SA-14 Gremlin, saingan berat Stinger ini bikinan Russia lantaran populasinya yang lumayan banyak, termasuk TNI-AL. Pengalaman tempurnya juga mumpuni. Terlibat dalam Perang Arab-Israel, Vietnam, Angola, Libanon. Dalam perang Yom Kippur hampir separuh dari Skyhawk AU Israel yang tersengat rudal yang berjarak jangkau 10 kilometer ini mampu kembali ke pangkalannya. Sistem pembakar sesaat (short burnt booster), digunakan meluncurkannya dari tabung. Selain membahayakan penembak, sistem ini juga membatasi sudut tembak. Kelemahan lain adalah Strela harus benar-benar diarahkan ke saluran buang (exhaust nozzle) pesawat atau helikopter sasaran.

Versi terbaru dari Strela adalah SA-14 Gremlin. Bentuknya sama dengan pendahulunya. Perubahan yang mencolok adalah pada sistem penjejak yang lebih sensitif. Keuntungannya rudal ini bisa ditembakkan dari sudut yang lebih lebar. Hulu ledak yang dibawanya juga dua kali lebih besar dari pendahulunya. Kelebihan berat ini diantisipasi dengan penggunaan perangkat yang lebih ringan dan roket pendorong berbahan bakar padat. Akibatnya rudal yang pertama dikenal tahun 1978 ini memiliki jarak jangkau lebih pendek, yaitu 4,5 kilometer.
Terlihat lebih dulu

SA-7 Grail Andalan dari Rusia

Dibalik keunggulan mobilitasnya yang tinggi, ternyata rudal panggul anti pesawat ini punya kelemahan juga. Kelemahan ini terungkap saat latihan perang-perangan yang biasa dilakukan oleh AB AS. Stinger tak berdaya saat berhadapan dengan helikopter/pesawat yang dilengkapi FLIR (Forward Looking Infra Red-sistem penjejak infra merah). Perangkat ini akan menandai Tim peluncur Stinger dari jarak jauh, sebelum sampai pada jarak tembak. Hal yang pernah diterapkan AS saat operasi militer di Panama. Saat itu Heli-heli tempur AH-64 Apache AD AS yang dilengkapi FLIR menghantam sarang-sarang ZSU-23, sebelum masuk jarak tembaknya.

Menutupi kelemahan yang ada maka setiap tim Stinger ini dilengkapi dengan kamuflase anti FLIR. Perangkat pelindung ini berupa jubah terbuat dari bahan Mylar yang menutupi perangkat peluncur dan personilnya. Mylar ini disinyalir dapat membalikkan panas yang dipancarkan oleh perangkat FLIR. Selain dengan jubah ini tim Stinger bisa saja mengaktifkan rudal setelah sasaran melewati posisinya.

Sebenarnya rudal-rudal jinjing ini bukan digunakan untuk menghancurkan pesawat terbang di udara. Keampuhan senjata ini lebih dititik-beratkan untuk merusak pesawat penyerang. Sehingga penyerang tidak jadi menjatuhkan bom kesasarannya. Pada pesawat tempur bermesin ganda (F-5, F-4, F-14), kemungkinan dapat selamat kembali ke pangkalan setelah tersengat rudal jinjing ini lebih besar. Umumnya rudal ini hanya merusak salah satu saluran buang pesawat. Hal ini tidak berlaku bagi helikopter yang terbang lebih lambat dan rentan terhadap tembakan dari darat.
Kena batunya

Boleh jadi AS-lah yang kena batunya oleh rudal anti pesawat gaya tentengan ini. Selama konflik di Afghanistan negeri adi daya ini membantu kaum Mujahidin dengan 900 Stinger. Tentu saja dengan jalan tidak resmi melalui Pakistan. Tapi setelah konflik ini berakhir beberapa ratus stinger masih tersisa. Rudal-rudal ini rupanya diperjual-belikan di pasar gelap. Tak kurang Iran yang masuk dalam daftar embargo senjata AS mendapatkannya. Negeri Ayatullah ini memasangnya pada kapal-kapal patroli cepatnya. Beberapa diantaranya pada tahun 1987 ditembakkan ke heli-heli AL Amerika.

Bagai kebakaran jenggot AS berusaha menjaring stinger-stingernya dari pasaran gelap. Tak tanggung-tanggung 100 ribu dollar AS ditawarkannya untuk setiap stinger. Harga yang nilainya empat kali dari harga resmi yang hanya 23 ribu dollar AS. Cara ini rupanya malah meningkatkan harga stinger dipasaran gelap. Semula yang berharga 50 ribu sampai 80 ribu dollar AS, tiba-tiba melonjak menjadi 208 ribu dollar AS sebuahnya. Sebenarnya bukan cuma itu saja Stinger ini sampai diluar AS. Sebut saja 120 rudal jinjing ini disinyalir telah sampai ke tangan mafia obat bius Colombia melalui pasar gelap tahun 1990 untuk melawan heli pemerintah. Belum lagi pengiriman senjata sejenis dan bahan peledak C 4 ke pelabuhan Havana, Kuba pada tahun 1994.

Cina daratan yang sekarang adalah seteru dari AS sendiri sudah merasakan manfaat dari pasar bebas Stinger. Beijing berhasil mendapatkan teknologi ini dari perusahaan AS, Vector Microwave Research Corporation. Tentu saja dengan bantuan dinas rahasia AS (CIA) dan DIA (Defence Intelligence Agency). Akibatnya bisa diterka, versi Cina dari Stinger ini segera muncul dengan nama QW-1 Vanguard. Negeri tirai bambu ini pun menjualnya secara legal ke Pakistan dan Iran. Bahkan Pakistan akhirnya juga mengembangkan rudal sejenis didalam negeri dengan nama Anza Mk II.

Sebenarnya pasar gelap senjata sendiri merebak gara-gara dipicu oleh embargo senjata yang dilakukan AS sendiri. Negara-negara yang terkena dampak ini mau tak mau harus mencari dari sumber ini. Departemen Pertahanan AS mencatat, sekitar 25 pesawat dari penerbangan sipil jatuh gara-gara tersengat rudal Stinger atau sejenisnya. Rudal panggul yang dimiliki oleh pemberontak di berbagai pelosok dunia ini telah menewaskan kurang lebih 536 jiwa.

Tidak ada komentar: