Selasa, 02 Februari 2010

Soviet Air Force's Night Witches


http://forum.detik.com/showthread.php?t=120752

Pada tahun 1942, Uni Soviet yang sedang terdesak di front timur membentuk 3 resimen pilot tempur wanita yang terbang untuk melakukan harassment bombing pada malam hari. Mereka menerbangkan biplane Polikarpov Po-2 (yang terbilang kuno bahkan untuk saat itu) yang biasanya digunakan sebagai pesawat latih, dan hanya mampu membawa 2 buah bom yang berat totalnya kurang dari 1 ton. Tetapi para pilot-pilot wanita ini sunggu sukses dan mematikan sampai-sampai para tentara Jerman menakuti dan menyegani mereka, menjuluki mereka “Nachthexen” – The Night Witches atau Penyihir Malam dalam Bahasa Indonesia (beberapa sumber juga menyebutkan mereka dijuluki The Night Witches karena mereka semua adalah pilot wanita dan mereka melaksanakan misi mereka dalam kokpit pesawat Po-2 yang terbuat dari kayu pada malam hari).



The Flying Desk (Julukan Po-2)



The Night Witches itu adalah pilot-pilot wanita yang tergabung dalam 588th Night Bomber Regiment yang kemudian diubah namanya menjadi 46th Taman Guards Night Bomber Aviation Regiment, sebuah resimen pembom yang dibentuk atas usul dari Marina Raskova dan dipimpin oleh Yevdokia Bershanskaya. Sebagai catatan, semua mekanik dan bomb-loader dari resimen ini, juga dari 586th dan 587th Bomber Regiment, smuanya adalah wanita.


Marina Raskova


Begitu suksesnya para pilot-pilot wanita ini sampai-sampai 23 anggota mereka dianugrahi medali Hero of the Soviet Union dan berlusin-lusin Order of the Red Banner. 2 pilot pembom, Katya Ryabova dan Nadya Popova, menyerang markas Jerman sebanyak 18 kali dalam semalam. Pilot-pilot Po-2 melaksanakan lebih dari 24.000 sorti pemboman dan menjatuhkan total sekitar 23.000 ton bahan peledak. Kebanyakan dari mereka yang selamat dari perang dunia 2, pada tahun 1945 telah menjalani 1.000 misi setiap orangnya. Mereka bertugas dengan begitu berdedikasi dan professional sampai pada serbuan terakhir ke Berlin.



Resimen ke 588, seperti resimen pembom malam lainnya, pada umumnya berlatih Harassment Bombing. Harassment Bombing ini terdiri dari menyusup ke markas garis belakang musuh, depot suplai, dan lain lain, dimana musuh biasanya mencoba untuk beristirahat dari pertempuran-pertempuran hari demi hari yang melelahkan, kemudian membom mereka secara tiba-tiba. Target dari pemboman ini biasanya tidak begitu penting, tapi efek terror psikologis dan ketidak-amanan, dan ketidak-tenangan untuk tentara Jerman (juga sekutunya, yaitu tentara-tentara Rumania, Italia, dan Finlandia) terbukti sangat efektif.

Harassment Bombing sangat sulit dilakukan, apalagi dengan performa rendah biplane Po-2 (kecepatan tertingginya adalah 94 mil/jam atau 150 km/jam, bahkan kalah dari kebanyakan pesawat PD-1!) dan ke-rentan-an bodi yang terbuat dari kayu yang lebih mudah terbakar. Tapi para Night Witches sangat mengerti kendaraan mereka. Po-2 sangat lambat, tetapi juga sangat lincah dan mudah diajak bermanuver. Ketika Me-109 Luftwaffe mencoba untuk mencegat, pesawat Russia ini dapat berbelok dengan sangat mendadak dan sangat tajam pada kecepatan yang jauh dibawah batas minimum (stall-speed) kecepatan Me-109. Kalau sudah begini, Me-109 harus membuat putaran besar dan memulai dari awal. Kemudian lagi-lagi pilot-pilot Luftwaffe menghadapi taktik menghindar yang sama, dan ini terus berulang-ulang. Pilot-pilot yang lebih ahli terbang pada ketinggian yang sangat rendah, sampai hampir-hampir menyentuh tanah, bahkan cukup rendah sampai bisa bersembunyi dibalik semak-semak! Pesawat Jerman hanya bisa mencoba lagi dan lagi sampai akhirnya frustrasi dan akhirnya berhenti mencoba. Tidak heran, pilot-pilot Jerman diiming-imingi sebuah Iron Cross untuk menembak jatuh sebuah Po-2.

Catatan: Stall speed Me-109 model E,F,dan G yang dipakai di front timur mendekati 120 mil/jam atau 192 km/jam, jadi Me-109 tidak akan pernah menyamai kecepatan Po-2 karena pesawat Russia tersebut jauh lebih rendah daripada stall speed penempur Jerman tersebut. Penempur Jerman lainnya yang dipakai di front timur, Focke-Wulf FW-190A, juga mempunyai stall-speed yang tinggi, jadi efeknya sama untuk kedua pesawat ini.

Dalam melaksanakan misi pemboman, The Witches akan terbang sampai pada jarak tertentu dari targetnya, kemudian mematikan mesin pesawat. Mereka kemudian akan terbang laying (gliding) dengan senyap… Ketika tentara Fasis mendengar siulan angin dari Po-2, mereka dengan panik menyadari bahwa semuanya sudah terlambat. The Night Witches menyusup dan menjatuhkan bom mereka, kemudian menyalakan kembali mesin mereka, dan terbang pulang.

Po-2 juga sering lolos tanpa terdeteksi pada radar, karena sifat bahan permukaan kanvas yang lembut menyerap radar, dan karena pada kenyataannya mereka terbang sangat rendah mendekati ground-level. Pesawat-pesawat Jerman yang dilengkapi dengan penjejak Inframerah juga tidak akan melihat sedikit panas yang dihasilkan oleh mesin kecil yang berkekuatan hanya 110 tenaga kuda.

Lampu pencari (searchlights), adalah cerita lain. Pasukan Jerman di Stalingrad mengembangkan teknik apa yang disebut orang Russia sebagai “flak circus”. Pada malam hari, mereka akan mengeluarkan flak-gun yang pada siang hari disembunyikan, dan menyusun meriam-meriam itu terkonsentrasi pada tempat-tempat yang mungkin menjadi target berikutnya. Hal yang sama juga berlaku pada penyusunan lampu pencari. Po-2 yang terbang berpasangan yang terbang lurus menerobos perimeter (ciri-ciri pilot Russia yang tidak berpengalaman tapi berdeterminasi) biasanya langsung dilahap oleh tembakan meriam Flak 37. Tetapi, resimen 588 mengembangkan taktik yang berbeda. Mereka terbang dengan formasi 3 pesawat. 2 pesawat akann maju duluan, menarik perhatian lampu dan meriam Jerman, dan ketika semuanya sudah mengarah ke 2 pesawat tersebut, kedua Po-2 tersebut tiba-tiba berpisah dengan terbang kearah yang berlawanan dan melakukan maneuver-maneuver ekstrim untuk mencoba meloloskan diri. Lampu-lampu dan tembakan meriam akan mengikuti arah terbang mereka, sedangkan pesawat ke 3 yang agak jauh dibelakang menyusup ke daerah yang tidak tercover lampu dan meriam yang sedang sibuk menembaki 2 rekannya, dan kemudian menjatuhkan bom tanpa ada yang bisa mencegah. Kemudian semua Po-2 akan terbang keluar, berkumpul kembali, kemudian bertukar tempat sampai semua Po-2 menjatuhkan muatannya. Jelas butuh mental baja untuk jadi umpan dan dengan sengaja menarik tembakan meriam anti serangan udara, tetapi seperti yang dikatakan Nadya Popova salah satu pentolan 588th Regiment : “Cara ini efektif”.

www.geocities.com
http://mysite.pratt.edu/
www.wikipedia.org
__________________
Wenn Freiheit ist die Abkürzung von Waffen, wir müssen, mit Willenskraft.
-Adolf Hitler-

Tidak ada komentar: