Senin, 22 Februari 2010

Sukhoi Su-27


Sukhoi Su-27, yang dijuluki Flanker oleh NATO, adalah sebuah pesawat tempur generasi ketiga Uni Soviet. pesawat ini dibuat untuk menyaingi AS yang barusan membuat pesawat tempur juga, seperti F-14 Tomcat, F-15 Eagle, dan F-16 Fighting Falcon. Su-27 memiliki jarak jangkau yang jauh, persenjataan yang berat, dan kelincahan yang tinggi. hal ini karena Su-27 dirancang sebagai pesawat interseptor dan pesawat tempur superioritas udara jarak jauh. maka dari itu pula, bentuk badan Su-27 agak besar, terutama jika dibandingkan dengan pesawat2 tempur NATO.





pada tahun 1969, Uni Soviet mendapatkan informasi bahwa Angkatan Udara Amerika Serikat telah memilih McDonnell Douglas untuk memproduksi rancangan pesawat tempur eksperimental (yang akan berevolusi menjadi F-15). Untuk menghadapi ancaman masa depan ini, Uni Soviet memulai program PFI (Perspektivnyi Frontovoy Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir") yang direncanakan menghasilkan pesawat yang bisa menyaingi hasil rancangan Amerika Serikat.


Namun, spesifikasi yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat-syarat program ini pada satu pesawat saja ternyata terlalu rumit dan mahal. Maka program ini dibagi menjadi dua, yaitu TPFI (Tyazholyi Perspektivnyi Frontovoi Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir berat") and the LPFI (Legkiy Perspektivnyi Frontovoi Istrebitel, "pesawat tempur taktis mutakhir ringan"). Langkah ini juga mirip apa yang dilakukan Amerika Serikat, dimana Amerika Serikat memulai program "Lightweight Fighter" yang nantinya akan menghasilkan F-16. Sukhoi OKB diberikan program TPFI.


tapi program itu tidak langsung menjadi Su-27, melainkan sebuah pesawat sayap delta T-10, yang kemudian dikembangkan menjadi T-10 S. namun keduanya tidak terlalu sukses, keduanya jatuh dalam penerbangan percobaan. versi Su 27 dan Su 27s baru digunakan oleh AU Soviet pada tahun 1984, tetapi baru dipakai menyeluruh tahun 1986, karena sempat terhambat oleh masalah produksi. Pesawat ini dipakai oleh Pertahanan Anti Udara Soviet (Voyska PVO) dan Angkatan Udara Soviet (VVS). Pemakaiannya di V-PVO adalah sebagai interseptor, menggantikan Sukhoi Su-15 and Tupolev Tu-28. Dan pemakaiannya di VVS lebih difokuskan kepada interdiksi udara, dengan tugas menyerang pesawat bahan bakar dan AWACS, yang dianggap sebagai aset penting angkatan udara NATO.


Su-27 adalah pesawat operasional pertama Uni Soviet yang menggunakan sistem kontrol penerbangan fly by wire , dikembangkan berdasarkan pengalaman Sukhoi OKB pada proyek Pengebom Sukhoi T-4. Sistem ini dikombinasi dengan beban saya yang relatif rendah dan kontrol penerbangan dasar yang kuat , maka menghasilkan pesawat yang luar biasa lincah, tetap mudah dikontrol walaupun pada kecepatan sanagat rendah dan susut serang tinggi. Pada pameran dirgantara , pesawat ini mampu mendemonstrasikan kemampuan manuvernya dengan aksi "patukan kobra" (Cobra Pugachev) atau pengereman dinamis - mempertahankan level penerbangan pada sudut serang 120°. Pengarah semburan jet juga sudah di uji coba dan sudah diterapkan pada model-model akhir yaitu Su-30MKI dan Su-37, memungkinkan pesawat untuk berbalik tajam dengan radius putar hampir nol, menggunakan teknik somersault vertikal ke gerakan pelurusan kembali dan mengambang terbatas dengan hidung pesawat menghadap keatas.


Versi laut dari Flanker (lebih dikenal dengan nama Su-33), menggunakan kanard untuk daya angkat tambahan, mengurangi jarak lepas landas (sangat penting untuk kapal yang beroperasi dari kapal induk tanpa sistem ketapel , Admiral Kuznetsov ). Kanard ini juga digunakan pada beberapa Su-30, Su-35, dan Su-37.



Karakteristik Pesawat:
Tipe : Pesawat tempur superioritas udara (Su-27 Flanker-B)

Produsen : Sukhoi

Pertama terbang : 20 Mei 1977

Diperkenalkan : Desember 1984

Status : aktif

Pemakai : Rusia, Aljazair, Angola, Belarusia, China, Eritrea, Ethiopia, India, Indonesia, Kazakhstan, Malaysia, Ukraina, Uzbekistan, Venezuela, Vietnam

Jumlah dibuat : 680

Harga satuan : US$35 juta

Varian : Su-30, Su-33, Su-34, Su-35, Su-37, J-11(versi buatan RRC)
Kru: Satu

Panjang: 21,9 m (72 ft)

Lebar sayap: 14,7 m (48 ft 3 in)

Leading edge sweep: 42°)

Tinggi: 5,93 m (19 ft 6 in)

Area sayap: 62 m² (667 ft²)

Berat kosong: 16.380 kg (36.100 lb)

Berat terisi: 23.000 kg (50.690 lb)

Berat maksimum lepas landas: 33.000 kg (62.400 lb)

Mesin: 2× Lyulka AL-31F turbofan, 122,8 kN (27.600 lbf) masing-masing


Performa

Kecepatan maksimum: 2.500 km/jam (1.550 mph Mach 2.35)

Jarak jangkau: 1.340 km pada ketinggian air laut, 3.530 km pada ketinggian tinggi (800 mi pada ketinggian air laut, 2070 mi pada ketinggian tinggi)

Atap servis: 18.500 m (60.700 ft)

Tingkat panjat: 325 m/s (64.000 ft/min)

Beban sayap: 371 kg/m² (76 lb/ft²')

Dorongan/berat: 1,085

Persenjataan1 x meriam GSh-30-1 30 mm, 150 butir peluru 8.000 kg (17.600 lb) pada 10 titik eksternal 6 R-27, 4 R-73

Su-27 SM dapat menggunakan R-77 menggantikan R-27

Su-27 IB dapat menggunakan peluru kendali anti-radiasi X-31, peluru kendali udara ke darat X-29L/T, serta bom KAB-150 dan UAB-500.



sementara itu, Indonesia juga telah memiliki sejumlah pesawat tempur tangguh ini. sebanyak 6 unit yang terdiri dari type Su-27SK berpenumpang tunggal dan dua Su-30MK berpenumpang ganda kini disiagakan di Pangkalan Udara Hasanuddin, Makassar. namun sayang, karena penggunaan pesawat tempur ini masih kurang maksimal. hal ini selain dikarenakan masih sedikitnya jumlah pesawat dan belum dipersenjatai. selain itu juga terhambat oleh sistem avionik Indonesia yang masih menggunakan radar buatan Pak Lik Sam, yang notabene telah diset untuk secara otomatis melacak dan mengunci pesawat2 buatan blok timur. dengan begitu, jika sukhoi itu diterbangkan, maka akan terbaca sebagai pesawat musuh, sehingga dikhawatirkan akan tertembak oleh teman sendiri.


untuk mengatasinya, maka harus mengeset ulang sistem avionik tersebut. namun ini juga bukan perkara gampang, karena radar indonesia jumlahnya tidak sedikit dan harganya lumayan mahal juga sih. sehingga akan memakan biaya yang tidak sedikit untuk mengganti sistem avioniknya saja. belum termasuk sarana dan prasarana pendukungnya.

Tidak ada komentar: